Duration and Intensity Of Lactation And Maternal Risk Of Subsequent Incident Coronary Artery Disease and Stroke—A Prospective Cohort Study
Christensen SH, Aarestrup J, Rasmussen KM, et al. American Journal of Clinical Nutrition. 2025; 122(2):433-440. doi: 10.1016/j.ajcnut.2025.05.028
Abstrak
Latar Belakang: Kehamilan mempengaruhi beberapa perubahan metabolik pada ibu seperti peningkatan lemak viseral, resistensi insulin, dan peningkatan kadar lemak darah yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD). Laktasi diharapkan dapat mengembalikan kondisi metabolik ibu ke tingkat yang sama sebelum kehamilan. Penelitian ini mengevaluasi hubungan durasi laktasi dengan risiko penyakit jantung koroner dan stroke pada ibu.
Metode: Penelitian kohort prospektif ini dilakukan dengan jumlah subjek 6857 ibu yang melahirkan dalam rentang waktu 1959 – 1961, rerata usia 24 tahun. Durasi laktasi dinilai pada saat bayi berusia 1 tahun. Subjek yang terdiagnosis penyakit jantung koroner (n=701 pada usia 45-70 tahun, n=593 pada usia > 70 tahun) dan stroke (n=410 pada usia 45-70 tahun, n=535 pada usia > 70 tahun) didapatkan dari data register nasional selama 1977-2022.
Hazard ratio (HR) dan 95% confidence interval (CI) dinilai menggunakan cox regression baik tanpa maupun dengan penyesuaian terhadap faktor demografi, risiko metabolik selama kehamilan, komplikasi kehamilan, serta riwayat reproduksi.
Hasil: Durasi menyusui dominan maupun durasi menyusui total menunjukkan hubungan terbalik dengan risiko penyakit jantung koroner, tetapi tidak dengan stroke, ketika dianalisis sebagai variabel kontinu. Pada analisis kategorikal, ibu yang menyusui selama >4 bulan memiliki risiko penyakit jantung koroner 41% lebih rendah (HR: 0.59; 95% CI: 0.46–0.75) dan risiko stroke 34% lebih rendah (HR: 0.66; 95% CI: 0.48–0.92) pada usia 45–70 tahun dibandingkan ibu yang menyusui ≤0,5 bulan.
Setelah penyesuaian terhadap faktor risiko demografis, metabolik, dan reproduktif selama kehamilan, asosiasi tersebut berkurang kekuatannya (HR: 0.78; 95% CI: 0.60–1.01 untuk penyakit jantung koroner; HR: 0.90; 95% CI: 0.64–1.27 untuk stroke). Tidak ditemukan hubungan antara menyusui dan kejadian penyakit jantung koroner maupun stroke yang didiagnosis setelah usia 70 tahun.
Kesimpulan: Bukti mengenai hubungan antara menyusui dan risiko stroke pada ibu masih terbatas. Durasi menyusui yang lebih lama dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner pada ibu yang didiagnosis sebelum usia 70 tahun. Penyesuaian terhadap berbagai faktor risiko menyebabkan pelemahan hubungan tersebut, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor ini mungkin sebagian berperan sebagai perancu (confounder) terhadap manfaat menyusui dalam menurunkan risiko penyakit jantung koroner pada ibu.
Ulasan Alomedika
Penelitian ini menilai hubungan antara durasi menyusui terhadap risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Saat kehamilan terjadi perubahan metabolik pada ibu seperti peningkatan lemak viseral, resistensi insulin, dan peningkatan kadar lemak darah yang berpotensi memunculkan berbagai penyakit kardiovaskular. Menyusui diharapkan dapat mengembalikan kondisi metabolik ibu seperti sebelum hamil sehingga menurunkan risiko kardiovaskular.
Ulasan Metode Penelitian
Data diambil dari Copenhagen Perinatal Cohort sejumlah 9125 subjek pada kelahiran dalam rentang waktu 1959 - 1961 di National University Hospital. Setelah eliminasi, didapatkan subjek sesuai kriteria sebanyak 6857 subjek. Ibu dan anak diperiksa saat kelahiran dan diundang untuk pemeriksaan lanjutan saat anak berusia 1 tahun. Durasi menyusui (hingga saat ibu mengurangi pemberian ASI dan menghentikan ASI) dinilai pada saat bayi berusia 1 tahun.
Variabel kovariat yang dianalisis antara lain kondisi sosioekonomi yang dinilai berdasarkan jumlah pendapatan primer serta gaya hidup (rendah 0-6, menengah 7-10, tinggi 11-20); tingkat pendidikan; status perkawinan saat melahirkan; usia saat persalinan; indeks massa tubuh (IMT) pra-kehamilan; riwayat merokok selama trimester ketiga; kenaikan berat badan gestasional, diabetes selama kehamilan, preeklampsia, hipertensi gestasional, jumlah persalinan sebelumnya, usia kehamilan, berat lahir bayi, dan jenis kelamin bayi.
Durasi median penelitian dihitung dengan metode analisis statistik khusus Kaplan Meier. Metode analisis statistik ini sangat baik untuk menilai survival probability durasi laktasi hingga munculnya variabel terikat (penyakit jantung koroner dan stroke).
Hazard Ratio dan 95% CI dianalisis menggunakan model COX proportional hazards regression. Model analisis ini merupakan metode statistik untuk menganalisis time-to-event data, dengan durasi laktasi sebagai variabel bebas serta risiko kejadian CAD dan stroke sebagai variabel terikat, sehingga akan didapatkan arah dan kekuatan hubungan kedua variabel tersebut.
Durasi laktasi dibuat sebagai variabel kontinu dan dibagi menjadi 5 grup (≤0.5, >0.5-1, >1-2, >2-4, dan >4 bulan). Grup ibu dengan laktasi ≤0.5 bulan sebagai kelompok acuan/pembanding. Proporsi data hilang pada sebagian besar variabel perancu sekitar <5%, namun untuk IMT pre-kehamilan 10%, kondisi sosioekonomi 17%, dan usia kehamilan 19%. Untuk mengatasi kondisi ini peneliti melakukan multiple imputations sehingga bias antara variabel bebas dengan perancu dapat diminimalisir.
Ulasan Hasil Penelitian
Sekitar 24% ibu memiliki durasi menyusui ≤0.5 bulan, 15% >0.5-1 bulan, 20% >1-2 bulan, 22% >2-4 bulan, dan 21% >4 bulan. Ibu menyusui dengan durasi ≤0.5 bulan sebagian besar berasal dari sosioekonomi rendah, memiliki berat badan sebelum kehamilan overweight atau obesitas, dan sering terdiagnosis diabetes selama kehamilan.
Median follow-up adalah 35,4 tahun. Selama periode ini, 1294 (19%) terdiagnosis penyakit arteri koroner, dan 945 (14%) terdiagnosis stroke, yang mana 840 (12%) di antaranya merupakan stroke iskemik. Dari jumlah tersebut 54.2%, 43.4%, dan 42.6% secara berurutan terjadi sebelum usia 70 tahun.
Dalam analisis sebelum penyesuaian terhadap variabel perancu, didapatkan penurunan risiko 7% terjadinya penyakit arteri koroner yang terdiagnosis antara usia 45-70 tahun (HR:0.93). Setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel sosial, metabolik, dan faktor reproduksi, penurunan risiko berkurang menjadi 3% (HR:0.97). Tidak ditemukan hubungan antara durasi laktasi sebagai variabel kontinu dengan stroke baik sebelum maupun setelah penyesuaian terhadap variabel perancu.
Setelah membagi durasi menjadi beberapa kategori, durasi menyusui >2-4 bulan memiliki HR 0.73 (27% lebih rendah dibanding kelompok menyusui ≤0.5 bulan), dan durasi menyusui >4 bulan memiliki HR 0.59 (41% lebih rendah dibanding kelompok menyusui ≤0.5 bulan) yang terdiagnosis penyakit jantung koroner pada usia 45-70 tahun. Sementara itu, terhadap stroke didapatkan HR 0.80 dan 0.66 secara berurutan untuk masing-masing kategori yang sama.
Setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor perancu, menyusui durasi >4 bulan didapatkan 22% (HR: 0.78) risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner dan 10% (HR: 0.90) lebih rendah terhadap stroke. Tidak ditemukan hubungan antara durasi laktasi dengan penyakit jantung koroner atau stroke yang terdiagnosis setelah usia > 70 tahun.
Kelebihan Penelitian
Ukuran sampel pada penelitian ini besar dan berbasis kohort populasi (Copenhagen Perinatal Cohort), sehingga memungkinkan estimasi risiko yang lebih stabil dan generalisasi yang baik untuk populasi dengan karakteristik serupa. Durasi follow-up juga panjang (lebih dari 35 tahun) sehingga memungkinkan peneliti mengevaluasi hubungan jangka panjang antara menyusui dan penyakit kardiovaskular (CVD).
Selain itu, penggunaan registri nasional Denmark yang memiliki akurasi tinggi untuk diagnosis penyakit jantung koroner dan stroke juga meningkatkan validitas luaran. Penggunaan negative control (risiko penyakit kardiovaskular pada ayah) juga merupakan kekuatan analitis yang jarang digunakan, yang diharapkan akan membantu menilai potensi confounding yang tidak terukur.
Peneliti juga melakukan penyesuaian terhadap beragam faktor, termasuk faktor sosial, metabolik, dan riwayat reproduksi. Pemanfaatan analisis berlapis (stepwise adjustment) memberikan gambaran mengenai kontribusi masing-masing faktor risiko terhadap melemahnya asosiasi. Penggunaan multiple imputation untuk menangani data hilang dapat mengurangi bias akibat missing data.
Limitasi Penelitian
Durasi menyusui terlalu pendek bila dibandingkan dengan yang direkomendasikan untuk ASI eksklusif (5-6 bulan). Data menyusui yang diambil juga hanya berasal dari 1 kehamilan saja, meskipun ibu melahirkan lebih dari 1 anak sehingga durasi menyusui pada kehamilan lebih dari 1 diasumsikan sebagai rerata durasi menyusui yang biasa diberikan oleh ibu tersebut, yang dapat menimbulkan bias kategori dalam penelitian.
Durasi menyusui dikumpulkan saat kunjungan bayi usia 1 tahun, sehingga sangat mungkin terjadi misclassification atau recall bias, terutama karena tidak dapat dibedakan secara jelas antara menyusui eksklusif dan predominan. Selain itu, data kohort berasal dari tahun 1959–1961, sehingga konteks sosial, pola menyusui, dan praktik perinatal mungkin berbeda jauh dari kondisi populasi modern, yang membatasi generalisasi temuan.
Faktor sosioekonomi yang diukur pada tahun 1960-an juga mungkin tidak mencerminkan kompleksitas determinan kesehatan modern. Penurunan asosiasi setelah penyesuaian terhadap faktor sosial dan metabolik menunjukkan bahwa sebagian hubungan antara menyusui dan penyakit arteri koroner dapat dijelaskan oleh karakteristik ibu, bukan efek biologis menyusui itu sendiri. Tidak ditemukannya asosiasi pada usia >70 tahun juga menimbulkan pertanyaan terkait timing effect dan kemungkinan survivor bias.
Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia
Studi ini menemukan bahwa durasi menyusui yang lebih panjang, khususnya lebih dari 4 bulan, berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner pada ibu sebelum usia 70 tahun, meskipun asosiasi ini melemah setelah penyesuaian faktor sosial dan metabolik, serta tidak terlihat efek serupa terhadap risiko stroke.
Dalam konteks praktik di Indonesia, temuan ini memperkuat pentingnya promosi dan dukungan menyusui sebagai bagian dari strategi kesehatan maternal, terutama dengan adanya potensi perlindungan kardiovaskular bagi ibu. Aplikasinya dapat dilakukan melalui penguatan layanan laktasi di fasilitas kesehatan dan edukasi antenatal mengenai manfaat menyusui.

