Pedoman WHO Tentang Penggunaan GLP-1 untuk Obesitas pada Dewasa – Ulasan Guideline Terkini

Oleh :
dr. Hendra Gunawan SpPD-KKV

WHO mengeluarkan pedoman tentang penggunaan agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1) untuk obesitas pada dewasa tahun 2025. Dalam pedoman ini, WHO menyatakan bahwa agonis reseptor GLP-1, seperti liraglutide dan semaglutide, dapat digunakan untuk terapi jangka panjang obesitas pada dewasa. Agonis reseptor GLP-1 digunakan dengan durasi ≥6 bulan.

Rekomendasi tersebut didasarkan pada uji klinis, yang mana terapi ini terbukti berdampak pada penurunan berat badan, perbaikan kualitas hidup, serta luaran kardiovaskular. Meski demikian, WHO menyatakan bahwa terapi farmakologis ini tidak berdiri sendiri, melainkan harus selalu dikombinasikan dengan intervensi gaya hidup sebagai fondasi utama, dan dibarengi pendekatan individualisasi serta pemantauan berkelanjutan.[1]

Pedoman WHO Tentang Penggunaan GLP-1 untuk Obesitas pada Dewasa

Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini

Penyakit Obesitas
Tipe Penatalaksanaan
Yang Merumuskan

World Health Organization (WHO)

Tahun 2025
Negara Asal Internasional
Dokter Sasaran Dokter Umum, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Gizi Klinik

Penentuan Tingkat Bukti

Penentuan tingkat bukti dalam pedoman ini dilakukan secara sistematis mengikuti metodologi GRADE. Bukti dikumpulkan melalui beberapa tinjauan sistematik yang berfokus pada efektivitas dan keamanan obat seperti liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide, dengan analisis utama berasal dari uji klinis acak (RCT).

Setiap luaran penting (misalnya penurunan berat badan, efek samping, dan kejadian kardiovaskular) dinilai tingkat kepastian buktinya menggunakan profil GRADE, yang dapat diturunkan berdasarkan risiko bias, inkonsistensi hasil, indirectness, dan potensi bias publikasi. Selain itu, untuk pertanyaan tertentu digunakan pendekatan tambahan seperti network meta-analysis dengan penilaian CINeMA.

Selain bukti kuantitatif, pedoman ini juga memasukkan bukti kualitatif melalui rapid qualitative evidence synthesis yang dinilai menggunakan GRADE-CERQual, untuk memahami aspek nilai pasien, preferensi, dan penerimaan terapi. Semua bukti tersebut kemudian dirangkum dalam kerangka GRADE Evidence-to-Decision, yang digunakan oleh panel ahli (Guideline Development Group) untuk menilai keseimbangan manfaat-risiko.

Berdasarkan semua ini, panel mencapai konsensus untuk menetapkan tingkat kepastian bukti (tinggi hingga sangat rendah) serta kekuatan rekomendasi (kuat atau kondisional).[1]

Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda

Menurut pedoman ini, agonis reseptor GLP-1, seperti liraglutide dan semaglutide, serta dual agonist GIP/GLP-1 seperti tirzepatide, dapat digunakan sebagai terapi jangka panjang pada dewasa dengan obesitas, dengan durasi penggunaan minimal 6 bulan. Terapi farmakologis ini tidak berdiri sendiri, melainkan harus selalu disertai dengan intervensi gaya hidup berupa diet sehat, aktivitas fisik, dan terapi perilaku sebagai fondasi utama.[1]

Rekomendasi Diagnosis Obesitas

Pada populasi dewasa, WHO telah mengkategorikan overweight dan obesitas berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Seorang individu dikatakan overweight jika IMT ≥25 kg/m2 dan dikatakan obesitas jika IMT ≥30 kg/m2.[1]

Rekomendasi Manajemen Obesitas dengan Agonis GLP-1

Agonis GLP-1 yang masuk dalam pedoman ini adalah liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide. Penggunaan obat-obatan tersebut dianjurkan diberikan selama 6-24 bulan dan diindikasikan pada pasien obesitas dengan IMT ≥30 kg/m2.

Berdasarkan bukti yang ditinjau oleh panel ahli, baik liraglutide, semaglutide, dan tirzepatide dapat menurunkan berat badan 5-10% lebih baik bila dibandingkan dengan plasebo dalam waktu <24 bulan. Selain berat badan, WHO juga melaporkan adanya peningkatan kualitas hidup dan parameter kardiovaskular.

Dalam melakukan manajemen obesitas, terapi tidak boleh mengandalkan agonis GLP-1, melainkan harus tetap menjadikan intervensi gaya hidup dan perilaku sebagai terapi utama. Jika ada indikasi yang jelas, maka pendekatan bedah dan farmakologi bisa dipakai, disertai dengan manajemen komorbiditas dan komplikasi. [1]

Intervensi Gaya Hidup Tetap Menjadi Manajemen Utama Obesitas

Terapi perilaku dan modifikasi gaya hidup masih direkomendasikan oleh WHO sebagai lini pertama sebelum pasien obesitas diberikan farmakoterapi. Intervensi gaya hidup dan perilaku harus diberikan sejak awal melalui konseling yang disesuaikan dengan konteks individu.

Konseling mencakup peningkatan aktivitas fisik dan perbaikan pola makan sehat, dengan prinsip mengurangi perilaku sedentari serta meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi aktivitas secara bertahap.

Dari sisi diet, pendekatan yang dianjurkan mengikuti prinsip kecukupan nutrisi, keseimbangan energi dan makronutrien, moderasi terhadap komponen yang berisiko, serta variasi makanan, dengan tambahan penyesuaian berupa penurunan asupan kalori untuk mendukung penurunan berat badan. Idealnya, modifikasi diet dan aktivitas fisik ini dipantau oleh tenaga kesehatan.[1]

Rekomendasi Terkait Terapi Perilaku Intensif

Pada pasien yang juga mendapatkan terapi farmakologis seperti liraglutide, semaglutide, atau tirzepatide, intervensi perilaku dapat ditingkatkan menjadi intensive behavioural therapy (IBT) sebagai bagian dari pendekatan multimodal. IBT meliputi penetapan target terkait diet dan aktivitas fisik, pembatasan asupan energi, sesi konseling rutin (misalnya mingguan selama 30–45 menit), serta evaluasi berkala terhadap pencapaian target.[1]

Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia

Pedoman penanganan obesitas di Indonesia telah dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). Pedoman ini memiliki banyak kesamaan dengan pedoman WHO yang dibahas di atas. Dalam pedoman Kemenkes, penanganan obesitas juga masih menekankan modifikasi gaya hidup sebagai fondasi utama tata laksana.

Pedoman penanganan obesitas Kemenkes ini juga sudah membahas mengenai agonis GLP-1, yang mana durasi pemberiannya juga dianjurkan jangka panjang. Menurut Kemenkes, liraglutide bisa dipakai selama 8 bulan; semaglutide hingga 68 minggu; dan tirzepatide hingga 72 minggu.[2]

Kesimpulan

WHO mempublikasikan pedoman tentang penggunaan agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1) untuk penanganan obesitas pada dewasa di tahun 2025. Beberapa rekomendasi utama yang perlu diperhatikan dari pedoman klinis ini adalah:

  • Modifikasi gaya hidup dan intervensi perilaku masih menjadi fondasi utama dalam tata laksana obesitas. Agonis GLP-1 bisa diberikan tetapi harus selalu disertai dengan konseling, modifikasi gaya hidup, dan terapi perilaku.
  • Dalam penanganan obesitas pada dewasa, agonis GLP-1 seperti semaglutide, liraglutide, dan tirzepatide bisa dipertimbangkan sesuai indikasi, dengan durasi yang disarankan 6 bulan.
  • Jangan lupa untuk juga melakukan manajemen komplikasi dan komorbiditas obesitas bila ada.

Referensi