Caffeinated Coffee Consumption or Abstinence to Reduce Atrial Fibrillation: The DECAF Randomized Clinical Trial
Wong CX, Cheung CC, Montenegro G, et al. Caffeinated Coffee Consumption or Abstinence to Reduce Atrial Fibrillation: The DECAF Randomized Clinical Trial. JAMA. 2026 Jan 27;335(4):317-325. doi: 10.1001/jama.2025.21056.
Abstrak
Latar belakang: Pemahaman konvensional menyatakan bahwa kopi berkafein bersifat proaritmia. Kopi merupakan minuman berkafein yang paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat, dan uji klinis acak yang menilai konsumsi kopi berkafein pada pasien dengan atrial fibrilasi (AF) belum pernah dilakukan.
Tujuan: Menentukan efek konsumsi kopi berkafein dibandingkan dengan pantangan kopi dan kafein terhadap kekambuhan atrial fibrilasi.
Metode: Studi ini merupakan uji klinis acak prospektif label terbuka yang merekrut 200 orang dewasa yang saat ini atau sebelumnya (dalam 5 tahun terakhir) mengonsumsi kopi, dengan atrial fibrilasi persisten, atau atrial flutter dengan riwayat atrial fibrilasi, yang direncanakan menjalani kardioversi listrik di 5 rumah sakit di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia antara November 2021 hingga Desember 2024. Tanggal tindak lanjut akhir adalah 5 Juni 2025.
Pasien diacak dalam rasio 1:1 untuk konsumsi kopi berkafein secara rutin vs pantangan kopi dan kafein selama 6 bulan. Pasien dalam kelompok konsumsi kopi dianjurkan untuk minum setidaknya 1 cangkir kopi berkafein setiap hari. Pasien dalam kelompok pantang dianjurkan untuk sepenuhnya menghindari kopi berkafein maupun tanpa kafein serta produk lain yang mengandung kafein.
Luaran primer adalah kekambuhan atrial fibrilasi atau atrial flutter yang terdeteksi secara klinis selama 6 bulan.
Hasil: Sebanyak 200 pasien diacak ke kelompok konsumsi kopi berkafein (n = 100) atau pantang kopi (n = 100). Asupan kopi awal adalah 7 cangkir (IQR, 7–18) per minggu pada kedua kelompok. Selama tindak lanjut, asupan kopi pada kelompok konsumsi dan pantang masing-masing adalah 7 (IQR, 6–11) dan 0 (IQR, 0–2) cangkir per minggu, menghasilkan perbedaan antar kelompok sebesar 7 cangkir per minggu.
Dalam analisis primer, kekambuhan atrial fibrilasi atau atrial flutter lebih rendah pada kelompok konsumsi kopi (47%) dibandingkan kelompok pantang kopi (64%), menghasilkan penurunan kekambuhan sebesar 39% (hazard ratio, 0,61; P = 0,01). Manfaat konsumsi kopi yang sebanding juga diamati untuk kekambuhan atrial fibrilasi saja. Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam kejadian efek samping.
Kesimpulan: Dalam uji klinis pada peminum kopi setelah kardioversi yang berhasil, alokasi ke konsumsi kopi berkafein dengan rata-rata 1 cangkir per hari dikaitkan dengan kekambuhan atrial fibrilasi atau atrial flutter yang lebih rendah dibandingkan dengan pantang kopi dan produk berkafein.
Ulasan Alomedika
Kopi berkafein secara tradisional dianggap bersifat proaritmia. Kopi juga sering dianggap sebagai pencetus episode atrial fibrilasi, sehingga dokter sering menyarankan untuk mengurangi konsumsi kopi sebagai langkah pencegahan dari atrial fibrilasi. Uji klinis acak ini mencoba membandingkan efek konsumsi kopi berkafein terhadap kekambuhan atrial fibrilasi.
Ulasan Metode Penelitian
DECAF trial merupakan uji klinis acak terkontrol prospektif, label terbuka, dan multisenter yang dilakukan di lima rumah sakit di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, dengan melibatkan 200 pasien dewasa (usia rata-rata 69 tahun) peminum kopi saat ini atau dalam 5 tahun terakhir yang mengalami atrial fibrilasi persisten atau atrial flutter dengan riwayat atrial fibrilasi, dan telah menjalani kardioversi listrik yang berhasil.
Setelah kardioversi, peserta diacak 1:1 untuk melanjutkan konsumsi kopi berkafein seperti biasa atau menjalani pantang total terhadap kopi dan produk berkafein selama 6 bulan. Kriteria inklusi meliputi usia ≥21 tahun, riwayat konsumsi minimal 1 cangkir kopi per hari dalam 5 tahun terakhir, serta kemampuan mematuhi intervensi.
Kriteria eksklusi mencakup riwayat efek samping (adverse effect) terhadap kopi, ablasi atrial fibrilasi atau bedah kardiotoraks dalam 3 bulan terakhir, serta kehamilan. Episode kekambuhan dikonfirmasi melalui interpretasi dokter terhadap EKG standar, monitor EKG wearable, atau perangkat implan jantung. Dari 1.965 pasien yang disaring, hanya 200 yang diacak, dengan sebagian menolak karena tidak bersedia menghentikan konsumsi kopi.
Pasien menjalani tindak lanjut penelitian melalui telepon, konferensi video, atau secara langsung pada bulan ke-1, ke-3, dan ke-6 di mana alokasi acak diperkuat. Jenis dan frekuensi tindak lanjut klinis serta pemeriksaan ditentukan oleh dokter yang merawat pasien. Segala upaya dilakukan untuk mengumpulkan data baik untuk luaran primer maupun sekunder hingga penghentian studi atau akhir periode tindak lanjut 6 bulan untuk semua peserta penelitian.
Ulasan Hasil Penelitian
Hasil menunjukkan bahwa selama tindak lanjut 6 bulan setelah kardioversi yang berhasil, kekambuhan atrial fibrilasi atau atrial flutter terjadi pada 47% pasien yang tetap mengonsumsi kopi berkafein dibandingkan 64% pada kelompok pantang kopi.
Analisis intention-to-treat yang disesuaikan berdasarkan lokasi penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkafein dikaitkan dengan penurunan kekambuhan sebesar 39% (HR 0,61; 95% CI 0,42–0,89; p=0,01). Lebih lanjut, waktu kekambuhan lebih lama pada kelompok yang mengonsumsi kopi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengonsumsi kopi.
Manfaat serupa juga terlihat untuk luaran sekunder berupa kekambuhan atrial fibrilasi saja (HR 0,62; p=0,01). Meskipun hazard kekambuhan atrial flutter juga lebih rendah pada kelompok konsumsi kopi (HR 0,37), perbedaan ini tidak mencapai signifikansi statistik karena jumlah kejadiannya rendah.
Dari sisi keamanan, tidak terdapat perbedaan bermakna dalam kejadian efek samping serius antara kedua kelompok dan tidak ada kematian selama penelitian. Jumlah kunjungan gawat darurat serta rawat inap secara keseluruhan relatif sebanding, meskipun rawat inap terkait aritmia secara numerik lebih banyak pada kelompok pantang.
Kelebihan Penelitian
Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol prospektif, multisenter internasional, dengan registrasi prospektif dan pelaporan sesuai pedoman CONSORT, sehingga memiliki validitas internal yang baik. Randomisasi dilakukan setelah kardioversi listrik yang berhasil, sehingga populasi benar-benar berada pada risiko kekambuhan dan mengurangi bias akibat kegagalan kardioversi dini.
Lebih lanjut, analisis dilakukan secara intention-to-treat dengan penyesuaian terhadap lokasi studi serta analisis sensitivitas terhadap faktor prognostik. Luaran primer berupa kekambuhan atrial fibrilasi atau atrial flutter dikonfirmasi melalui interpretasi dokter atas EKG standar, monitor wearable, atau perangkat implan, yang merupakan alat diagnosis dengan akurasi baik untuk atrial fibrilasi.
Selain itu, tingkat kehilangan tindak lanjut dalam studi ini juga sangat rendah. Perbedaan paparan antar kelompok juga jelas dan diukur, yakni didapatkan selisih ±7 cangkir/minggu. Lebih lanjut, sebanyak lebih dari separuh pasien menggunakan perangkat perekam kontinu, yang secara klinis akan meningkatkan deteksi aritmia.
Limitasi Penelitian
Desain open-label berpotensi menimbulkan bias performa dan deteksi. Selain itu, walaupun konfirmasi episode atrial fibrilasi dilakukan secara objektif, perbedaan jenis alat (misalnya EKG 12 sadapan vs wearable) antar kelompok dapat memengaruhi identifikasi kekambuhan. Ukuran sampel studi juga relatif kecil (200 pasien) dan durasi tindak lanjut terbatas 6 bulan, sehingga kekuatan untuk mengevaluasi luaran sekunder yang jarang (misalnya stroke atau mortalitas) menjadi terbatas.
Selain itu, populasi dalam studi ini terdiri dari peminum kopi rutin sebelumnya, dengan mayoritas ras Kaukasia dan indeks massa tubuh (IMT) rata-rata obesitas, sehingga generalisasi ke populasi yang dulunya bukan peminum kopi, etnis lain, atau pasien dengan karakteristik klinis berbeda akan memerlukan kehati-hatian.
Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia
Uji klinis ini mengindikasikan bahwa konsumsi kopi berkafein dalam jumlah moderat (±1 cangkir/hari) tidak meningkatkan, bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko kekambuhan atrial fibrilasi, sehingga menantang paradigma lama bahwa kopi bersifat proaritmia.
Dalam praktik klinis di Indonesia, temuan ini dapat diaplikasikan sebagai dasar konseling berbasis bukti bahwa pasien atrial fibrilasi pascakardioversi yang merupakan peminum kopi rutin tidak perlu secara otomatis dianjurkan untuk menghentikan kopi. Menghentikan konsumsi kopi mungkin bisa dipertimbangkan jika terdapat intoleransi individual atau komorbid tertentu.

