Liraglutide: Obat Antidiabetes untuk Menanggulangi Obesitas

Oleh :
dr.Megawati Tanu

Berbagai bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa obat antidiabetes liraglutide memiliki efek menurunkan berat badan pada pasien obesitas. Oleh sebab itu, obat antidiabetes ini juga telah disetujui penggunaannya untuk penatalaksanaan obesitas, baik pada penderita maupun bukan penderita diabetes.[1-3]

Obesitas merupakan penyakit kronis, kompleks, dan ditandai oleh kelebihan jaringan lemak. Penyakit ini berkontribusi terhadap berbagai komplikasi medis signifikan, mulai dari prediabetes, diabetes melitus tipe 2 (DMT2), hingga penyakit kardiovaskular, kanker endometrium, dan gangguan tidur.[2]

Liraglutide, Obat Antidiabetes untuk Menanggulangi Obesitas

Opsi tata laksana obesitas masih terbatas. Modifikasi gaya hidup sering kurang efektif dan tidak memiliki keberlanjutan yang baik. Sementara itu, pembedahan bariatrik memiliki prosedur yang kompleks dan risiko komplikasi yang tinggi. Agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1RA), seperti semaglutide dan liraglutide, merupakan opsi tata laksana obesitas yang diharapkan dapat mengatasi keterbatasan tata laksana lainnya.[1]

Mekanisme Aksi Liraglutide

Liraglutide merupakan obat dari golongan GLP-1RA yang telah disetujui FDA Amerika Serikat untuk pengelolaan berat badan jangka panjang pada penderita obesitas dewasa yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) β‰₯30 kg/mΒ². Liraglutide juga disetujui penggunaannya pada pasien IMT β‰₯27 kg/mΒ² dengan komorbiditas seperti hipertensi, diabetes, atau dislipidemia.[1]

Liraglutide dapat menekan nafsu makan, menurunkan berat badan, dan memperbaiki fungsi metabolik secara efektif. Selain itu, terdapat manfaat tambahan berupa penurunan tekanan darah sistolik dan perbaikan kontrol glikemik, sehingga obat ini berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.[2,3]

Basis Bukti Efikasi Liraglutide pada Pasien Obesitas

Hasil uji klinis SCALE yang melibatkan 846 partisipan dengan IMT β‰₯27 kg/mΒ²Β  menunjukkan bahwa pemberian liraglutide pada dosis 3 mg dan 1,8 mg subkutan menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan plasebo. Persentase penurunan berat badan adalah sebesar 6 % pada dosis 3 mg, 5% pada dosis 1,8 mg, dan 2% pada kelompok plasebo.[4]

Hasil serupa didapat dalam sebuah meta-analisis terhadap 14 uji klinis acak terkontrol (RCT) yang mengevaluasi liraglutide 3,0 mg subkutan sekali sehari dibandingkan plasebo pada pasien dewasa dengan IMT β‰₯27 kg/mΒ² atau β‰₯30 kg/mΒ², baik dengan maupun tanpa diabetes. Secara keseluruhan, liraglutide menghasilkan penurunan berat badan bermakna (rerata βˆ’4,91 kg), lingkar pinggang (βˆ’3,55 cm), dan IMT (βˆ’1,86 kg/mΒ²) dibandingkan plasebo.[1]

Bukti lain didapat dari uji klinis acak tersamar ganda terkontrol plasebo skala besar yang melibatkan 2254 dewasa dengan obesitas atau overweight disertai prediabetes dari 191 pusat di 27 negara. Hasil uji menunjukkan bahwa liraglutide secara signifikan menurunkan risiko progresi menjadi diabetes tipe 2, serta memperpanjang waktu hingga onset diabetes 2,7 kali lebih lama, disertai penurunan berat badan yang lebih besar (βˆ’6,1% vs βˆ’1,9%) dibandingkan plasebo.[5]

Selain itu, berbagai bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa liraglutide berperan dalam mempertahankan penurunan berat badan dan memperbaiki parameter kardiometabolik seperti tekanan darah sistolik dan kadar glukosa puasa. Kombinasi liraglutide dengan intervensi perilaku terbukti lebih efektif dibandingkan intervensi perilaku saja, memperkuat peran liraglutide sebagai farmakoterapi yang efektif dalam pengelolaan obesitas.[2,6]

Aspek Keamanan dan Tolerabilitas Liraglutide

Secara umum, agonis dan analog GLP-1, termasuk liraglutide, memiliki profil tolerabilitas yang baik. Liraglutide memberikan dampak positif terhadap penurunan berat badan, perbaikan parameter metabolik, dan penurunan tekanan darah. Hal ini diperkuat oleh studi LEADER yang melaporkan penurunan signifikan angka kematian kardiovaskular pada pasien yang menerima liraglutide.[7]

Liraglutide dilaporkan memiliki risiko hipoglikemia yang rendah. Sebagai monoterapi, tidak ditemukan kasus hipoglikemia berat, sedangkan hipoglikemia ringan dilaporkan pada sebagian kecil pasien (8% pasien dengan dosis liraglutide 1,8 mg), jauh lebih rendah dibandingkan terapi sulfonilurea (24,2% pasien dengan sulfonilurea). Risiko hipoglikemia juga tetap rendah saat liraglutide digunakan bersama metformin.[2]

Meski secara umum terapi liraglutide aman dan ditoleransi dengan baik, efek samping yang pernah dilaporkan antara lain:

  • Mual, terutama pada fase awal terapi.
  • Keluhan gastrointestinal lain seperti muntah, diare, dan konstipasi

  • Liraglutide dapat meningkatkan denyut jantung ringan namun persisten (2–4 denyut per menit), akibat aktivasi reseptor GLP-1 pada nodus sinoatrial.
  • Kolesistitis terjadi pada 3 dari 100 pasien. Kondisi ini terjadi akibat penurunan berat badan yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini berhubungan juga dengan kejadian pankreatitis, karena batu empedu merupakan faktor terjadinya pankreatitis.[2]

Efikasi dan Keamanan Penggunaan Liraglutide pada Anak dengan Obesitas

Sejauh ini, belum ada obat yang disetujui untuk menangani obesitas nonmonogenik dan nonsindromik pada kelompok usia 6–12 tahun. Meski begitu, sebuah uji klinis fase 3a mengindikasikan bahwa liraglutide berpotensi menjadi terapi farmakologis pertama yang efektif untuk anak dengan obesitas usia 6 hingga di bawah 12 tahun.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak yang menerima liraglutide dengan dosis 3 mg (atau dosis maksimum yang dapat ditoleransi) sekali sehari, disertai intervensi gaya hidup, mengalami penurunan IMT yang signifikan dibandingkan plasebo. Pada minggu ke-56, perubahan persentase rerata IMT dari baseline tercatat sebesar βˆ’5,8% pada kelompok liraglutide. Penurunan IMT sedikitnya 5% dicapai oleh 46% kelompok liraglutide (vs 9% kelompok plasebo).

Meski efek samping, terutama gangguan saluran cerna, lebih sering dilaporkan pada kelompok liraglutide, sebagian besar bersifat ringan hingga sedang. Secara keseluruhan, temuan ini menyoroti liraglutide sebagai opsi terapi yang menjanjikan untuk membantu pengendalian obesitas pada anak, dengan catatan pemantauan keamanan jangka panjang tetap diperlukan.[8]

Perlu diketahui bahwa saat ini sedang dilakukan studi terkait efikasi agonis GLP-1 lainnya untuk penggunaan pada anak. Penggunaan agonis GLP-1 lain ini, seperti semaglutide, kemungkinan akan lebih disukai secara klinis karena hanya perlu diinjeksikan seminggu sekali (dibandingkan liraglutide yang perlu diinjeksikan setiap hari)

Liraglutide Kurang Efektif Dibandingkan Agonis GLP-1 Lain

Uji klinis fase 3b acak, open-label selama 68 minggu membandingkan efektivitas dan profil efek samping semaglutide 2,4 mg subkutan sekali seminggu vs liraglutide 3,0 mg subkutan sekali sehari (keduanya dikombinasikan dengan diet dan aktivitas fisik) pada 338 dewasa dengan overweight atau obesitas tanpa diabetes. Hasil menunjukkan penurunan berat badan rerata secara signifikan lebih besar pada kelompok semaglutide (–15,8%) dibanding liraglutide (–6,4%).

Selain itu, lebih banyak peserta mencapai target penurunan berat badan β‰₯10% (70,9% vs 25,6%), β‰₯15% (55,6% vs 12,0%), dan β‰₯20% (38,5% vs 6,0%) pada semaglutide dibanding liraglutide. Efek samping gastrointestinal sering terjadi pada kedua kelompok, namun angka penghentian terapi lebih rendah pada semaglutide (13,5% vs 27,6%).[9]

Temuan serupa juga dilaporkan dalam tinjauan sistematik terhadap 3 uji klinis acak terkontrol dengan total 922 pasien diabetes. Tinjauan ini menunjukkan bahwa pada pasien diabetes, semaglutide sekali seminggu memberikan kontrol glikemik dan penurunan berat badan yang lebih superior dibanding liraglutide sekali sehari, tanpa peningkatan risiko efek samping yang signifikan.[10]

Kesimpulan

Liraglutide merupakan agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1RA) yang telah disetujui penggunaannya untuk pengelolaan obesitas. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa liraglutide efektif dalam menurunkan berat badan, serta memiliki manfaat tambahan terhadap parameter kardiometabolik, seperti tekanan darah dan kadar glukosa puasa. Liraglutide juga dapat ditoleransi dengan baik, serta jarang menimbulkan hipoglikemia.

Lebih lanjut, terdapat uji klinis yang mengindikasikan bahwa liraglutide efektif dan aman digunakan pada populasi anak berusia 6 hingga di bawah 12 tahun. Meski begitu, efikasi dan keamanan penggunaan pada populasi anak masih memerlukan studi lebih lanjut.

Perlu pula diketahui bahwa penggunaan agonis GLP-1RA lainnya, seperti semaglutide dan tirzepatide, telah diteliti dan ditemukan lebih efektif dibandingkan liraglutide. Pemberian yang hanya memerlukan injeksi mingguan dan adanya bentuk sediaan oral juga membuat obat tersebut lebih disukai dibandingkan liraglutide yang memerlukan injeksi harian. Sementara itu, efikasi semaglutide dan tirzepatide pada populasi anak sedang dalam penelitian.

Referensi