Hubungan antara Diet dengan Gout

Oleh :
dr.Anastasia Feliciana

Diet rendah purin dianggap mampu menurunkan kadar asam urat darah, sehingga mencegah kejadian gout. Arthritis gout, atau yang biasa disebut gout saja, disebabkan oleh deposit kristal asam urat pada sendi yang mencetuskan respon inflamasi. Predileksi gout yang klasik adalah pada sendi metatarsophalangeal di ibu jari kaki.

Hiperurisemia merupakan faktor risiko terjadinya serangan gout, yang umumnya didefinisikan sebagai kadar asam urat >6,8 mg/dl (404 µmol/L).  Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kadar asam urat darah, yaitu produksi berlebihan misalnya akibat diet tinggi purin, serta akibat ekskresi yang kurang misalnya karena konsumsi diuretik, gagal ginjal, dan defek genetik.[1-4]

Hubungan antara Diet dengan Gout

Selama ini, diet rendah purin diasumsikan akan mencegah kejadian dan rekurensi gout, tetapi belum banyak bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut.

Hubungan Diet dan Gout

Beberapa faktor makanan telah dihubungkan dengan gout melalui studi observasional. Telah ada bukti ilmiah yang menemukan bahwa konsumsi alkohol, minuman dengan pemanis, daging, makanan laut, dan makanan tinggi fruktosa memiliki asosiasi positif dengan gout.

Sementara itu, konsumsi produk susu, kopi, dan mikronutrien telah diasosiasikan dengan insidensi gout dan gout flare yang lebih rendah. Walaupun begitu, banyak studi ini memiliki risiko bias yang tinggi, misalnya recall bias, dan juga tidak bisa menentukan hubungan kausatif antara diet dengan gout.[5]

Asupan Diet dan Risiko Gout

Sebuah studi oleh Zhang et al., melibatkan 633 subjek studi, mencoba mengevaluasi hubungan antara asupan purin dengan risiko rekurensi gout. Studi ini menemukan bahwa asupan tinggi purin akan meningkatkan risiko rekurensi serangan gout sebanyak 5 kali lipat. Mereka menyimpulkan bahwa menghindari atau mengurangi asupan makanan tinggi purin, khususnya dari sumber hewani, dapat mengurangi risiko serangan gout.[6]

Suatu studi kohort prospektif menggunakan data 187.387 peserta UK Biobank untuk meneliti hubungan antara asupan berbagai jenis karbohidrat dan risiko terkena gout selama median follow-up 11,69 tahun. Peneliti membedakan karbohidrat menjadi total karbohidrat, gula total, free sugars (gula tambahan), non-free sugars (gula alami dalam buah, sayur, dan produk susu), pati, serta serat.

Hasil studi menunjukkan bahwa asupan total karbohidrat, non-free sugars, pati, dan serat yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko gout lebih rendah. Di sisi lain, asupan free sugars yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko gout yang lebih tinggi. Hubungan ini juga dipengaruhi oleh tingkat risiko genetik seseorang dan sebagian hubungan antara karbohidrat dengan gout tampaknya dimediasi oleh biomarker, terutama kadar urat serum.[1]

Penelitian lain ingin mengetahui apakah konsumsi berbagai jenis makanan dan makronutrien memiliki hubungan kausal dengan kadar asam urat dan risiko serangan gout menggunakan metode Mendelian randomization (MR). Peneliti memanfaatkan data genetik yang berkaitan dengan pola konsumsi 17 jenis makanan (termasuk teh, kopi, daging sapi, daging babi, unggas, ikan, keju, gula, alkohol, sereal, buah, dan sayuran), kemudian menghubungkan dengan data genetik.

Hasil menunjukkan bahwa secara genetik, asupan gula dan ikan non-berminyak (non-oily fish) berhubungan dengan peningkatan kadar asam urat. Untuk gout sendiri, frekuensi konsumsi alkohol dan konsumsi unggas berhubungan dengan peningkatan risiko gout. Secara khusus, setiap peningkatan satu unit frekuensi konsumsi alkohol dikaitkan dengan sekitar 1,42 kali risiko gout. Namun, kekuatan bukti dalam studi ini tidak konsisten dan belum adekuat.[2]

Kandungan Purin dalam Makanan

Kacang-kacangan, produk kacang kedelai, dan sereal rerata mengandung ≤50 mg/100 g purin. Kacang kedelai kering mengandung lebih banyak purin dibandingkan kacang lain, yaitu 172,5 mg/100 g. Tahu, susu kedelai, dan produk olahan kacang kedelai lain mengandung ≤50 mg/100 g purin.

Sekitar 70% sayuran memiliki kadar purin ≤50 mg/100 g. Contoh sayuran dengan kandungan purin sedang hingga tinggi adalah parsley dan bayam. Di lain pihak, 60% daging memiliki kandungan purin ≥100 mg/100g.

Hati ayam memiliki kandungan purin yang sangat tinggi, yaitu 312,2 mg/100 g. Sementara itu, hati sapi mengandung 219,8 mg/100 g purin dan hati babi mengandung 284,8 mg/100 g purin.  Kandungan purin pada daging olahan berkisar 45,5-138,3 mg/100 g, dengan kandungan tertinggi ditemukan pada prosciutto dan salami.

Sama seperti daging, kebanyakan ikan mengandung ≥100 mg/100 g purin. Beberapa contoh makanan laut dengan kandungan purin tinggi adalah ikan sarden, bonito, gnomefish, dan udang kecil (krill).[7]

Berikut merupakan perkiraan nilai kandungan purin yang tergolong rendah dalam berbagai jenis makanan:

  • Telur dan kebanyakan produk susu mengandung hampir tidak ada purin atau ≤13 mg/100 g.

  • Kebanyakan jamur juga mengandung kadar purin yang rendah, berkisar antara 6,9-98,5 mg/100 g.

  • Pisang dan stroberi juga memiliki kadar purin yang rendah yaitu 2-3 mg/100g.[7]

Diet untuk Mencegah Gout

Sebuah studi potong lintang pada 2076 subjek sehat mendapatkan bahwa konsumsi produk susu, kalsium, laktosa, dan minuman yang diberi pemanis meningkatkan kadar asam urat secara signifikan. Namun, konsumsi sayuran tinggi purin dan asupan fruktosa dengan kalori terukur ditemukan tidak berhubungan dengan kadar asam urat plasma. Studi ini menyimpulkan bahwa pembatasan konsumsi sayuran tinggi purin tidaklah efektif untuk mengurangi kadar asam urat.[8]

Sebuah tinjauan sistematik menyebutkan bahwa konsumsi makanan tinggi purin yang bersumber dari hewan dan makanan laut merupakan faktor kunci meningkatnya kadar asam urat. Sementara itu, makanan tinggi purin dari sayuran, tidak mengakibatkan efek serupa secara bermakna.

Studi ini juga melaporkan bahwa konsumsi vitamin C dapat meningkatkan ekskresi asam urat, sehingga bisa digunakan sebagai suplemen tata laksana gout. Dikatakan juga bahwa konsumsi makanan kaya vitamin C, minyak dari tanaman seperti minyak zaitun, minyak bunga matahari, dan kedelai dapat mengurangi risiko hiperuresemia dan gout.[6,8]

Diet DASH untuk Gout

Sebuah penelitian kohort prospektif menunjukkan bahwa pola diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) berhubungan dengan risiko gout yang lebih rendah. Sebaliknya, pola diet Western (tinggi asupan daging merah, daging olahan, makanan dengan pemanis, kentang goreng, dan biji-bijian olahan) berkaitan dengan peningkatan risiko gout 1,42 kali lipat. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa diet DASH baik dalam menurunkan kadar asam urat, sehingga dapat mencegah gout.[9]

Pola diet DASH merupakan kombinasi konsumsi bahan makanan rendah natrium (<300 mg/hari), tinggi kalium (4700 mg/hari), magnesium (>420 mg/hari), kalsium (>1000 mg/hari), dan serat (25-30 g/hari), serta rendah asam lemak jenuh dan kolesterol (<200 mg/hari). Dalam pola diet ini, dianjurkan memakai bahan makanan segar, alami, dan tidak melalui proses industri.

Diet DASH lebih menekankan asupan buah-sayur agar tercapai serat 30 g dalam sehari untuk rencana makan 2100 kalori per hari, rendah produk susu, dan rendah lemak jenuh. Kalori harian yang dianjurkan dalam diet DASH berasal dari 55% karbohidrat, 18% protein, 27% lemak, dan tidak boleh lebih dari 6% lemak jenuh.[6,9]

Kesimpulan

Studi observasional yang ada menunjukkan bahwa konsumsi makanan berbasis hewan, produk susu, dan minuman yang mengandung pemanis dapat meningkatkan risiko hiperurisemia dan gout. Sementara itu, diet berbasis tanaman, termasuk juga tanaman tinggi purin, tidak meningkatkan kadar asam urat dan risiko gout. Lebih lanjut, ada pula studi yang menunjukkan bahwa pola diet DASH, yang biasa digunakan untuk pasien hipertensi, juga bermanfaat dalam mencegah kejadian gout.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi