Hipertensi pada remaja dilaporkan semakin meningkat, sehingga perlu ada upaya untuk mengidentifikasi faktor risiko dan mendiagnosis secara dini. Prevalensi hipertensi pada remaja secara global diperkirakan sekitar 10%. Selain itu, ada sekitar 14% remaja yang mengalami prehipertensi.[1]
Meningkatnya risiko hipertensi pada remaja disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bisa maupun tidak bisa dimodifikasi. Faktor yang tidak bisa dimodifikasi adalah faktor genetik dan faktor perinatal seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi adalah obesitas, pola makan tidak sehat, diet tinggi garam, gaya hidup sedentari, kebiasaan merokok, dan kualitas tidur buruk.[2]
Faktor Risiko Hipertensi pada Remaja yang Tidak Bisa Dimodifikasi
Faktor genetik memegang peranan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan hubungan yang kuat antara tekanan darah orang tua dan anak kandung dibandingkan dengan orang tua dan anak angkat berdasarkan penelitian. Genome wide association study (GWAS) telah menemukan banyak lokasi gen (loci) yang berhubungan dengan tekanan darah.[3]
Faktor perinatal seperti berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematuritas, serta faktor maternal (misalnya preeklampsia, hipertensi, dan malnutrisi) juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan hipertensi remaja. Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu nephrogenesis, yang menyebabkan anak menjadi lebih rentan mengidap hipertensi dan sensitif terhadap garam.[3,4]
Faktor Risiko Hipertensi pada Remaja yang Bisa Dimodifikasi
Konsumsi kalori berlebihan, terutama dari lemak dan karbohidrat, dapat menyebabkan obesitas. Remaja yang overweight dan obesitas cenderung berisiko lebih tinggi untuk mengidap hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat memengaruhi kadar kolesterol tubuh dan meningkatkan risiko hipertensi. Kolesterol terlibat dalam pembentukan plak aterosklerosis pembuluh darah. Plak ini dapat meningkatkan resistensi perifer, sehingga mengganggu regulasi tekanan darah dan menyebabkan hipertensi.[2]
Konsumsi garam natrium berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan retensi air dalam tubuh. Konsumsi natrium berlebihan (>5 gram per hari) dapat meningkatkan tekanan darah secara signifikan dan berhubungan dengan onset hipertensi maupun komplikasi kardiovaskular. Retensi air menyebabkan peningkatan volume cairan vaskular dan pada akhirnya meningkatkan tekanan darah.[5,6]
Konsumsi garam berlebihan juga dapat menimbulkan inflamasi endotel mikrovaskular, anatomic remodelling, dan abnormalitas fungsi vaskular. Kerusakan yang diakibatkan oleh natrium berlebih ini tidak hanya terjadi pada pembuluh darah kecil saja, tetapi juga merusak struktur dan fungsi pembuluh darah besar.[7]
Kandungan nikotin pada rokok juga dapat merangsang saraf simpatis dan memicu rilis norepinephrine. Hormon ini menyebabkan vasokonstriksi dan jantung berdenyut lebih cepat, sehingga meningkatkan tekanan darah. Nikotin juga merusak endotel vaskular, sehingga mengurangi elastisitas arteri dan dapat memicu plak aterosklerosis.[8]
Tidak cukupnya durasi dan kualitas tidur juga mengganggu sistem homeostatik tubuh, sehingga meningkatkan aktivitas otak. Peningkatan aktivitas otak dapat menstimulasi pelepasan hormon seperti epinephrine dan norepinephrine. Paparan epinephrine yang terus menerus dan berkepanjangan dapat memengaruhi metabolisme lemak, sehingga memicu resistensi insulin dan dislipidemia.[9]
Pemeriksaan untuk Remaja dengan Hipertensi
Pemeriksaan diawali dengan anamnesis, di mana anamnesis perlu mencakup riwayat perkembangan prenatal, berat badan saat lahir, riwayat hipertensi maternal, dan infeksi perinatal. Selain itu, pola makan dan pola tidur remaja juga perlu digali untuk melihat apakah ada faktor risiko. Riwayat aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan hipertensi juga perlu digali.[1,9]
Setelah anamnesis, lakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Pemeriksaan lain juga mungkin diperlukan untuk menentukan etiologi, mengidentifikasi faktor risiko kardiovaskular, dan mendeteksi kerusakan organ. Pemeriksaan dasar yang dapat dilakukan misalnya hemoglobin, fungsi renal, elektrolit serum, profil lipid, glukosa, creatinine, dan rontgen toraks.[1,9]
Pada pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) mencapai persentil >95, pemeriksaan HbA1C, enzim hati, dan thyroid stimulating hormone (TSH) juga mungkin diperlukan. Polisomnografi juga dapat dilakukan jika terjadi gangguan tidur.[1,9]
Manajemen Remaja dengan Hipertensi
Target tata laksana hipertensi remaja adalah mencegah kerusakan organ sekunder, menghambat progresi hipertensi remaja menjadi hipertensi esensial saat dewasa, dan memberikan tata laksana yang tepat pada hipertensi sekunder. Manajemen umumnya mencakup modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologis.[1,3,9]
Modifikasi Gaya Hidup
Pola diet khusus untuk hipertensi dikenal sebagai DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension). Unsur spesifik dalam pola diet tersebut menjadi strategi utama yang telah diuji dalam penelitian. Unsur yang dianjurkan dalam DASH adalah buah, sayuran, produk susu rendah lemak, biji-bijian, ikan, unggas, kacang-kacangan, dan daging merah tanpa lemak. Selain itu, konsumsi gula dianjurkan untuk dibatasi dan asupan natrium juga dibatasi (kurang dari 5 gram/hari).[1,3,9]
Indeks massa tubuh (IMT) yang diharapkan adalah di bawah persentil 85. Target IMT tersebut diharapkan bisa menurunkan tekanan darah karena menurunkan volume darah dan cardiac output, mengurangi aktivitas renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS), dan meningkatkan sensitivitas insulin.[1,3,9]
Remaja juga sebaiknya melakukan aktivitas fisik sekitar 60 menit selama 3-5 hari dalam 1 minggu. Konsumsi alkohol dan kebiasaan untuk merokok juga harus dihindari karena meningkatkan tekanan darah serta risiko penyakit kardiovaskular.[1,3,9]
Terapi Farmakologis
Terapi farmakologi pada hipertensi remaja diindikasikan apabila terjadi hal-hal berikut:
- Hipertensi menetap meskipun sudah merubah pola hidup selama 3–6 bulan
- Hipertensi simptomatik
- Hipertensi sekunder yang memerlukan farmakoterapi
- Munculnya tanda kerusakan organ seperti proteinuria, mikroalbuminuria, atau hipertrofi kardiak dengan penyakit ginjal kronis dan diabetes mellitus[1,3,9]
Terapi dimulai dari obat tunggal dan dosis terendah terlebih dahulu, kemudian dititrasi sesuai dengan target tekanan darah yang diharapkan. Obat golongan ACE inhibitors (Angiotensin-Converting Enzyme inhibitors), Calcium Channel Blocker (CCB), dan obat diuretik thiazide umumnya bisa ditoleransi dengan baik oleh remaja. ACE inhibitor direkomendasikan untuk remaja dengan hipertensi yang disertai penyakit ginjal kronis, proteinuria, atau diabetes.[1,3,9]
Kesimpulan
Kejadian hipertensi pada remaja dilaporkan terus meningkat, sehingga perlu ada upaya identifikasi faktor risiko, diagnosis, dan manajemen yang tepat. Beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah obesitas maupun overweight, pola makan tidak sehat, diet tinggi garam, gaya hidup sedentari, kebiasaan merokok, dan kualitas tidur buruk.
Pada remaja yang mengalami hipertensi, faktor-faktor risiko tersebut perlu digali teliti. Beberapa pemeriksaan penunjang untuk menentukan etiologi, mengidentifikasi faktor risiko kardiovaskular, dan mendeteksi kerusakan organ juga dapat dilakukan. Proses tata laksana perlu mencakup perubahan gaya hidup dan pemberian terapi farmakologis yang sesuai untuk remaja.
