Pemberian vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) pada remaja dan dewasa mulai dipertimbangkan, tetapi manfaat dan efikasinya dalam mencegah tuberkulosis masih dipertanyakan. Salah satu penyebab hal ini adalah masih kurang kuatnya basis bukti yang mendukung efikasi revaksinasi BCG pada remaja dan dewasa. Bukti yang ada masih menunjukkan hasil yang berbeda-beda.[1]
Vaksin BCG
Vaksin BCG telah digunakan sejak tahun 1921 untuk mencegah infeksi tuberkulosis (TB). Vaksin ini berasal dari bakteri Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Efek proteksi dari BCG diketahui bervariasi bergantung pada lokasi geografis, tetapi belum diketahui secara pasti mengapa BCG berhasil atau gagal dalam memproteksi terhadap kuman TB.[2]
Sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin BCG diberikan pada bayi segera setelah lahir, atau secepat mungkin sebelum bayi berusia 1 bulan. Jika bayi telah berusia >2 bulan, vaksin BCG diberikan setelah uji tuberkulin memberikan hasil negatif.[3]
Vaksinasi BCG pada Remaja dan Dewasa
Vaksinasi BCG selama ini direkomendasikan sejak usia neonatus dan dapat diberikan pada anak >2 bulan setelah diketahui uji tuberkulin negatif. Hal tersebut mengacu pada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa kemampuan proliferasi sel CD4 terhadap BCG lebih besar pada usia bayi dibandingkan usia anak yang lebih besar.
Belum terdapat banyak data mengenai pemberian vaksin BCG serta efektivitasnya pada usia remaja dan dewasa. Namun, WHO menyebutkan bahwa pemberian vaksinasi BCG pada anak usia sekolah tanpa riwayat vaksinasi sebelumnya disertai hasil uji tuberkulin negatif atau hasil interferon-ɣ release assay (IGRA) negatif, dapat memberikan proteksi hingga >20 tahun.[4]
Adakah Basis Bukti Efikasi Vaksin BCG pada Remaja dan Dewasa?
Sebuah nested randomised controlled trial (RCT) di Brazil melibatkan 2568 tenaga kesehatan berusia ≥18 tahun, yang dibagi ke dalam kelompok revaksinasi BCG dan kelompok plasebo. Hasil analisis menunjukkan bahwa revaksinasi BCG pada dewasa tidak memberikan manfaat protektif yang signifikan secara klinis maupun statistik dalam mencegah infeksi M. tuberculosis.
Angka konversi primer QuantiFERON-TB Gold (QFT) Plus test pada kelompok BCG (3,4%) tidak menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik dibandingkan kelompok plasebo (3,2%). Demikian pula pada luaran sekunder terkait konversi yang dipertahankan (sustained conversion) hingga 18 bulan, kelompok BCG (1,5%) tidak berbeda secara signifikan dari plasebo (1,9%).[1]
Hasil serupa juga dilaporkan dalam sebuah RCT double-blind fase 2b pada remaja sehat berusia 10–18 tahun di Afrika Selatan. Studi yang melibatkan 1836 partisipan ini menyimpulkan bahwa revaksinasi BCG tidak memberikan manfaat efikasi protektif terhadap sustained infection tuberkulosis.
Berdasarkan analisis populasi modified intention-to-treat dengan pemantauan median selama 30 bulan, tingkat sustained QFT conversion pada kelompok revaksinasi BCG tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kelompok plasebo. Dalam hal efek samping, studi ini melaporkan bahwa revaksinasi BCG aman dan hanya bersifat ringan seperti reaksi pada lokasi injeksi (nyeri, kemerahan, bengkak, dan ulserasi).[5]
Vaksinasi BCG untuk Anak dan Remaja menurut WHO
Menurut WHO, vaksinasi BCG pada usia selain neonatus dipertimbangkan hanya pada anak usia sekolah yang belum menerima vaksin BCG sebelumnya, dengan hasil tuberculin skin testing (TST) negatif atau IFN-gamma release assay (IGRA) negatif, yang tinggal atau akan pindah ke area dengan tingkat insidensi atau burden tuberkulosis tinggi.
Selain itu, vaksin BCG juga dipertimbangkan pada individu dengan TST dan IGRA negatif yang memiliki risiko pajanan tinggi dari pekerjaan, seperti tenaga kesehatan di area dengan insidensi atau burden tuberkulosis tinggi.
Dalam hal revaksinasi BCG, WHO belum menganjurkan untuk memberikan ulang vaksin BCG pada anak, remaja, dan dewasa yang sudah mendapat vaksin BCG saat bayi.[6,7]
Kesimpulan
Vaksin BCG merupakan vaksinasi yang diberikan pada bayi segera setelah lahir untuk mencegah infeksi tuberkulosis. Mengingat tingginya disease burden dari tuberkulosis, pemberian vaksin BCG pada remaja dan dewasa diharapkan dapat bermanfaat. Namun, bukti ilmiah yang ada belum mendukung manfaat pemberian vaksin BCG pada remaja dan dewasa. WHO juga tidak menganjurkan pemberian vaksin BCG pada remaja dan dewasa yang sudah mendapat vaksinasi saat bayi.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
