Rasio Soluble Fms-like Tyrosine Kinase 1 (sFlt-1) dengan Placental Growth Factor (PlGF) diduga bermanfaat jika digunakan sebagai biomarker untuk menentukan prognosis Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Akan tetapi, penggunaannya secara rutin di praktik klinis masih menimbulkan pertentangan.
Rasio sFlt-1 dengan PlGF dikenal dengan fraksi preeklampsia, dahulu diteliti untuk menjadi biomarker untuk deteksi preeklampsia. sFlt-1 adalah biomarker antiangiogenik yang beredar bebas di serum dengan mengikat dan menetralisasi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan PlGF.
Penggabungan skrining algoritma dan biomarker rasio sFlt-1/PIGF sudah digunakan untuk mendeteksi preeklampsia, terutama pada wanita hamil yang tidak memiliki gejala khas preeklampsia. Sebagai contoh, kasus-kasus wanita hamil dengan hipertensi borderline, wanita dengan tekanan darah tinggi yang menetap, dan wanita yang tidak sesuai dengan kriteria diagnosis preeklampsia.
Selain itu, beberapa studi menilai peningkatan rasio sFlt-1/PIGF berhubungan dengan risiko luaran kelahiran yang tidak diinginkan, imbalans pada regulator angiogenik, dan dapat memprediksi luaran klinis IUGR.[1-5]
Kaitan sFlt-1/PIGF dan Permasalahan Uteroplasenta
Soluble fms-like tyrosine kinase 1 (sFlt-1) merupakan biomarker antiangiogenik. sFlt-1 beredar bebas di serum dengan mengikat dan menetralisasi VEGF dan PlGF. sFlt-1 secara fisiologis disekresikan oleh plasenta manusia dan dihasilkan dalam jumlah berlebih oleh plasenta yang mengalami preeklampsia. Biomarker sFlt-1 merupakan inhibitor endogen mayor angiogenesis yang ditemukan di plasenta.
Kadar sFlt-1 yang tinggi menyebabkan proses angiogenesis plasenta terganggu yang menyebabkan vasokonstriksi yang berhubungan dengan patogenesis preeklampsia. Hal ini menyebabkan suplai darah dan nutrisi dari sistem uteroplasenta juga terganggu yang berperan penting dalam pertumbuhan janin intra uteri dan berat badan lahir.[4-8]
Basis Bukti Hubungan Kadar sFlt-1/PIGF dengan Luaran IUGR
Sebuah studi retrospektif observasional, menunjukkan bahwa kelompok dengan rasio sFlt-1/PlGF meningkat mengalami luaran kehamilan yang jauh lebih buruk, termasuk prevalensi preeklampsia yang lebih tinggi (68%), kejadian kematian janin intrauterin sebesar 9,3%, serta kematian neonatal yang lebih sering. Lebih lanjut, luaran neonatus juga lebih buruk, yakni memiliki berat lahir lebih rendah, serta lebih banyak mengalami komplikasi seperti sepsis dan distres napas.[2]
Sebuah kohort retrospektif yang dilakukan di Lisboa meninjau seluruh kehamilan tunggal yang didiagnosis early fetal growth restriction sebelum usia kehamilan 32 minggu di periode 2016–2020. Setelah mengecualikan kasus infeksi, kelainan kromosom, malformasi janin, dan terminasi medis kehamilan, diperoleh sekitar 116 kehamilan dengan early IUGR. Pada saat diagnosis, sampel darah ibu diambil untuk mengukur rasio sFlt-1/PlGF, yang dianggap positif bila ≥85.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio sFlt-1/PlGF yang lebih tinggi berhubungan kuat dengan persalinan yang lebih dini dan interval yang lebih pendek menuju persalinan atau kematian janin. Kehamilan dengan rasio positif memiliki usia kehamilan saat persalinan yang lebih rendah (31,7 vs 36,0 minggu) dan waktu menuju persalinan yang jauh lebih singkat (1,9 vs 5,7 minggu) dibandingkan rasio negatif. Semua enam kasus kematian janin dalam penelitian ini memiliki rasio sFlt-1/PlGF positif.
Selain itu, analisis kesintasan menunjukkan bahwa rasio positif meningkatkan risiko persalinan atau kematian janin lebih awal hampir 10 kali lipat (HR 9,87), dan rasio sFlt-1/PlGF memiliki kemampuan prediksi yang baik untuk mengidentifikasi kebutuhan persalinan karena indikasi janin dalam 1 minggu berikutnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa rasio sFlt-1/PlGF merupakan biomarker untuk memprediksi progresivitas dan luaran buruk pada kasus IUGR.[1]
Nilai Cut-Off Rasio sFlt-1/PIGF Masih Bervariasi Antar Studi
Sebuah studi di Eropa melibatkan 74 subjek penelitian yang membandingkan kelompok ibu hamil usia 28-35 minggu dengan berat janin <10 persentil dengan berat janin > 10 persentil membuktikan adanya hubungan sFlt-1/PlGF dengan insidensi pertumbuhan janin terhambat.
Penelitian ini mengungkapkan nilai cut-off rasio sFlt-1/PlGF pada kelompok pertumbuhan janin terhambat dibandingkan kontrol adalah 103,6 vs 5,20 (p<0,001). Untuk cut-off value ratio sFlt-1/PlGF ibu hamil dengan preeklampsia, penelitian ini mendapatkan nilai cut-off sebesar 36,065 yang hampir menyamai nilai cut-off oleh Zeisler (38).[5]
Nilai Cut-off Rasio sFlt-1/PIGF yang Optimal Masih Belum Jelas
Studi kohort di Korea yang melibatkan 530 ibu hamil dengan usia kehamilan 24-36+6 minggu menganalisis rasio sFlt-1/PIGF. Kadar sFlt-1 dan PIGF diukur pada usia 24-28+6 minggu dan pada usia 29-36+6 minggu. Dari 530 ibu hamil tersebut, sebanyak 22 kasus preeklampsia di eksklusi (4,1%), 47 masuk pada kelompok IUGR, dan 461 masuk pada kelompok kontrol.
Rasio sFlt-1/PIGF pada usia kehamilan 24-28+6 minggu memang menunjukan nilai yang lebih tinggi dengan cut-off 11,25 pada kelompok IUGR dibandingkan kelompok kontrol (sensitivitas 60% dan spesifisitas 61,9%). Rasio sFlt-1/PIGF dengan cut-off 28,15 di usia 29-36+6 minggu secara signifikan dapat memprediksi luaran IUGR (sensitivitas 76,9% dan spesifisitas 88%).[9]
Studi prospektif yang melibatkan 730 kehamilan usia 32-37 minggu di Jerman juga membuktikan rasio sFlt-1/PIGF pada trimester ke 3 dapat memprediksi preeklampsia dan kejadian IUGR dengan nilai cut-off 15,59.[10]
Meta-analisis yang melibatkan 26 studi dengan total 2514 bayi yang mengalami IUGR menunjukan cut-off yang bervariasi untuk sFlt-1 dan PIGF. Dengan hasil yang bervariasi tersebut, peneliti menganggap sFlt-1 dan PIGF belum dapat digunakan sebagai tes skrining untuk memprediksi IUGR selama masa kehamilan.[11]
Kesimpulan
Beberapa studi mengindikasikan bahwa rasio serum Soluble Fms-like Tyrosine Kinase 1 (sFlt-1) dengan Placental Growth Factor (PlGF) dapat menjadi salah satu prediktor luaran dari Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Studi menunjukkan bahwa peningkatan rasio sFlt-1/PIGF berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas yang lebih buruk pada kasus IUGR.
Meski demikian, kebanyakan studi yang tersedia merupakan studi observasional. Masih belum ada studi yang spesifik menilai akurasi diagnostik rasio sFlt-1/PIGF dan kaitannya dengan luaran kehamilan.
Selain itu, nilai cut-off yang optimal masih bervariasi antar studi dan berdasarkan usia kehamilan, serta belum terdapat konsensus internasional yang merekomendasikan rasio sFlt-1/PIGF sebagai metode skrining utama IUGR. Atas dasar ini, penggunaan rutin rasio sFlt-1/PIGF dalam praktik klinis masih sulit dilakukan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum rasio sFlt-1/PIGF bisa diterapkan dalam manajemen IUGR.
Direvisi oleh: dr, Bedry Qintha
