Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Grover Disease annisa-meidina 2026-03-06T14:15:17+07:00 2026-03-06T14:15:17+07:00
Grover Disease
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Grover Disease

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Penatalaksanaan Grover disease (GD) bersifat simptomatik dan suportif, karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sering bersifat rekuren. Terapi awal umumnya mencakup kortikosteroid topikal potensi sedang untuk mengendalikan inflamasi dan pruritus, dikombinasikan dengan antihistamin oral untuk mengurangi rasa gatal.[1,9,10,16]

Pendekatan Tata Laksana

Keberhasilan terapi sangat bergantung pada identifikasi dini; pengenalan serta eliminasi faktor pencetus seperti panas, keringat berlebih, imobilisasi, dan obat-obatan tertentu; serta penanganan komponen atopi yang mendasari bila ada. Pada kasus yang dipicu obat, penghentian agen penyebab umumnya diikuti perbaikan lesi dan gejala.[16]

Medikamentosa

Terapi awal pada Grover disease umumnya mencakup kortikosteroid topikal potensi sedang untuk mengendalikan inflamasi dan pruritus, dikombinasikan dengan antihistamin oral untuk mengurangi rasa gatal. Edukasi perawatan kulit atopi sangat penting, termasuk penggunaan emolien secara teratur seperti gliserin 10% dalam sorbolene atau salep emulgasi.[1,16]

Beberapa laporan menunjukkan respons yang baik terhadap calcipotriol topikal, namun penggunaannya harus dibatasi ≤100 g/minggu karena risiko gangguan metabolisme kalsium. Kortikosteroid topikal poten dapat digunakan pada fase akut, tetapi harus dibatasi durasi dan luas pemakaiannya untuk mencegah atrofi kulit, takifilaksis, dan absorpsi sistemik. Kortikosteroid yang sering dipakai contohnya triamcinolone acetonide (TCA) atau fluticasone propionate.[1,16]

Penanganan Kasus Refrakter atau Berat

Pada kasus refrakter atau berat, dapat dipertimbangkan terapi sistemik dan modalitas lain, seperti retinoid berupa vitamin A, isotretinoin, atau acitretin. Pilihan terapi lain adalah methotrexate, serta terapi cahaya dengan UV-B, PUVA, atau UV-A1.[1,11,16]

Modalitas lain yang juga pernah dilaporkan efektif pada kasus tertentu meliputi fotodinamik terapi dengan 5-aminolevulinic acid (ALA-PDT) dan Grenz radiation. Namun, sebagian kecil pasien tetap menunjukkan resistensi terhadap hampir seluruh pilihan terapi konvensional.[16]

Beberapa bukti ilmiah lebih baru menunjukkan peran dupilumab, yakni suatu antibodi monoklonal yang menghambat jalur IL-4 dan IL-13, sebagai alternatif yang lebih aman dan efektif pada Grover disease refrakter. Terapi ini dilaporkan efektif terutama pada pasien dengan fenotipe atopi atau yang memenuhi kriteria dermatitis atopik.[16]

Pilihan Terapi Baru

Sebuah uji non-acak terkontrol pemberian fototerapi blue light pada pasien Grover disease menunjukkan hasil penurunan jumlah lesi dan perbaikan pruritus tanpa efek samping bermakna. Efek antipruritus diduga dimediasi melalui modulasi saraf sensorik kulit, serupa dengan mekanisme nbUBB. Selain itu, blue light berpotensi menginduksi sel T regulator dan memicu apoptosis sel T.[12]

Lebih lanjut, suatu laporan kasus pasien Grover disease yang gagal terapi dengan terapi standar menjalani terapi total skin electron beam (TSEB) yang diberikan sebagai terapi paliatif untuk mengatasi gangguan pruritus berat dan persisten. Terapi diberikan menggunakan TSEB enam lapangan dengan dosis total 20 Gy dalam 20 fraksi menggunakan elektron 6 MeV, dengan proteksi kepala dan ekstremitas bawah.[13]

Empat minggu setelah terapi, pasien melaporkan hampir seluruh keluhan pruritus menghilang. Pada evaluasi 5 dan 12 bulan, tercapai remisi klinis lengkap berupa hilangnya pruritus dan resolusi lesi papulovesikular tanpa tambahan terapi topikal maupun sistemik.[13]

Referensi

1. Aldana PC., Khachemoune A. Grover disease: review of subtypes with a focus on management options. International Journal of Dermatology. Blackwell Publishing Ltd; 2020. pp. 543–550.
9. Gupta N., Virgen CA., Goyal A., Lane AA., Antin JH., Divito SJ., et al. Novel use of acitretin for posttransplant Grover’s disease and cutaneous graft versus host disease. JAAD Case Reports. Elsevier Inc, 2023; 33: 67–69. DOI:10.1016/j.jdcr.2023.01.011
10. Moodie D., Dunn C., Fernandez C., Nathoo R. Retinoids for the Treatment of Refractory Grover’s Disease: A Case Series and Review of the Literature. Cureus. Springer Science and Business Media LLC; 2024; DOI:10.7759/cureus.53510
11. Kaprive JF., Washburn S., Emerson CM., Mullins T. Successful treatment of resistant Grover’s disease with dupilumab. International Journal of Women’s Dermatology. Wolters Kluwer Medknow Publications; 2024; 10(2): E140. DOI:10.1097/JW9.0000000000000140
12. Olagbenro M., Ravi S., Myers D., Lin D., Woodburn W., Walter JR., et al. Assessment of Blue Light Phototherapy for Grover Disease: A Nonrandomized Controlled Trial. JAMA Dermatology. American Medical Association; 2023; 159(1): 102–104. DOI:10.1001/jamadermatol.2022.4491
13. Renz P, Hasan S, English JC, Wegner RE, Jedrych J, Ho J, Colonias A. Grover’s Disease Treated With Total Skin Electron Beam Radiotherapy. J Drugs Dermatol. 2019;18(4):392-393.
16. Zabawski EJ. Transient Acantholytic Dermatosis (Grover Disease) Treatment & Management. Medscape, 2024. https://emedicine.medscape.com/article/1124347-treatment#d1

Diagnosis Grover Disease
Prognosis Grover Disease

Artikel Terkait

  • 5 Lesi Kulit pada Neonatus
    5 Lesi Kulit pada Neonatus
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 23 Mei 2025, 13:39
Apa diagnosis gatal kulit pada anak yang tepat?
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Alo Dokter. Selamat siang dok, terdapat pasien usia 5 tahun keluhan gatal dan pada kulit sejak 2 minggu. Pasien sering makan sosis. Gatal bertambah saat...
dr.Simon Andri Sihombing
Dibalas 03 April 2025, 16:50
Apakah ada tatalaksana lain untuk miliaria crystalina yang hilang timbul selama 3 bulan selain antihistamin, dexa, dan krim antibiotik?
Oleh: dr.Simon Andri Sihombing
6 Balasan
Alo dokter, saya ada pasien anak laki-laki usia 6 tahun dengan diagnosa miliaria crystallina di bagian dada kanan dan lutut kanan sudah 3 bulan hilang...
dr.Risa
Dibalas 16 Juli 2024, 07:23
Bercak putih seluruh wajah pada pasien 70 tahun
Oleh: dr.Risa
2 Balasan
Alo dokter. Izin berdikusi pasien saya wanita usia 70 th muncul bercak putih di wajahnya. Pasien mengatakan keluhan ini timbul sudah lama (tidak mengingat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.