Penggunaan perban hemostatik untuk menghentikan perdarahan menjadi salah satu pilihan dalam penanganan luka saat ini. Hal ini didasarkan pada proses penyembuhan luka dan koagulasi yang dimulai sesaat setelah terjadi kerusakan jaringan.[1,2]
Terdapat empat fase penyembuhan luka, yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi atau remodeling. Fase hemostasis merupakan fase penting untuk mencegah perdarahan berlanjut sekaligus menyiapkan migrasi seluler di fase berikutnya. Perban hemostatik modern saat ini dikembangkan untuk meningkatkan proses alami tersebut, baik melalui percepatan aktivasi faktor pembekuan maupun penyediaan bantuan bagi trombosit untuk melakukan agregasi secara optimal.[1,2]
Sekilas tentang Fisiologi Hemostasis
Hemostasis fisiologis terjadi segera setelah cedera vaskular dengan inisiasi hemostasis primer yang melibatkan interaksi kompleks dinding pembuluh darah dan trombosit. Proses ini diawali dengan vasokonstriksi refleks yang dimediasi oleh endotelin dan sistem saraf simpatis.[1,3]
Kerusakan pada lapisan endotel akan menyebabkan terpajangnya matriks ekstraseluler subendothelial (terutama kolagen), yang lalu berikatan dengan faktor von Willebrand (vWF). Trombosit akan menempel pada vWF melalui reseptor glikoprotein Ib/IX (proses adhesi), yang selanjutnya memicu aktivasi trombosit dan pelepasan ADP serta Thromboxane A2. Lalu, terjadi juga ekspresi reseptor GPIIb/IIIa yang memungkinkan agregasi antar trombosit yang menghasilkan platelet plug yang rapuh.[1,3]
Hemostasis sekunder terjadi melalui kaskade koagulasi. Kaskade ini akan melibatkan aktivasi zymogen protein plasma menjadi enzim aktif, yang secara fungsional terbagi menjadi jalur intrinsik dan jalur ekstrinsik. Aktivasi faktor X menjadi Xa, bersama dengan faktor Va, membentuk kompleks protrombinase untuk mengonversi protrombin menjadi trombin. Trombin bertindak sebagai efektor utama yang mengubah fibrinogen menjadi benang fibrin.[3]
Fibrin kemudian akan mengalami cross-linking dengan bantuan faktor XIIIa, sehingga membentuk bekuan darah yang stabil. Keberhasilan tahap ini sangat menentukan fase selanjutnya untuk deposisi kolagen dan penutupan luka.[3]
Manfaat dan Jenis Perban Hemostatik untuk Penanganan Luka
Dalam praktik klinis, perban hemostatik adalah material yang diaplikasikan secara lokal pada permukaan luka untuk membalut luka dan menghentikan perdarahan ketika prosedur standar seperti penekanan manual atau ligasi dianggap tidak mencukupi. Perban hemostatik memberikan keuntungan karena kemampuannya untuk melampaui kompresi mekanis sederhana. Secara garis besar, agen hemostatik dikategorikan berdasarkan mekanisme kerja atau bahan aktifnya.[2]
Agen Prokoagulan Berbasis Silikat
Perban hemostatik berbasis silikat merupakan agen prokoagulan anorganik yang bekerja melalui mekanisme fisika-kimia pada permukaan luka. Agen ini memiliki afinitas tinggi terhadap molekul air, sehingga mampu mengkonsentrasi sel darah merah dan protein koagulasi secara lokal.[2,4,5]
Salah satu contoh kategori ini adalah kaolin, suatu mineral aluminium silikat hidrat yang sering ditemukan dalam sediaan kasa tempur (combat gauze). Kaolin bekerja sebagai aktivator jalur intrinsik dengan memicu faktor XII (Hageman factor) saat bersentuhan dengan darah.[2,4,5]
Di sisi lain, terdapat pula zeolit, suatu mineral kristal aluminosilikat yang bekerja melalui mekanisme penyerapan molekuler (molecular sieve). Meskipun efektif menciptakan hemostasis cepat, penggunaan zeolit generasi awal sempat dikaitkan dengan reaksi eksotermik yang berisiko menyebabkan luka bakar termal pada jaringan sekitar.[2,4,5]
Terdapat juga agen silikat jenis smectite yang memiliki kemampuan ekspansi tinggi. Selain mengaktivasi jalur kontak, smectite membentuk penghalang fisik dengan cara mengembang menjadi massa plastis saat terkena darah. Namun, penggunaan smectite saat ini telah dibatasi atau dihentikan karena risiko keselamatan yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa granul smectite dapat menyebabkan kerusakan endotel vaskular dan memicu trombosis intravaskular sistemik bila material tersebut secara tidak sengaja memasuki lumen pembuluh darah yang robek.[6,7]
Agen Hemostatik Berbasis Polisakarida
Kitosan (chitosan) merupakan polimer linier dari hasil deasetilasi kitin, yang dianggap sebagai salah satu agen paling serbaguna dalam penanganan trauma. Berbeda dengan agen silikat, kitosan bekerja melalui interaksi elektrostatik yang independen terhadap kaskade koagulasi normal.[7,8]
Muatan positif (kationik) pada molekul kitosan akan menarik eritrosit dan trombosit yang bermuatan negatif, sehingga membentuk sumbat mukoadhesif yang kuat. Karakteristik ini membuat kitosan sangat efektif digunakan pada pasien dengan koagulopati, seperti penderita hemofilia atau pengguna obat antikoagulan sistemik, di mana fungsi enzim koagulasi alami telah terganggu.[7,8]
Kelompok polisakarida lainnya mencakup Oxidized Regenerated Cellulose (ORC) dan alginat. ORC bekerja dengan membentuk massa gelatin yang bisa berfungsi sebagai perancah bagi bekuan darah sekaligus menurunkan pH lokal (bisa memberikan efek bakteriostatik). Namun, sifat asam ini juga diketahui dapat menghambat proliferasi fibroblas jika digunakan secara berlebihan.[1,9,10]
Sementara itu, alginat yang berasal dari ganggang cokelat bekerja melalui pertukaran ion natrium dengan kalsium. Ion kalsium yang dilepaskan bertindak sebagai faktor IV dalam kaskade koagulasi dan mempercepat konversi protrombin menjadi trombin. Alginat sangat bermanfaat menjaga kelembaban luka (moist wound healing), meskipun tidak dirancang untuk menangani perdarahan arterial masif.[1,9,10]
Agen Biologis Aktif
Agen biologis meliputi material yang mengandung komponen aktif kaskade koagulasi, seperti trombin, fibrinogen, dan kolagen. Trombin topikal bekerja langsung mengonversi fibrinogen menjadi fibrin, melewati jalur-jalur awal kaskade yang mungkin terganggu pada pasien tertentu. Fibrin sealant melangkah lebih jauh dengan menyediakan kedua komponen utama (trombin dan fibrinogen) dalam satu aplikator, sehingga menghasilkan bekuan yang stabil dan memiliki sifat adhesif terhadap jaringan.[2,4,11]
Di sisi lain, material berbasis kolagen dan gelatin bekerja sebagai matriks mekanis yang memicu adhesi serta aktivasi trombosit secara langsung. Perlu diperhatikan bahwa efektivitas agen berbasis kolagen sangat tergantung pada jumlah trombosit fungsional pasien, sehingga penggunaannya pada pasien trombositopenia berat mungkin tidak akan memberikan hasil yang optimal.[2,4,11]
Agen Hemostatik Lain
Terdapat agen hemostatik lain yang biasanya tidak ditemukan dalam sediaan perban. Agen hemostatik tersebut mencakup polimer sintetik dan agen kimiawi yang bekerja melalui mekanisme dehidrasi maupun nekrosis. Agen sintetik seperti polimer hidrofilik dengan garam kalium (HPPS) bekerja dengan menyerap komponen cair darah secara instan untuk membentuk scab. Namun, penggunaannya terbatas pada luka luar guna menghindari risiko granuloma yang dapat menyerupai pseudotumor pada pencitraan.[2]
Di sisi lain, agen kimiawi seperti perak nitrat dan ferri sulfat menginduksi nekrosis koagulatif untuk membentuk suatu eschar yang menutup pembuluh darah kecil secara permanen. Meskipun efektif untuk epistaksis atau jaringan granulasi berlebih, sifat destruktif dan risiko pigmentasi permanen dari agen ini membatasi aplikasinya pada area dengan pertimbangan estetika tinggi, seperti wajah.[2]
Kapan Menggunakan atau Menghindari Perban Hemostatik
Indikasi utama penggunaan perban hemostatik adalah pada kondisi perdarahan yang tidak dapat dikendalikan dengan penekanan standar, terutama pada area junctional seperti ketiak atau selangkangan di mana torniket tidak dapat dipasang.[4,9]
Namun, ada beberapa kontraindikasi absolut yang harus dipatuhi. Hampir seluruh agen hemostatik topikal sangat dilarang untuk masuk ke sirkulasi sistemik karena adanya risiko tromboemboli yang fatal. Selain itu, agen yang bersifat ekspansif seperti gelatin atau ORC dilarang digunakan dalam ruang tertutup dekat struktur saraf (misalnya kanalis spinalis) karena risiko kompresi mekanis yang dapat menyebabkan defisit neurologis permanen.[4,9]
Kontraindikasi juga perlu diperhatikan pada potensi reaksi hipersensitivitas terhadap sumber bahan baku agen tersebut. Pasien dengan riwayat alergi berat terhadap produk sapi atau babi harus menghindari agen berbasis kolagen atau gelatin tertentu. Demikian pula pada pasien dengan riwayat anafilaksis makanan laut, penggunaan kitosan perlu dilakukan dengan kewaspadaan tinggi meskipun protein penyebab alergi biasanya telah dihilangkan selama proses manufaktur.[2,4]
Terakhir, prinsip debridement tidak boleh ditinggalkan, mengingat material hemostatik bisa menjadi sumber bakteri jika ditinggalkan dalam luka yang terkontaminasi secara aktif.[2,4]
Kesimpulan
Pemilihan agen hemostatik harus didasarkan pada pemahaman mengenai mekanisme kerja material dan profil klinis pasien, yang mencakup lokasi luka, intensitas cedera, dan preferensi klinis. Agen silikat dan kitosan menawarkan solusi efektif pada skenario trauma eksternal dengan perdarahan masif, sementara agen biologis aktif dan agen fibrinolitik dianggap lebih efektif dalam penanganan perdarahan internal.
Meskipun teknologi hemostatik saat ini terus berkembang, kewaspadaan terhadap kontraindikasi anatomi dan fisiologi tetap menjadi faktor penentu untuk meminimalkan komplikasi serta memastikan luaran klinis yang optimal bagi pasien.
