Pengambilan keputusan penanganan fraktur compresi cranium di RS tanpa Sp. BS - Diskusi Dokter

general_alomedika

ALO DokterIzin dok. Sy tidak berdiskusi mengenai tata laksana namun mengenai ttg cara mengambil keputusanSaya adlh dokter di RS kecil dg SDA yg terbatas. Ada...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Pengambilan keputusan penanganan fraktur compresi cranium di RS tanpa Sp. BS

    Dibalas 9 jam yang lalu
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    ALO Dokter

    Izin dok. Sy tidak berdiskusi mengenai tata laksana namun mengenai ttg cara mengambil keputusan

    Saya adlh dokter di RS kecil dg SDA yg terbatas. Ada pasien KLL dtg dg cedera kepala + bleeding aktif di luka belakang kepala. Px tampak mengantuk dan sy kesulitan menilai GCS karena pasien ternyata bisu dan tuli

    Dari pemeriksaan fisik (sy curiga ada fraktur decompresi), mempertimbangkan kesadaran px dan mempertimbangkan di RS saya tidak ada Sp. BS, sy menawarkan ke keluarga ada 2 opsi:

    (1) rujuk ke RS tipe B dg Sp.BS yg berjarak sekitar 15 menit dari RS kami dg proses yg cukup lama (karena tentu harus stabilisasi, konsul, dan mencari rujukan) 

    (2) keluarga membawa px sendiri ke RS tersebut

    Keluarga menyetujui membawa sendiri px ke RS tsb dan sudah tanda tangan surat pernyataan akan membawa px sendiri ke RS tsb.

    Saya jujur masih merasa bersalah, apakah keputusan saya sudah tepat? Saya merasa setidaknya sy harus stabilisasi awal sesuai algoritma

    Tapi SDA di RS sy sendiri juga tidak mumpuni

    Mohon saran apa yg harus saya lakukan agar pengambilan keputusan sy lebih baik ke depannya

    Terima kasih

9 jam yang lalu
Alo dok, saya yakin banyak sejawat lain juga pernah ada di posisi yang sama. Memang mau ga mau, namanya berpraktik, pasti ada dilema klinis yang harus kita hadapi.
Terkait statement dokter "Mohon saran apa yg harus saya lakukan agar  pengambilan keputusan sy lebih baik ke depannya"... Kalo menurut hemat saya, jika dihadapkan pada dilema klinis: Pertimbangkan mana pilihan yang menurut penilaian dokter punya manfaat lebih besar dari risiko (efek samping atau komplikasi) bagi pasien kita.
Itu usul sederhana saya, dok, karena setiap kasus pasien pasti berbeda-beda dan pasti ada pertimbangan klinis maupun non-klinisnya masing-masing.
Jadi, jika dihadapkan pada kasus apapun, selalu lakukan saja yang menurut dokter lebih banyak manfaat/kelebihannya dibandingkan risikonya (ratio risk-benefit) untuk pasien. Kalau ada keraguan, saya rasa lumrah bagi kita sebagai manusia...
Dokter juga bisa manfaatkan tools AI, dok, untuk membantu  keputusan klinis dokter.
Good luck ya, dok! Semangat!