Penatalaksanaan Grover Disease
Penatalaksanaan Grover disease (GD) bersifat simptomatik dan suportif, karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sering bersifat rekuren. Terapi awal umumnya mencakup kortikosteroid topikal potensi sedang untuk mengendalikan inflamasi dan pruritus, dikombinasikan dengan antihistamin oral untuk mengurangi rasa gatal.[1,9,10,16]
Pendekatan Tata Laksana
Keberhasilan terapi sangat bergantung pada identifikasi dini; pengenalan serta eliminasi faktor pencetus seperti panas, keringat berlebih, imobilisasi, dan obat-obatan tertentu; serta penanganan komponen atopi yang mendasari bila ada. Pada kasus yang dipicu obat, penghentian agen penyebab umumnya diikuti perbaikan lesi dan gejala.[16]
Medikamentosa
Terapi awal pada Grover disease umumnya mencakup kortikosteroid topikal potensi sedang untuk mengendalikan inflamasi dan pruritus, dikombinasikan dengan antihistamin oral untuk mengurangi rasa gatal. Edukasi perawatan kulit atopi sangat penting, termasuk penggunaan emolien secara teratur seperti gliserin 10% dalam sorbolene atau salep emulgasi.[1,16]
Beberapa laporan menunjukkan respons yang baik terhadap calcipotriol topikal, namun penggunaannya harus dibatasi ≤100 g/minggu karena risiko gangguan metabolisme kalsium. Kortikosteroid topikal poten dapat digunakan pada fase akut, tetapi harus dibatasi durasi dan luas pemakaiannya untuk mencegah atrofi kulit, takifilaksis, dan absorpsi sistemik. Kortikosteroid yang sering dipakai contohnya triamcinolone acetonide (TCA) atau fluticasone propionate.[1,16]
Penanganan Kasus Refrakter atau Berat
Pada kasus refrakter atau berat, dapat dipertimbangkan terapi sistemik dan modalitas lain, seperti retinoid berupa vitamin A, isotretinoin, atau acitretin. Pilihan terapi lain adalah methotrexate, serta terapi cahaya dengan UV-B, PUVA, atau UV-A1.[1,11,16]
Modalitas lain yang juga pernah dilaporkan efektif pada kasus tertentu meliputi fotodinamik terapi dengan 5-aminolevulinic acid (ALA-PDT) dan Grenz radiation. Namun, sebagian kecil pasien tetap menunjukkan resistensi terhadap hampir seluruh pilihan terapi konvensional.[16]
Beberapa bukti ilmiah lebih baru menunjukkan peran dupilumab, yakni suatu antibodi monoklonal yang menghambat jalur IL-4 dan IL-13, sebagai alternatif yang lebih aman dan efektif pada Grover disease refrakter. Terapi ini dilaporkan efektif terutama pada pasien dengan fenotipe atopi atau yang memenuhi kriteria dermatitis atopik.[16]
Pilihan Terapi Baru
Sebuah uji non-acak terkontrol pemberian fototerapi blue light pada pasien Grover disease menunjukkan hasil penurunan jumlah lesi dan perbaikan pruritus tanpa efek samping bermakna. Efek antipruritus diduga dimediasi melalui modulasi saraf sensorik kulit, serupa dengan mekanisme nbUBB. Selain itu, blue light berpotensi menginduksi sel T regulator dan memicu apoptosis sel T.[12]
Lebih lanjut, suatu laporan kasus pasien Grover disease yang gagal terapi dengan terapi standar menjalani terapi total skin electron beam (TSEB) yang diberikan sebagai terapi paliatif untuk mengatasi gangguan pruritus berat dan persisten. Terapi diberikan menggunakan TSEB enam lapangan dengan dosis total 20 Gy dalam 20 fraksi menggunakan elektron 6 MeV, dengan proteksi kepala dan ekstremitas bawah.[13]
Empat minggu setelah terapi, pasien melaporkan hampir seluruh keluhan pruritus menghilang. Pada evaluasi 5 dan 12 bulan, tercapai remisi klinis lengkap berupa hilangnya pruritus dan resolusi lesi papulovesikular tanpa tambahan terapi topikal maupun sistemik.[13]