Obat sitoprotektor atau mukoprotektor, seperti sukralfat dan alginat, merupakan salah satu pilihan terapi farmakologis yang dapat digunakan untuk GERD dan gastritis. Sitoprotektor bermanfaat mengatasi jejas mukosa lambung akibat penyakit-penyakit tersebut dengan meningkatkan perlindungan terhadap mukosa lambung.[1-4]
Agen sitoprotektor bekerja dengan melindungi mukosa lambung dan esofagus dari kerusakan akibat asam, pepsin, empedu, serta faktor iritan lain. Pada gastritis, obat ini membantu meningkatkan pertahanan mukosa melalui pembentukan lapisan pelindung di permukaan mukosa yang mengalami peradangan, merangsang produksi mukus dan bikarbonat, meningkatkan aliran darah mukosa, serta mempercepat proses regenerasi jaringan yang rusak.
Pada GERD, agen sitoprotektor bisa membentuk barrier fisik yang melapisi mukosa sehingga mengurangi kontak langsung antara mukosa dan refluks asam lambung. Selain itu, beberapa agen sitoprotektor dapat membantu memperbaiki integritas mukosa yang telah mengalami kerusakan akibat paparan asam berulang, sehingga mengurangi gejala seperti nyeri ulu hati dan mempercepat penyembuhan lesi mukosa.[2,5,6]
Mekanisme Kerja Obat Sitoprotektor atau Mukoprotektor
Mekanisme kerja obat sitoprotektor dipengaruhi dari properti kimiawi masing-masing jenis obat.
Mekanisme Kerja Antasida yang Mengandung Aluminium
Kandungan aluminium hidroksida dalam antasida mengaktifkan sistem oksida nitrat yang kemudian akan meningkatkan mikrosirkulasi mukosa lambung. Selain itu, aluminium dalam antasida meningkatkan pembentukan prostaglandin pada jaringan mukosa lambung dan sekresi prostaglandin ke lumen lambung.[5]
Mekanisme Kerja Sukralfat
Sukralfat merupakan salah satu obat pelindung mukosa yang telah lama digunakan. Obat ini merupakan bentuk garam aluminium dari sukrosa sulfat yang dapat mengikat asam empedu serta membentuk kompleks stabil dengan molekul protein sehingga lebih resisten terhadap aktivitas pepsin.
Sukralfat mempunyai afinitas yang baik terhadap mukosa yang meradang berkat adanya sambungan polivalen antara senyawa sukralfat bermuatan negatif dan protein yang bermuatan positif pada mukosa yang memiliki lesi.
Selain itu, sukralfat juga bersifat sitoprotektif sebagaimana ditunjukkan oleh peran sukralfat dalam meningkatkan kadar faktor pertumbuhan fibroblas dan memicu kenaikan prostaglandin di mukosa yang kemudian merangsang penyembuhan lesi di mukosa.[5,7]
Mekanisme Kerja Alginat
Senyawa lain yang juga banyak digunakan sebagai sitoprotektor adalah alginat. Alginat dapat membentuk gel kental yang mengapung (raft) di lapisan atas isi lambung dan mengurangi kejadian refluks asam lambung. Kelebihan lain dari alginat adalah kemampuannya dalam menghilangkan kantung-kantung asam lambung yang dapat muncul setelah makan pada pasien dengan gejala refluks lambung.
Bukti yang ada juga menunjukkan potensi senyawa alginat dalam melindungi mukosa esofagus yang berkaitan erat dengan properti bioadhesif sehubungan dengan panjang rantai polimer dan gugus pengion dalam senyawa ini.[5,7]
Mekanisme Kerja Rebamipid
Rebamipid juga dikenal sebagai agen sitoprotektor. Penelitian in vitro dan pada hewan coba membuktikan bahwa rebamipid dapat menghambat aktivasi dan penempelan leukosit terhadap sel endotel.
Selain itu, rebamipid juga dapat memicu pembentukan prostaglandin. Penggunaan jangka panjang rebamipid juga dapat menurunkan ekspresi hypoxia inducible factor-1 α pada sel epitel lambung manusia yang mengindikasikan adanya peran rebamipid dalam meningkatkan aliran darah ke lambung.[4]
Manfaat Sitoprotektor pada GERD dan Gastritis
Manfaat masing-masing jenis sitoprotektor pada GERD dan gastritis telah banyak dipelajari pada berbagai tingkat bukti ilmiah. Selain itu, beberapa penelitian juga mencoba mengevaluasi efikasi dari produk herbal ataupun medical devices made of substances (MDMSs) sebagai agen sitoprotektor, meskipun kualitas buktinya masih rendah.[1,3]
Manfaat Antasida untuk GERD dan Gastritis
Sebuah meta analisis oleh Tran, et al. membandingkan hasil 4 uji klinis acak yang membandingkan efek antasida dibandingkan plasebo dalam pengobatan GERD dengan jumlah sampel 578 pada kelompok antasida dan 577 pada kelompok plasebo. Penilaian subjektif tentang terapi yang diterima partisipan kemudian dievaluasi pada minggu kedua dan keempat setelah terapi dimulai.
Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa perbedaan manfaat antara antasida dibandingkan plasebo sebesar 8% dan partisipan cenderung merasakan perbaikan gejala GERD saat mendapat antasida dibandingkan plasebo. Perbedaan manfaat relatif antara penggunaan antasida dibandingkan plasebo adalah sebesar 11% dengan NNT (number needed to treat) sebanyak 13.[8]
Holtmeier et al. membandingkan hidrotalsit dosis tunggal 1000 mg dengan famotidin 10 mg atau plasebo sebagai terapi apabila muncul gejala nyeri ulu hati. Mereka menemukan bahwa hidrotalsit secara signifikan mengurangi keparahan nyeri ulu hati dalam 10 menit pertama dibandingkan plasebo dan memiliki efikasi yang lebih baik hingga 30-180 menit pascakonsumsi.[9]
Antasida juga dapat menjadi alternatif esomeprazol sebagai terapi pereda gejala GERD pada pasien dengan penyakit refluks nonerosif.[10]
Manfaat Sukralfat untuk GERD dan Gastritis
Terdapat sejumlah bukti yang mendukung ekuivalensi efektivitas sukralfat dibandingkan dengan antagonis reseptor histamin 2 (H2RA) pada pasien dengan GERD. Pemberian suspensi sukralfat 6 g/hari menunjukkan hasil penyembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan ranitidin 150 mg dua kali sehari yang dibuktikan dengan pemeriksaan endoskopi.
Perbaikan gejala nyeri ulu hati dan regurgitasi asam lambung sama baiknya pada kedua kelompok partisipan yang mendapat sukralfat atau H2RA. Namun, efek tersebut umumnya baru terlihat setelah terapi antara 6-8 minggu.[5]
Manfaat Alginat untuk GERD dan Gastritis
Beberapa studi juga telah mempelajari peran alginat yang dikombinasikan dengan inhibitor pompa proton (PPI) dalam mengurangi gejala nyeri ulu hati pada penderita GERD. Pemberian alginat sebagai terapi tambahan PPI pada pasien refluks dengan respons parsial dapat mengurangi gejala nyeri ulu hati dan memperbaiki kualitas hidup pasien secara signifikan dibandingkan terapi PPI saja.[11]
Bukti lain berasal dari uji klinis acak kecil yang melibatkan 16 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alginat mengurangi jumlah episode refluks (median 3,5 vs 15 episode) dibandingkan antasida saja. Selain itu, acid pocket lebih sering berada di bawah diafragma pada kelompok alginat-antasida (71% vs 21%), yang berkorelasi dengan penurunan refluks asam.[12]
Manfaat Rebamipid untuk GERD dan Gastritis
Walaupun studi in vitro dan hewan coba mendukung potensi peran rebamipid sebagai agen sitoprotektor, uji klinis yang mempelajari manfaat rebamipid masih menunjukkan hasil yang bertentangan. Dalam sebuah uji klinis di Thailand, rebamipid memberikan perbaikan gejala dispepsia yang bermakna (perbaikan nyeri ulu hati, rasa kembung, nafsu makan menurun, dan diare) pada pasien dengan gastritis kronik yang refrakter terhadap terapi PPI.
Sementara itu, dalam penelitian uji klinis terkontrol dengan penyamaran ganda di Amerika Serikat dan Jepang, rebamipid tidak menunjukkan perbaikan bermakna pada gejala individu setelah 8 minggu terapi. Meskipun demikian, pada populasi Jepang, perbaikan skor gejala untuk keluhan kembung dan nyeri ulu hati lebih baik pada kelompok yang mendapat rebamipid dibandingkan plasebo.[13]
Manfaat Obat Sitoprotektor untuk Gastritis yang diakibatkan oleh Helicobacter pylori
Penanganan infeksi Helicobacter pylori dilakukan menggunakan optimized bismuth quadruple therapy selama 14 hari. Regimen ini mengandung PPI, bismuth, tetrasiklin, dan metronidazole. Obat sitoprotektor memiliki potensi untuk digunakan sebagai alternatif pengganti PPI tetapi bukti efikasinya masih sangat terbatas.[14]
Sebuah studi observasional prospektif multisenter menggunakan data dari European Registry on Helicobacter pylori Management (Hp-EuReg) dan melibatkan 4.581 pasien yang belum pernah menjalani terapi eradikasi H. pylori. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan rebamipid secara signifikan meningkatkan keberhasilan eradikasi H. pylori dibandingkan terapi tanpa rebamipid (96% vs 91%; p = 0,0002).
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa rebamipid berpotensi menjadi terapi tambahan yang efektif untuk meningkatkan keberhasilan eradikasi H. pylori. Walau demikian, uji klinis lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan besaran efikasi dan keamanannya.[15]
Kesimpulan
Bukti ilmiah terbatas menunjukkan potensi efikasi dari agen sitoprotektor untuk meredakan gejala gastritis dan GERD. Walau begitu, ini tidak berarti bahwa agen sitoprotektor, seperti alginat dan sukralfat, dapat menggantikan peran inhibitor pompa proton (PPI) sebagai terapi pilihan dalam manajemen GERD dan gastritis. Uji klinis acak terkontrol dengan jumlah partisipan lebih besar masih diperlukan untuk memastikan efikasi dan keamanan agen sitoprotektor dalam penanganan GERD dan gastritis.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
