Rekomendasi International Air Transport Association (IATA) mengenai fitness to fly (kelayakan penerbangan) pada bayi menyatakan bahwa neonatus sehat usia di atas 48 hari dapat terbang tanpa pemeriksaan, tetapi sebaiknya menunggu hingga 7 hari. Anak dapat terbang tanpa pemeriksaan, kecuali jika memiliki risiko hipoksia, misalnya terkena penyakit respiratori akut atau kronis, anemia, penyakit jantung, atau penyakit neuromuskular.
Pesawat terbang komersial biasanya melakukan penerbangan pada 9150 hingga 13000 meter di atas permukaan laut dan dilakukan penyesuaian tekanan dalam kabin pada ketinggian 1530 hingga 2440 meter di atas permukaan laut. Pada kondisi ini, terjadi penurunan tekanan parsial oksigen mencapai 85% dari fraksi oksigen pada permukaan laut.[1]
Penurunan fraksi oksigen ini pada anak menyebabkan penurunan penurunan saturasi oksigen dari 98% menjadi 94-95% selama penerbangan. Penurunan saturasi oksigen ini tidak menyebabkan gejala klinis pada anak normal, tetapi pada anak dengan kondisi gangguan respiratori, hal ini dapat menjadi sebuah masalah.[2,3]
(Konten ini khusus untuk dokter. Registrasi untuk baca selengkapnya)
Referensi
1. Samuels MP. The effects of flight and altitude. Arch Dis Child. 2004;89:448–55.
2. Udomittipong K, Stick SM, Verheggen M, Oostryck J, Sly PD, Hall GL. Pre-flight testing of preterm infants with neonatal lung disease: a retrospective review. Thorax. 2006;61:343–347. DOI: 10.1136/thx.2005.048769
3. Schierholz E. Flight Physiology Science of Air Travel With Neonatal Transport Considerations. Advances in Neonatal Care. 2010;10(4):196-199. DOI: 10.1097/ANC.0b013e3181e94709
4. Zhao J, Gonzalez F, Mu D. Apnea of prematurity: from cause to treatment. Eur J Pediatr. 2011;170(9):1097–1105. DOI: 10.1007/s00431-011-1409-6.
5. Vetter-Laracy S, Osona B, Peña-Zarza JA, Gil JA, Figuerola J. Hypoxia challenge testing in neonates for fitness to fly. Pediatrics. 2016;137(3):e20152915. DOI: 10.1542/peds.2015-2915.
6. Ahmedzai S, Balfour-Lynn IM, Bewick T, Buchdahl R, Coker RK, Cummin AR, et al. Managing passengers with stable respiratory disease planning air travel: British Thoracic Society recommendations. Thorax. 2011;66(suppl 1):i1–30. DOI: 10.1136/thoraxjnl-2011-200295.
7. World Health Organization. Travellers with medical conditions or special needs. Dapat diakses pada: http://www.who.int/ith/mode_of_travel/travellers/en/
8. The International Air Transport Association (IATA). Medical Manual. Edisi 10. 2018.
9. Lee AP, Yamamoto LG, Relles NL. Commercial airline travel decreases oxygen saturation in children. Pediatr Emerg Care. 2002:18(2);78-80.
10. Israels J, Nagelkerke AF, Markhorst DG, Heerde MV. Fitness to fly in the paediatric population, how to assess and advice. Eur J Pediatr. 2018;1:1-7. DOI: 10.1007/s00431-018-3119-9.
11. Bossley C, Balfour-Lynn IM. Is This Baby Fit to Fly? Hypoxia in aeroplanes. Early Human Development. 2007;83:755–759. DOI: 10.1016/j.earlhumdev.2007.09.010
12. Vetter-Laracy S, Osona B, Pena-Zarza JA, Gil JA, Figuerola J. Hypoxia Challenge Testing in Neonates for Fitness to Fly. Pediatrics. 2016;137(3):e20152915. DOI: 10.1542/peds.2015-2915
13. Citilink. Dapat diakses pada: https://www.citilink.co.id/faq/di-bandara/apa-saja-syarat-penumpang-yang-sedang-hamil-supaya-tetap-bisa-terbang