Diabetes yang Luput dari Diagnosis di Indonesia – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Vania Azalia Gunawan, Sp.PD

Sociodemographic and Lifestyle Factors Associated with Undiagnosed Diabetes in Indonesia: Findings from the Basic Health Research Work of Riskesdas 2018

Ferdina AR, et al. Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Societies. 2025. 40(1):53-60. doi: 10.15605/jafes.040.01.21.

studi berkelas

Abstrak

Latar Belakang: Sebagai negara berkembang, terdapat tren peningkatan penyakit tidak menular, termasuk diabetes mellitus (DM) di Indonesia. Namun, proporsi kasus DM yang cukup besar di negara kepulauan ini kemungkinan belum terdiagnosis.

Tujuan: Penelitian ini menilai faktor sosiodemografi dan gaya hidup yang berhubungan dengan DM yang tidak terdiagnosis pada masyarakat Indonesia.

Metodologi: Studi potong lintang ini menganalisis data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018. Penelitian ini melibatkan 3.755 subjek, terdiri dari 3.619 individu dengan kadar glukosa darah tinggi yang memenuhi kriteria DM dan 136 individu dengan DM terkontrol. Analisis regresi multivariat digunakan untuk menilai hubungan antara faktor sosiodemografi dan gaya hidup dengan kejadian diabetes yang tidak terdiagnosis.

Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa 80% kasus DM pada subjek penelitian didapatkan tidak terdiagnosis. Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa kelompok usia, wilayah tempat tinggal, status pekerjaan, kuintil kekayaan, dan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan peluang lebih tinggi mengalami diabetes yang tidak terdiagnosis. Sebaliknya, jenis kelamin, status merokok, dan konsumsi sayur tidak menunjukkan hubungan dengan status diagnosis diabetes.

Kesimpulan: Sebagian besar kasus DM di Indonesia masih belum terdiagnosis, terutama pada dewasa muda, penduduk pedesaan, pekerja sektor pertanian, dan kelompok sosial ekonomi rendah. Peningkatan akses layanan kesehatan, skrining yang terarah, dan edukasi kesehatan yang lebih baik sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis lebih dini dan penatalaksanaan yang efektif.

Diabetes yang Luput dari Diagnosis di Indonesia

Ulasan Alomedika

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi akibat gangguan produksi insulin atau ketidakmampuan tubuh dalam memanfaatkan insulin secara efektif. Penyakit ini mempengaruhi semua kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah geografis, serta menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia.

Menurut International Diabetes Federation (IDF), hampir setengah orang dewasa dengan DM tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit ini. Sebagian besar kasus yang tidak terdiagnosis adalah diabetes mellitus tipe 2, yang sering kali tidak menunjukkan gejala khas atau bahkan asimptomatik selama bertahun-tahun, sehingga diagnosis baru ditegakkan saat komplikasi sudah terjadi.

Di Indonesia, diperkirakan kasus diabetes yang luput dari diagnosis juga banyak. Terlebih lagi mengingat kesadaran masyarakat yang masih relatif rendah, keterbatasan sumber daya dan fasilitas kesehatan, serta adanya faktor sosiodemografis dan geografis yang mungkin memengaruhi. Penelitian ini mencoba menilai faktor-faktor apa yang berkaitan dengan tidak terdiagnosisnya DM di Indonesia.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan data sekunder dari Riskesdas 2018. Riskesdas adalah survei kesehatan skala nasional yang dirancang dengan dua tahap stratified cluster sampling dan bobot kompleks untuk representasi populasi Indonesia.

Tingkat respons wawancara yang tinggi (mencapai 95%) turut mendukung kualitas data, meskipun pemeriksaan biomedis seperti glukosa darah hanya dilakukan pada subkelompok responden di 26 provinsi sehingga jumlah sampel analisis menjadi lebih terbatas.

Populasi Penelitian:

Subjek penelitian adalah individu non-hamil berusia >15 tahun dan memiliki kadar glukosa darah sesuai kriteria diabetes menurut PERKENI, yakni gula darah puasa (GDP) > 126 mg/dl atau tes toleransi glukosa oral (OGTT) 2 jam > 200 mg/dl, termasuk mereka dengan DM terkontrol yang sudah terdiagnosis sebelumnya.

Parameter Luaran:

Diabetes tidak terdiagnosis didefinisikan sebagai kondisi ketika kadar glukosa memenuhi kriteria, namun yang bersangkutan belum pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Penggunaan kriteria diagnosis yang mengikuti konsensus nasional meningkatkan validitas klasifikasi subjek.

Variabel dependen adalah status diagnosis DM (terdiagnosis vs tidak terdiagnosis), sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi (jenis kelamin, usia, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi), gaya hidup (merokok, aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur), dan karakteristik fisik.

Aktivitas fisik diklasifikasikan berdasarkan kuesioner standar WHO, sedangkan variabel gaya hidup lainnya dikategorikan berdasarkan frekuensi. Seluruh data, termasuk pengukuran berat dan tinggi badan, dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 3.755 subjek, terdiri dari 3.619 individu dengan kadar glukosa darah tinggi yang memenuhi kriteria diabetes mellitus (DM) dan 136 individu dengan DM terkontrol.

Mayoritas subjek penelitian memiliki DM yang tidak terdiagnosis (80%). Rerata usia adalah 51,39 tahun, dengan proporsi terbanyak pada rentang usia 50-59 tahun. Rerata indeks massa tubuh (IMT) subjek penelitian adalah 25,53 kg/m2. Rerata kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial masing-masing adalah 143,97 mg/dl dan 232,71 mg/dl.

Pada analisis bivariat, beberapa faktor menunjukkan hubungan bermakna dengan DM tidak terdiagnosis, yakni faktor usia, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat pendidikan, kuintil kekayaan, aktivitas fisik, konsumsi buah, dan IMT.

Proporsi DM tidak terdiagnosis didapatkan lebih tinggi pada kelompok usia muda 15-29 tahun (98,4%), kemudian turun seiring usia, meskipun beban diabetes total meningkat di kelompok usia ≥40 tahun. Penduduk pedesaan juga memiliki proporsi lebih tinggi (87,9%) dibandingkan perkotaan (74,7%). Dari sisi ekonomi, kelompok kuintil terendah menunjukkan proporsi lebih tinggi (89,4%) dibandingkan kuintil tertinggi (68,6%).

Analisis multivariat menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan DM tidak terdiagnosis adalah usia, status pekerjaan, tempat tinggal, kuintil kekayaan, aktivitas fisik, dan IMT.  Individu yang lebih muda, tinggal di daerah pedesaan, bekerja sebagai petani atau nelayan, serta memiliki status ekonomi rendah juga memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk tidak terdiagnosis.

Lebih lanjut, dalam studi ini ditemukan hubungan berbentuk U antara IMT dan status diagnosis DM, di mana individu dengan IMT rendah maupun tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk tidak terdiagnosis dibandingkan kelompok dengan IMT normal.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini memiliki kelebihan utama dalam memberikan gambaran yang komprehensif mengenai besarnya masalah diabetes mellitus yang tidak terdiagnosis di Indonesia, dengan proporsi yang sangat tinggi (80%). Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara kejadian penyakit dan deteksi di layanan kesehatan.

Selain itu, penelitian ini secara khusus menyoroti kelompok populasi yang berisiko tinggi tidak terdiagnosis, seperti usia muda, masyarakat pedesaan, dan kelompok sosial ekonomi rendah. Hal ini memberikan perspektif bahwa keterlambatan diagnosis tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga oleh kondisi sosial dan akses layanan kesehatan.

Lebih lanjut, penelitian ini memiliki nilai praktis yang tinggi karena mampu mengidentifikasi berbagai faktor yang berhubungan dengan diabetes tidak terdiagnosis secara simultan melalui analisis multivariat. Penelitian ini mengisi celah literatur dengan fokus khusus pada faktor-faktor yang membedakan diabetes terdiagnosis dan tidak terdiagnosis, bukan hanya pada faktor risiko diabetes secara umum.

Hal ini memberikan gambaran mengenai determinan sosial dan gaya hidup yang berperan. Temuan terkait peran status ekonomi, pekerjaan, dan aktivitas fisik memberikan dasar penting untuk pengembangan strategi skrining yang lebih terarah. Berdasarkan hasil penelitian ini, kelompok target utama untuk intervensi adalah masyarakat pedesaan, kelompok ekonomi rendah, dan usia produktif.

Limitasi Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan dalam interpretasi hasil. Desain potong lintang tidak memungkinkan penentuan hubungan sebab-akibat, sehingga hubungan yang ditemukan hanya bersifat asosiatif dan memerlukan konfirmasi melalui studi longitudinal.

Selain itu, penggunaan data sekunder membatasi variabel yang dapat dianalisis, sehingga beberapa faktor penting, seperti status pernikahan, riwayat keluarga, komorbiditas, serta akses terhadap layanan kesehatan tidak dapat dievaluasi secara mendalam, sehingga beberapa determinan sosial yang mungkin mempengaruhi diagnosis tidak dapat dianalisis.

Keterbatasan lain adalah potensi bias informasi akibat penggunaan data berbasis self-report, terutama pada variabel riwayat diagnosis dan perilaku gaya hidup, yang dapat mempengaruhi akurasi data. Selain itu, skrining diabetes hanya mengandalkan GDP dan OGTT, tanpa HbA1C, serta tidak dilakukan secara berulang, sehingga berpotensi menyebabkan misklasifikasi status diabetes.

Data Riskesdas juga tidak membedakan diabetes tipe 1 dan tipe 2, serta tidak mencakup kondisi prediabetes, sehingga membatasi kedalaman analisis terkait karakteristik penyakit. Kondisi prediabetes, seperti impaired fasting glucose (IFG) dan impaired glucose tolerance (IGT), merupakan kelompok berisiko tinggi berkembang menjadi diabetes. Keterbatasan dalam dataset Riskesdas terkait variabel-variabel tersebut menyebabkan kemungkinan adanya underestimation terhadap beban diabetes yang sebenarnya di populasi.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting dalam penguatan program deteksi dini diabetes di Indonesia. Tingginya proporsi kasus yang tidak terdiagnosis menunjukkan perlunya peningkatan skrining aktif, terutama pada kelompok risiko, seperti usia muda dan kelompok ekonomi rendah. Skrining pada kelompok usia muda (15-29 tahun), terutama di sekolah, kantor, dan program masyarakat lain seperti Posbindu PTM dapat dioptimalkan.

Selain itu, temuan ini dapat menjadi dasar dalam meningkatkan akses kesehatan, terutama di daerah terpencil dan pedesaan. Intervensi tidak hanya berupa peningkatan fasilitas, tetapi juga edukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin, mengingat banyak kasus diabetes bersifat asimptomatik.

Pendekatan berbasis komunitas juga perlu dikembangkan untuk menjangkau kelompok yang sulit mengakses layanan formal. Untuk petugas kesehatan, kecurigaan klinis terhadap diabetes harus ditingkatkan agar pasien yang sudah mengakses layanan kesehatan bisa terdiagnosis dan mendapat terapi lebih dini.

 

Referensi