Integrasi sistem robot dalam dunia medis menandai salah satu perubahan paradigma mendasar dalam pelayanan kesehatan. Perubahan tersebut tidak sekedar otomatisasi tindakan, melainkan juga perluasan kemampuan klinisi untuk melakukan prosedur, misalnya melihat area yang sebelumnya tidak terlihat, menjangkau daerah anatomis yang sulit dilewati, atau melakukan rehabilitasi sistem saraf secara presisi.[1,2]
Berbeda dengan persepsi umum di mana teknologi robotik umumnya hanya dimiliki negara maju, Indonesia saat ini juga sudah menunjukkan percepatan adopsi teknologi canggih. Diawali dengan adopsi sistem da Vinci tahun 2012, terobosan telerobotik jarak jauh antara Jakarta dan Bali tahun 2024, hingga adopsi robotik di bidang ortopedi yang masif, Indonesia saat ini turut menjadi pemain kunci inovasi medis di Asia Tenggara.
Robot dalam Pembedahan
Robot bedah adalah teknologi yang paling terlihat dalam adopsi inovasi robotik. Secara garis besar, robot bedah diklasifikasikan berdasarkan modalitas kontrol interaksi antara klinisi dan mesin.[3,4]
Tipe Sistem Robotik dalam Pembedahan
Terdapat sistem master-slave maupun sistem kontrol dan pengawasan yang bisa dipilih untuk pembedahan robotik.[3,4]
Sistem Master-Slave:
Dalam sistem ini, robot tidak memiliki kendali apa pun untuk membuat keputusan klinis. Robot sepenuhnya tergantung pada perintah dan gerakan operator. Biasanya, klinisi akan duduk di konsol yang terpisah dari meja operasi, lalu gerakannya diterjemahkan secara langsung ke lengan robot pada tubuh pasien.[3,4]
Sistem ini menawarkan beberapa keunggulan, yaitu menghilangkan tremor fisiologis dan memungkinkan tindakan lebih presisi karena ada penskalaan (misalnya gerakan 5 cm pada tangan operator menjadi 1 cm pada robot). Contoh sistem ini adalah da Vinci Surgical System.[3,4]
Sistem Kontrol dan Pengawasan:
Dalam sistem ini, klinisi merencanakan seluruh prosedur sebelum tindakan. Selama operasi, robot akan mengeksekusi tugas spesifik seperti pemotongan tulang di bawah pengawasan klinisi. Dokter bisa memegang instrumen tetapi robot memberikan batasan (seperti pagar virtual) untuk mencegah instrumen keluar dari zona yang direncanakan. Contoh adopsi teknologi ini adalah Mako SmartRobotics pada bedah ortopedi.[5]
Contoh Aplikasi Sistem Robotik dalam Bedah Ortopedi
Bedah ortopedi menunjukkan keragaman adopsi robotik yang pesat. Saat ini terdapat beberapa jenis robot ortopedi di Indonesia, seperti Mako SmartRobotics, ROSA Knee System, VELYS Robotic-Assisted Solution, dan CUVIS Joint.
Mako SmartRobotics:
Sistem ini menggunakan pendekatan yang berbasis haptic feedback. Sebelum operasi, pasien menjalani CT scan terlebih dahulu. Dari data tersebut, model anatomi tulang 3D akan dibuat. Klinisi kemudian merencanakan ukuran dan posisi secara virtual. Selama operasi, operator memegang instrumen dengan batasan yang sudah ditentukan. Bila mencoba keluar batasan, operator akan merasakan resistansi berat atau berhenti total. Fitur AccuStop ini meminimalkan kesalahan manusia dan menjamin keamanan.[5]
ROSA Knee System:
ROSA (Robotic Surgical Assistant) telah diadopsi oleh beberapa rumah sakit seperti RS Santo Borromeus dan EMC Alam Sutera. ROSA menggunakan sistem pelacakan optik dan bisa mengubah model X-ray menjadi model 3D, sehingga tidak selalu memerlukan CT scan. Cutting guide pada ROSA memiliki akurasi milimeter dengan deteksi gerakan, sehingga akurasi tetap terjaga.[9,10]
VELYS Robotic-Assisted Solution:
Keunggulan utama VELYS adalah tidak memerlukan CT scan praoperasi. Robot dapat memetakan anatomi secara real-time dengan inframerah berkecepatan tinggi. Selain melakukan tindakan, VELYS juga memberikan informasi ketegangan ligamen, sehingga memungkinkan klinisi menyeimbangkan sendi dengan sempurna sebelum melakukan pemotongan.[11]
CUVIS-Joint:
CUVIS-Joint merupakan teknologi dari Korea Selatan yang sudah diadopsi di RS Tzu Chi. CUVIS memiliki kemampuan active milling, di mana robot bisa memotong tulang secara mandiri di bawah pengawasan ahli bedah dengan presisi sub-milimeter.[12]
Contoh Aplikasi Sistem Robotik dalam Bedah Saraf
Beberapa RS di Indonesia juga telah mengadopsi sistem robotik dalam bidang bedah saraf. Brainlab Cirq Robotic Suite di RS Siloam dirancang untuk prosedur tulang belakang dan kranial yang membutuhkan akurasi sangat tinggi. Robot ini bertindak sebagai lengan mekanis yang stabil untuk memandu prosedur drilling dan pemasangan sekrup dibantu oleh navigasi komputer.[13]
Contoh Aplikasi Sistem Robotik dalam Bedah Lainnya
Pada bulan Agustus 2024, RS Cipto Mangunkusumo telah berhasil melakukan operasi telerobotik pertama. Prosedur pengangkatan kista ginjal ini menggunakan teknologi Edge Medical Robotics dari Cina, dengan operator di RS Prof. Ngoerah, Bali dan pasien di RS Cipto Mangunkusumo. Operasi berjalan sukses dengan jeda waktu yang hampir tidak terasa.[14,15]
Robot dalam Rehabilitasi
Di luar ruangan operasi, teknologi robotika juga merevolusi rehabilitasi setelah stroke, cedera tulang belakang, dan penyakit neurodegeneratif. Berbeda dengan robot bedah yang bekerja pada tubuh pasien untuk memperbaiki kondisi patologis, sistem robotika rehabilitasi bekerja bersama pasien untuk memulihkan fungsi. Beberapa contohnya adalah eksoskeleton dan robot-end effector.[2,6,7]
Eksoskeleton berfungsi untuk menopang tubuh dan menggerakkan ekstremitas. Salah satu contohnya adalah Hybrid Assistive Limb yang menggunakan sinyal dari otak untuk memicu gerakan. Sementara itu, robot-end effector memegang salah satu ekstremitas dan menggerakkannya sebagai bagian dari latihan rehabilitasi pasca stroke.[2,6,7]
Pusat rehabilitasi di RS Hermina menggunakan teknologi Hybrid Assistive Limb (HAL) pada rehabilitasi saraf. Ketika pasien ingin menggerakkan kaki, sensor HAL pada kulit mendeteksi sinyal bioelektrik yang lemah dan merespons dengan menggerakkan kaki sesuai niat pasien. Siklus ini mengajarkan kembali cara otak menggerakkan kaki dan memperkuat neuroplastisitas, yang dilaporkan lebih efektif daripada rehabilitasi fisik konvensional yang menggerakkan kaki secara pasif.[2,6]
Robot dalam Bidang Nonklinis
Robotika nonklinis tidak secara langsung berhadapan dengan pasien tetapi menangani aspek logistik dan sanitasi rumah sakit. Contohnya adalah AMR (Autonomous Mobile Robots) yang dapat digunakan untuk disinfeksi ruangan menggunakan sinar UVC dan transportasi logistik obat, makanan, serta linen. Teknologi ini lahir sebagai respons terhadap pandemi COVID-19 untuk melindungi tenaga medis dari paparan virus.[2,8]
Automated UVC Mobile Robot (AUMR) juga digunakan di Indonesia untuk disinfeksi saat pandemi COVID-19. Robot ini dilengkapi sensor garis magnetik dan algoritma yang mampu menavigasi sendiri ruangan isolasi pasien dan memungkinkan sterilisasi ruangan tanpa membahayakan tenaga medis. Selain itu, robot membantu transportasi logistik, sehingga tenaga medis dapat lebih berfokus ke pelayanan dan meningkatkan kualitas interaksi dengan pasien.[8,16]
Kesimpulan
Integrasi sistem robotik ke dalam pelayanan kesehatan, baik dalam bedah, rehabilitasi, maupun aspek nonklinis, memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan dan pasien. Robot bisa meminimalkan risiko kesalahan operator, meningkatkan presisi operasi, mempercepat kemajuan rehabilitasi, dan memungkinkan ahli bedah untuk mengoperasi pasien secara jarak jauh.
Tantangan teknologi robotik di Indonesia umumnya terkait biaya dan keterbatasan cakupan BPJS. Selain itu, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia juga masih perlu diperhatikan. Untuk saat ini, beberapa rumah sakit telah berhasil mengaplikasikan sistem robotik di Indonesia dengan sukses, sehingga menjadi potensi yang menjanjikan untuk semakin dikembangkan di masa depan.
