Dok izin, expert dr Sp.PD-KGEHDok izin menanyakan terdapat pasien hamil 32 mgg sudah di rujuk ke kgeh dari 29 mgg pemeriksaan sgot sgpt usg normal dan hbeag...
Pasien hamil 32 mgg dengan HBeAg reaktif yang membutuhkan tes DNA HBV - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Pasien hamil 32 mgg dengan HBeAg reaktif yang membutuhkan tes DNA HBV
Dok izin, expert dr Sp.PD-KGEH
Dok izin menanyakan terdapat pasien hamil 32 mgg sudah di rujuk ke kgeh dari 29 mgg pemeriksaan sgot sgpt usg normal dan hbeag reaktif tapi untuk pemeriksaan hbvdna tdk di cover di rs tipe b lalu di rujuk ketipe A tdk ada kouta sampai lahiran bagaimana solusinya ya dok ? Katanya dia menayakan dktr penyakit dalam online rs tipe A pun tdk tercover hbv dna, jadi dia bingung untuk pengobatannya bagaimana dan sangat khawatir sudah mau melahirkan tdk dapat terapi antivirus karena literaturnya hanya hbvdna sedangkan pemeriksaannya sgt mahal jika mandiri? Apakah ada solusi dok?
ALO Dokter, wanita hamil dengan level DNA HBV >200.000 IU/ml sebaiknya memang diberikan terapi profilaksis tenofovir disoproxil fumarate (TDF) mulai usia gestasi 24–28 minggu hingga 12 minggu pasca persalinan guna mencegah transmisi vertikal (penularan virus dari ibu ke bayi).
Untuk menyelamatkan bayi, dianjurkan pula untuk memberikan HBIg (immunoglobulin hepatitis B) dan vaksin hepatitis B pada bayi setelah lahir dalam 12 jam pertama pasca kelahiran. Jadi, ibu sebaiknya melahirkan di rumah sakit yang tersedia dua vaksin ini untuk neonatus.
https://www.alomedika.com/hepatitis-b-pada-kelompok-populasi-khusus
Jika pemeriksaan DNA HBV tidak tersedia, misalnya karena sumber daya terbatas, keputusan pengobatan dapat diambil hanya berdasarkan status HBeAg positif. Pilihan terapi:
- TDF 300 mg peroral 1 kali sehari, mulai pada usia kehamilan 32 minggu.
- Lanjutkan hingga persalinan, atau menurut beberapa protokol dilanjutkan selama 4–12 minggu pasca persalinan.
Terapi ini harus/tepat diberikan walaupun pemeriksaan DNA tidak dapat diperoleh sebelum persalinan, di mana pasien memiliki status HBeAg positif. Tujuannya untuk mencegah transmisi vertikal.
Informasi terkait obat:
- TDF umumnya dianggap aman digunakan selama kehamilan dan memiliki data keamanan yang memadai.
- TDF juga umumnya dianggap aman untuk ibu menyusui.
- Untuk pasien dengan gangguan ginjal, disarankan untuk periksa kadar kreatinin serum (eGFR) jika memungkinkan sebelum memulai pengobatan; penyesuaian dosis diperlukan pada kasus gangguan fungsi ginjal yang signifikan.
- Efek samping TDF yang umum dilaporkan addalah mual, sakit kepala, disfungsi ginjal, kehilangan fosfat. Sementara itu, efek jangka panjang terhadap tulang kurang relevan untuk penggunaan profilaksis jangka pendek ini.