Cedera akibat kontak dengan air laut, atau yang lebih dikenal sebagai sea wound, cenderung lebih rentan terhadap infeksi bakteri dibandingkan cedera biasa. Cedera jenis ini juga memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi dengan bahan organik dan bakteri laut. Cedera yang terkait dengan paparan air laut dapat berupa luka robek akibat benda mati di dalam air, luka tusukan akibat kail ikan atau duri ikan, dan gigitan hewan air.
Luka tersebut merupakan portal of entry dari mikroorganisme air laut yang dapat menyebabkan infeksi. Mikroba air laut berbeda dengan mikroba di darat, sehingga mengobati infeksi bakteri laut memerlukan strategi yang berbeda. Selain itu, karakteristik air laut yang memiliki kandungan garam yang tinggi, suhu rendah, osmolalitas tinggi, dan populasi mikroorganisme yang besar, menyebabkan edema jaringan dan infeksi nekrotik dapat terjadi dengan cepat.[1-3]
Perbedaan Luka yang Berkontak dengan Air Laut
(Konten ini khusus untuk dokter. Registrasi untuk baca selengkapnya)
Referensi
1. Baddour LM. Soft tissue infections following water exposure. In: UpToDate, Sexton DJ, Nelson S, Hall KK (Eds), Waltham: UpToDate; 2023.
2. Geng XY, Wang MK, Chen JH, Xiao L, Yang JS. Marine biological injuries and their medical management: A narrative review. World J Biol Chem. 2023;14(1):1-12. doi:10.4331/wjbc.v14.i1.1
3. Wang X, Tan J, Ni S, Zhou D, Liu B, Fu Q. Antimicrobial efficacy of composite irrigation solution against dominant pathogens in seawater immersion wound and in vivo wound healing assessment. Front Microbiol. 2023;14:1188373.
4. Quinn J, Fairbairn W, Silveira G, Platt S. Seawater exposure to surgical wounds: an alarming patient perspective. WPR. 2022; 30(3):139-142.
5. Emigh B dan Trust MD. Contaminated wounds: fresh water, salt water, and agricultural contamination. Curr Trauma Report. 2018; 4:305-315.
6. Rensch G, Murphy-Lavoie HM. Lionfish, Scorpionfish, and Stonefish Toxicity. [Updated 2023 Jul 31]. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing