Pedoman penanganan sindrom kompartemen akut dipublikasikan oleh American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) pada akhir tahun 2025. Pedoman ini merupakan pembaruan terhadap versi sebelumnya yang dipublikasikan pada tahun 2018, untuk mengintegrasikan bukti-bukti ilmiah yang lebih baru.
Perubahan mayor dalam pembaruan ini mencakup peningkatan kekuatan rekomendasi pada aspek penanganan fraktur serta penambahan bukti klinis baru mengenai metode fasiotomi dan efektivitas terapi luka tekanan negatif dalam manajemen luka pascaoperasi. Panel ahli juga berpendapat bahwa tercapainya dekompresi komplit lebih penting dibandingkan pemilihan teknik fasiotomi dikarenakan bukti terkait teknik yang lebih unggul masih belum adekuat.[1]
Table 1. Tentang Pedoman Klinis Ini
| Penyakit | Sindrom kompartemen akut pada dewasa |
| Tipe | Diagnosis dan penatalaksanaan |
| Yang Merumuskan | American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) |
| Tahun | 2025 |
| Negara Asal | Amerika Serikat |
| Dokter Sasaran | Dokter ortopedi, dokter bedah umum, dokter di layanan darurat |
Penentuan Tingkat Bukti
Komite penyusun pedoman ini terdiri dari ahli bedah trauma muskuloskeletal, ahli bedah militer, perawat critical care, metodologis, dan staf AAOS. Penentuan tingkat bukti dilakukan mulai dari identifikasi pertanyaan klinis, pencarian literatur, sintesis literatur, dan penilaian kualitas studi.
Komite hanya memasukkan literatur dengan kualitas tertinggi yang tersedia. Tingkat rekomendasi ditentukan berdasarkan pemungutan suara dengan melihat aspek populasi yang representatif, protokol yang jelas, penggunaan referensi yang standar, adanya penyamaran, dan potensi bias.
Rekomendasi diberi tingkatan, mulai dari rekomendasi kuat, sedang, terbatas, hingga konsensus. Setelah draf selesai, pedoman ini melalui proses peer review oleh pakar eksternal dan ada periode komentar publik sebelum akhirnya disetujui oleh Dewan Direksi AAOS.[1]
Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda
Pembaruan pedoman ini disusun dengan tidak mengubah ruang lingkup pertanyaan PICO awal dari versi 2018. Perubahan paling signifikan terdapat pada peningkatan kekuatan rekomendasi untuk manajemen associated fracture, yang ditingkatkan dari ‘Konsensus’ menjadi ‘Terbatas’ (limited) berdasarkan bukti baru yang mendukung fiksasi internal dini untuk stabilitas awal. Selain itu, pedoman ini memasukkan literatur baru yang diterbitkan antara tahun 2019 hingga 2024.[1]
Rekomendasi pada Ranah Diagnosis
Beberapa rekomendasi terkait diagnosis sindrom kompartemen akut menurut pedoman ini adalah:
- Penggunaan myoglobinuria dan kadar troponin serum dapat membantu mendiagnosis sindrom kompartemen akut pada pasien dengan trauma ekstremitas bawah
- Kadar laktat vena femoralis yang diambil selama prosedur embolektomi bedah dapat membantu diagnosis sindrom kompartemen akut pada pasien dengan iskemia vaskular akut
- Pada cedera listrik, pemeriksaan myoglobinuria tidak membantu dalam diagnosis
- Pemeriksaan biomarker serum tidak bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan fasiotomi pada kasus sindrom kompartemen yang sudah terlambat atau terlewat
- Pemantauan tekanan langsung di dalam kompartemen bisa membantu penegakan diagnosis
- Pemantauan tekanan intrakompartemen secara berulang atau kontinu, dengan menggunakan selisih tekanan darah diastolik dan tekanan intrakompartemen (DBP–ICP) >30 mmHg, dapat membantu menyingkirkan (rule out) sindrom kompartemen akut, tetapi bukan sebagai satu-satunya alat diagnosis.
Lebih lanjut, pedoman ini menyatakan bahwa temuan pemeriksaan klinis serial dapat digunakan untuk membantu memperkuat diagnosis (rule in) pada pasien yang sadar. Di lain pihak, pada pasien yang tidak dapat menjalani pemeriksaan klinis (misalnya tidak sadar), pengukuran tekanan intrakompartemen berulang atau kontinu perlu dilakukan hingga didiagnosis bisa ditegakkan atau disingkirkan.[1]
Rekomendasi Terkait Fasiotomi
Menurut panel ahli pada pedoman ini, teknik fasiotomi yang dilakukan (misalnya satu vs dua insisi) dianggap kurang penting dibandingkan keberhasilan mencapai dekompresi komplit pada seluruh kompartemen ekstremitas yang terkena.
Selain itu, pada kasus terlambat/terlewat (late/missed), fasiotomi tidak diindikasikan jika sudah terdapat bukti kerusakan jaringan (neuromuskular/vaskular) yang ireversibel. Stabilisasi fraktur pada kondisi ini harus menggunakan teknik yang mengganggu kompartemen, seperti fiksasi eksternal atau gips.[1]
Rekomendasi Manajemen Fraktur
Stabilisasi operatif awal, baik fiksasi internal maupun eksternal, direkomendasikan untuk fraktur tulang panjang yang disertai sindrom kompartemen akut yang memerlukan fasiotomi.[1]
Rekomendasi Manajemen Luka dan Nyeri
Pedoman ini merekomendasikan terapi luka tekanan negatif (negative pressure wound therapy/NPWT) untuk mengelola luka fasiotomi guna mengurangi waktu penutupan luka dan mengurangi kebutuhan prosedur cangkok kulit.
Pada pasien yang mengeluhkan nyeri hebat, pedoman ini menyampaikan bahwa anestesi neuraksial dapat menyamarkan atau mempersulit diagnosis klinis sindrom kompartemen akut. Oleh sebab itu, jika jenis anestesi ini diberikan, maka pemeriksaan fisik atau pemantauan tekanan harus tetap dilakukan secara ketat.[1]
Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia
Belum ada pedoman klinis penanganan sindrom kompartemen akut di Indonesia. Meski begitu, pada lingkup internasional, British Orthopaedic Association (BOA) mengeluarkan panduan praktik dalam penanganan sindrom kompartemen akut.
Tidak seperti panduan AAOS yang berbasis tinjauan sistematik untuk memberikan rekomendasi, BOA membuat panduan untuk digunakan sebagai standar praktik dan protokol rumah sakit. BOA merekomendasikan adanya pelatihan, standarisasi asesmen klinis, dan kemampuan mengukur tekanan intrakompartemen pada setiap rumah sakit.
Terkait panduan yang lebih teknis dalam penanganan sindrom kompartemen akut, BOA tidak secara mendalam membahas tentang biomarker. Perbedaan rekomendasi meliputi teknik fasiotomi, yang mana BOA merekomendasikan dekompresi dengan teknik dua insisi dan empat kompartemen, berbanding terbalik dengan AAOS yang tidak mendukung satu teknik fasiotomi tertentu.[2]
Kesimpulan
American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) mengeluarkan pembaruan pedoman sindrom kompartemen akut pada tahun 2025. Beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan dalam pedoman ini adalah:
- Biomarker, seperti myoglobinuria dan kadar troponin serum, dapat digunakan untuk membantu diagnosis sindrom kompartemen akut pada pasien dengan trauma ekstremitas bawah. Meski demikian, biomarker kurang bermanfaat pada kasus cedera listrik atau sindrom kompartemen akut yang terlewat atau terlambat (missed/late).
- Pengukuran tekanan intrakompartemen berulang atau kontinu, dengan menggunakan selisih tekanan diastolik dan tekanan intrakompartemen (DBP–ICP) di atas 30 mmHg, bisa dipakai untuk menyingkirkan (rule out) sindrom kompartemen akut, meskipun tidak digunakan sebagai alat diagnosis tunggal.
- Bukti yang ada belum cukup untuk mendukung satu teknik fasiotomi tertentu dibandingkan teknik yang lain. Atas dasar ini, panel ahli AAOS menganggap bahwa keberhasilan untuk mencapai dekompresi lebih penting.
