Disparities in Utilization of Uterine Fibroid Embolization
Elhakim TS, Smolinski-Zhao S, Miyasato D, et al. JAMA Network Open. 2025. 8(9):e2532100. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2025.32100
Abstrak
Latar Belakang: Embolisasi fibroid uterus (uterine fibroid embolization/UFE) merupakan prosedur alternatif minimal invasif dibandingkan prosedur bedah seperti histerektomi atau miomektomi. Memahami pola pemanfaatan dan disparitas dalam akses terhadap prosedur ini penting untuk memastikan pasien memiliki kesempatan mengeksplorasi seluruh opsi prosedur penatalaksanaan yang tersedia.
Tujuan: Menilai tren penggunaan embolisasi fibroid uterus dibandingkan dengan histerektomi dan miomektomi dalam penatalaksanaan fibroid uterus, dengan penekanan pada adanya disparitas sosiodemografis dan institusional.
Desain Penelitian, Lokasi, dan Subjek Penelitian: Cross-sectional analysis atau analisis potong lintang ini menggunakan data National Inpatient Sample tahun 2016 hingga 2022 yang diperoleh dari Healthcare Cost and Utilization Project, yaitu basis data rawat inap berbasis populasi dan multisenter yang merepresentasikan rumah sakit di seluruh Amerika Serikat.
Pasien dewasa dengan diagnosis fibroid uterus yang menjalani histerektomi, miomektomi, atau UFE diidentifikasi menggunakan kode International Statistical Classification of Diseases, Tenth Revision, Clinical Modification (ICD-10-CM). Analisis data dilakukan pada April 2025.
Paparan: Usia pasien, ras, etnisitas, jenis asuransi, kuartil pendapatan, karakteristik wilayah tempat tinggal (pedesaan/perkotaan), tahun dilakukannya prosedur, serta karakteristik rumah sakit.
Luaran Primer dan Parameter Penilaian: Luaran primer penelitian ini adalah pasien yang menjalani UFE, yang dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat, dengan histerektomi, miomektomi, atau keseluruhan tindakan bedah sebagai kelompok rujukan.
Kategori rujukan kovariat meliputi usia kurang dari 30 tahun, ras kulit putih, asuransi swasta, persentil pendapatan ke-76 hingga ke-100, tempat tinggal di wilayah metropolitan sentral, tahun 2016, rumah sakit berukuran kecil, rumah sakit di wilayah pedesaan, serta rumah sakit yang berada di divisi Pasifik. Hasil dilaporkan sebagai adjusted odds ratio (aOR) dengan interval kepercayaan 95%.
Hasil: Sampel penelitian mencakup 271.885 episode perawatan, yang terdiri atas 199.625 histerektomi (73,4%), 62.675 miomektomi (23,1%), dan 9.585 UFE (3,5%). Median (IQR) usia pasien adalah 47 (43–52) tahun pada kelompok histerektomi, 45 (40–49) tahun pada kelompok UFE, dan 37 (33–41) tahun pada kelompok miomektomi.
Berdasarkan ras dan etnisitas, terdapat 105.780 pasien (38,9%) Afrika-Amerika, 16.175 (5,9%) Asia atau Kepulauan Pasifik, 48.810 (18,0%) Hispanik, 1.050 (0,4%) Penduduk Asli Amerika, 86.425 (31,8%) kulit putih, serta 13.645 (5,0%) dari ras lainnya.
Peningkatan usia berhubungan dengan penurunan peluang menjalani UFE dibandingkan histerektomi, namun peningkatan peluang menjalani UFE dibandingkan miomektomi.
Pasien Afrika-Amerika memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjalani UFE dibandingkan histerektomi (aOR 1,64; IK 95%: 1,44–1,87), tetapi lebih kecil kemungkinannya untuk menjalani UFE dibandingkan miomektomi (aOR 0,84; IK 95%: 0,73–0,97). Pasien Hispanik memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menjalani UFE dibandingkan kedua prosedur bedah tersebut (aOR 0,83; IK 95%: 0,71–0,97).
Pasien dengan pembiayaan Medicaid (aOR 1,58; IK 95%: 1,41–1,77), pembayaran mandiri/self-pay (aOR 1,97; IK 95%: 1,60–2,42), serta tanpa biaya/no-charge (aOR 1,97; IK 95%: 1,24–3,12) memiliki peluang lebih tinggi untuk menjalani UFE dibandingkan kedua prosedur bedah. Pada pasien Medicare, UFE lebih mungkin dilakukan dibandingkan miomektomi pada kelompok usia 30–49 tahun, namun lebih jarang dilakukan pada pasien berusia ≥50 tahun.
Pasien yang berada pada kuartil pendapatan terendah (persentil 0–25) memiliki peluang lebih besar menjalani UFE dibandingkan miomektomi (aOR 1,22; IK 95%: 1,04–1,43). Pasien yang tinggal di daerah pedesaan memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menjalani UFE dibandingkan histerektomi (aOR 0,53; IK 95%: 0,34–0,83), sedangkan rumah sakit di wilayah perkotaan lebih mungkin melakukan UFE dibandingkan kedua prosedur bedah tersebut (aOR 7,13; IK 95%: 3,43–14,80)
Kesimpulan: Dalam studi potong lintang ini, pemanfaatan embolisasi fibroid uterus masih kurang optimal dengan disparitas yang signifikan di berbagai faktor sosioekonomi. Diperlukan upaya lebih lanjut untuk memperluas akses terhadap UFE secara merata di seluruh wilayah.
Ulasan Alomedika
Fibroid uterus atau mioma uteri merupakan tumor jinak paling umum pada perempuan. Penatalaksanaannya direkomendasikan melalui pendekatan bertahap yang diawali dengan terapi non-invasif. Namun, histerektomi sebagai terapi definitif yang invasif dan menghilangkan fertilitas masih sering digunakan dalam penatalaksanaan fibroid uterus.
Miomektomi menjadi alternatif pembedahan dengan mempertahankan uterus, dan efektif mengurangi perdarahan, tetapi berisiko menimbulkan trauma miometrium dan pembentukan adhesi. Embolisasi fibroid uterus (uterine fibroid embolization/UFE) merupakan prosedur minimal invasif yang menjadi alternatif histerektomi maupun miomektomi.
UFE memiliki profil keamanan dan efikasi yang baik, tidak memerlukan anestesi umum, durasi tindakan dan waktu pemulihan lebih singkat, komplikasi lebih sedikit, serta biaya yang relatif lebih rendah. Prosedur UFE dilaporkan mampu menurunkan ukuran fibroid hingga sekitar 42% dalam 3 bulan disertai perbaikan gejala klinis dan potensi mempertahankan fertilitas. Meski memiliki berbagai keunggulan, pemanfaatan UFE masih lebih rendah dibandingkan prosedur pembedahan lain.
Penelitian ini menyoroti tingginya pemanfaatan histerektomi dan miomektomi dibandingkan UFE, sehingga menimbulkan dugaan adanya disparitas multidimensional dalam akses dan penggunaan UFE sebagai penatalaksanaan fibroid uterus.
Ulasan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) untuk mengevaluasi disparitas pemanfaatan embolisasi fibroid uterus dibandingkan histerektomi dan miomektomi, dengan menggunakan data National Inpatient Sample (NIS) periode 2016–2022.
Basis Data:
NIS merupakan basis data rawat inap skala nasional di Amerika Serikat yang komprehensif, sehingga memberikan kekuatan metodologis berupa representasi populasi yang baik serta kemampuan untuk mengevaluasi variasi berdasarkan faktor demografis, sosial ekonomi, dan karakteristik rumah sakit. Pemanfaatan dataset administratif berskala besar ini memungkinkan analisis terhadap ratusan ribu kasus, yang dapat meningkatkan validitas eksternal dan meminimalkan risiko sampling bias.
Identifikasi diagnosis dan prosedur dilakukan menggunakan kode ICD-10-CM, yang merupakan metode standar dalam penelitian layanan kesehatan. Namun demikian, penggunaan data administratif tetap memiliki keterbatasan berupa potensi misclassification bias akibat kesalahan pencatatan maupun variasi praktik pengkodean antar fasilitas kesehatan.
Variabel Paparan:
Penelitian ini mengevaluasi berbagai variabel paparan, termasuk usia, ras atau etnis, jenis asuransi, tingkat pendapatan, tingkat urbanisasi tempat tinggal, serta karakteristik institusi seperti ukuran dan lokasi geografis rumah sakit. Variabel-variabel tersebut relevan untuk menilai determinan sosial kesehatan dan akses terhadap layanan medis. Namun, penelitian ini tidak memasukkan variabel klinis penting, seperti ukuran, jumlah, dan lokasi fibroid, tingkat keparahan gejala, preferensi pasien, riwayat terapi konservatif, serta pertimbangan fertilitas.
Analisis Statistik:
Analisis statistik dilakukan menggunakan multivariable logistic regression untuk menghitung adjusted odds ratio (aOR), yang merupakan metode yang sesuai untuk mengendalikan berbagai faktor perancu. Namun, desain cross-sectional membatasi interpretasi kausal dan tidak memungkinkan penentuan hubungan temporal antara paparan dan luaran.
Selain itu, meskipun ukuran sampel yang besar dapat meningkatkan stabilitas model, analisis regresi tetap rentan terhadap omitted variable bias karena tidak semua determinan relevan dapat dimasukkan ke dalam model.
Ulasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 271.885 episode perawatan fibroid uterus selama periode 2016–2022, pemanfaatan UFE hanya mencapai 3,5%, yang mana jauh lebih rendah dibandingkan histerektomi (73,4%) dan miomektomi (23,1%). Temuan ini mengindikasikan bahwa UFE masih berada pada tingkat underutilization yang signifikan.
Analisis regresi logistik multivariat mengungkap pola disparitas yang konsisten. Secara rasial, pasien Afrika Amerika memiliki peluang lebih tinggi menjalani UFE dibandingkan histerektomi (aOR 1,64), tetapi lebih rendah dibandingkan miomektomi (aOR 0,84). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pemilihan modalitas terapi antar kelompok ras atau etnis, bahkan setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor sosial ekonomi.
Dari aspek ekonomi, pasien dengan asuransi Medicaid, self-pay, atau no-charge menunjukkan kemungkinan yang lebih tinggi menjalani UFE dibandingkan prosedur operatif yang invasif. Temuan ini mengimplikasikan bahwa UFE berpotensi dipilih karena pertimbangan biaya atau ketersediaan layanan pada kelompok dengan keterbatasan akses finansial.
Secara geografis, pasien yang tinggal di wilayah terpencil memiliki akses yang jauh lebih rendah terhadap UFE (aOR 0,53), sementara rumah sakit di wilayah urban tujuh kali lebih mungkin menyediakan layanan UFE (aOR 7,13). Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan adanya disparitas yang kuat dan sistematis berdasarkan ras, status sosial ekonomi, dan lokasi geografis.
Perhatian Khusus dalam Interpretasi Hasil Studi:
Hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Disparitas yang dilaporkan memang menjawab pertanyaan utama dari penelitian ini yang terkait pola pemanfaatan UFE dan ketidakmerataan akses, tetapi penggunaan data rawat inap berpotensi menyebabkan underestimation angka pemanfaatan UFE, mengingat saat ini sebagian besar prosedur UFE dilakukan dalam setting rawat jalan.
Keterbatasan tersebut dapat memengaruhi validitas eksternal, terutama dalam perbandingan antara UFE dan prosedur bedah (histerektomi dan miomektomi) yang hampir selalu dilakukan secara rawat inap. Bias ini juga berpotensi memengaruhi interpretasi disparitas, karena pasien yang menjalani UFE rawat jalan mungkin memiliki karakteristik demografis dan klinis yang berbeda serta tidak tercakup dalam analisis.
Selain itu, perbedaan probabilitas menjalani UFE dapat dipengaruhi oleh variabel klinis yang tidak terukur dalam dataset NIS, seperti ukuran, jumlah, dan lokasi fibroid, derajat keparahan gejala, kebutuhan mempertahankan fertilitas, serta preferensi pasien dan dokter. Faktor tersebut menimbulkan potensi residual confounding akibat faktor klinis yang tidak terukur.
Kelebihan Penelitian
Keunggulan utama penelitian ini terletak pada desain penelitian yang tepat, cakupan data yang luas, serta relevansinya terhadap kebijakan kesehatan. Penelitian ini memanfaatkan basis data nasional skala besar, yang mencakup 271.885 episode perawatan fibroid uterus selama periode 2016–2022. Besarnya skala data memungkinkan analisis yang representatif secara populasi, mencerminkan variasi karakteristik rumah sakit serta beragam kelompok demografis dan sosioekonomi.
Penggunaan analisis multivariable logistic regression untuk mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan prosedur tindakan pada penatalaksanaan fibroid uterus memungkinkan pengendalian berbagai faktor perancu secara simultan, sehingga menghasilkan estimasi peluang (adjusted odds ratio) yang lebih akurat dan meningkatkan validitas internal temuan penelitian.
Penelitian ini juga secara sistematis mengidentifikasi disparitas berdasarkan ras dan etnis, status asuransi, tingkat pendapatan, lokasi geografis, serta karakteristik rumah sakit. Pendekatan ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai determinan sosial dan struktural yang memengaruhi akses terhadap terapi minimal invasif, khususnya UFE, dalam penatalaksanaan fibroid uterus.
Keunggulan lain dari penelitian ini adalah penggunaan periode longitudinal selama tujuh tahun, yang memungkinkan identifikasi tren pemanfaatan UFE dibandingkan histerektomi dan miomektomi, serta menggambarkan pola disparitas secara konsisten, bukan hanya sekadar gambaran pada satu titik waktu.
Limitasi Penelitian
Desain cross-sectional membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan kausal. Penelitian hanya dapat mendeskripsikan hubungan antara variabel sosiodemografis, karakteristik rumah sakit, dan pemilihan prosedur pada penatalaksanaan fibroid uterus, tanpa dapat menentukan apakah faktor-faktor tersebut benar-benar menyebabkan disparitas dalam pemanfaatan UFE.
Lebih lanjut, data berasal dari NIS Amerika Serikat, sehingga hanya mencakup pasien rawat inap. Padahal, banyak prosedur UFE saat ini dilakukan pada setting rawat jalan. Hal ini menyebabkan underestimation terhadap angka pemanfaatan UFE dan berpotensi menimbulkan selection bias. Pasien UFE rawat inap kemungkinan memiliki profil klinis lebih kompleks, sehingga proporsi UFE sebesar 3,5% pada penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
Selain itu, penelitian ini tidak memiliki informasi klinis detail, seperti ukuran, jumlah, atau lokasi fibroid, tingkat keparahan gejala, pertimbangan fertilitas, maupun preferensi pasien dan dokter. Ketiadaan data ini menimbulkan kemungkinan residual confounding, karena faktor klinis yang memengaruhi keputusan pemilihan prosedur tidak dapat dianalisis.
Beberapa variabel sosioekonomi, seperti pendapatan dan tingkat urbanisasi, juga diturunkan dari kode area tempat tinggal, bukan data individual. Hal ini berpotensi menimbulkan ecological fallacy, di mana kesimpulan mengenai individu ditarik dari data agregat area.
Terakhir, penelitian tidak mengevaluasi outcome klinis pascaprosedur, seperti komplikasi, kualitas hidup, atau efek jangka panjang dari pemilihan prosedur. Hal ini membatasi kemampuan penelitian untuk menilai efektivitas relatif UFE dibandingkan histerektomi maupun miomektomi.
Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa uterine fibroid embolization (UFE) masih sangat underutilized. Di Indonesia, kondisi serupa kemungkinan terjadi akibat ketidakmerataan fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga ahli radiologi intervensi, serta perbedaan kemampuan finansial pasien, baik yang bergantung pada BPJS Kesehatan maupun asuransi swasta.
Hasil penelitian ini mendorong pengembangan kapasitas rumah sakit regional untuk UFE, penyusunan kebijakan rujukan dan pembiayaan yang lebih adil, serta edukasi dokter dan pasien agar keputusan terapi didasarkan pada indikasi klinis, bukan keterbatasan akses atau biaya.
Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya sistem data kesehatan terintegrasi untuk memantau pemanfaatan prosedur minimal invasif dan mendeteksi disparitas, sehingga intervensi kebijakan dapat lebih tepat sasaran.

