Patofisiologi Sindrom Zollinger-Ellison
Patofisiologi sindrom Zollinger-Ellison melibatkan suatu gastrinoma yang terletak di duodenum atau pankreas (segitiga gastrinoma). Gastrinoma merupakan suatu tumor neuroendokrin lambung (Gastro Neuroendocrine Tumor/GNET) tipe 2 yang mensekresi grastin, sehingga menstimulasi produksi asam lambung berlebihan.[2-4]
Gambar 1. Segitiga Gastrinoma (Gastrinoma Triangle)
Gastrinoma pada Sindrom Zollinger-Ellison
Gastrinoma paling sering terletak di duodenum, terutama di bagian proksimalnya, dan di urutan kedua di pankreas. Jarang ditemukan di tempat lain di rongga perut, termasuk kelenjar getah bening, lambung, mesenterium, kapsul ginjal, limpa, omentum, ovarium, serta saluran hati atau empedu. Kurang dari 0,3% tumor primer ditemukan di lokasi ekstra-abdominal seperti jantung dan paru-paru. Diperkirakan tumor ini bersifat ganas pada 60–90% kasus.
Gastrinoma ini menghasilkan hormon gastrin secara berlebihan. Gastrin adalah hormon yang diproduksi oleh sel-G di bagian pilorus lambung dan bagian awal duodenum, yang bertanggung jawab untuk merangsang sel parietal untuk mensekresi asam klorida. Kelebihan gastrin juga menyebabkan peningkatan jumlah sel parietal dan sel enterochromaffin-like (ECL) sebanyak 4 hingga 6 kali lipat.[3]
Hipersekresi Lambung Akibat Gastrinoma
Pelepasan gastrin secara ektopik oleh gastrinoma adalah penyebab langsung dari hipersekresi lambung. Pada pasien sindrom Zollinger-Ellison tipikal, hipergastrinemia puasa mengakibatkan peningkatan sekresi asam basal (BAO) sekitar 4 kali lipat dan pada beberapa pasien, BAO meningkat lebih dari 10 kali lipat. Hal ini bisa menyebabkan ulkus peptikum.[1,2]
Hipergastrinemia kronis juga memiliki efek trofik pada mukosa lambung. Hal ini berkontribusi pada peningkatan BAO dan peningkatan kapasitas maksimal untuk mensekresi asam, seperti yang ditunjukkan oleh pasien sindrom Zollinger-Ellison yang memiliki peningkatan sekresi asam maksimal (MAO).[1,2,5]
Kelebihan asam lambung merusak mukosa lambung dan usus halus, yang mengakibatkan gangguan transportasi lemak dan inaktivasi lipase pankreas. Gangguan ini mengakibatkan terjadinya diare, yang mempengaruhi hingga 70% pasien yang menderita sindrom Zollinger-Ellison. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa dalam perjalanan sindrom Zollinger-Ellison, asam empedu dapat mengendap di usus halus, yang bermanifestasi sebagai diare berlemak (steatorea).[3,5]
Kelainan MEN-1 pada Sindrom Zollinger-Ellison
MEN-1 adalah kelainan autosomal dominan, yang insidensinya diperkirakan dari studi postmortem acak sebesar 0,25%, dan berkisar antara 1-18% pada pasien dengan hiperparatiroidisme primer, 16-38% pada pasien dengan gastrinoma, dan kurang dari 3% pada pasien dengan tumor hipofisis.[1,6]
Pada pasien dengan sindrom Zollinger-Ellison terkait gastrinoma yang sudah ditegakkan, sindrom MEN-1 mungkin terdapat pada sekitar 25% kasus. Adanya hiperkalsemia akibat hiperparatiroidisme merupakan salah satu tanda awal. MEN-1/ZES biasanya tidak berkembang tanpa adanya hiperparatiroidisme primer, dan hipergastrinemia juga dilaporkan berhubungan dengan hiperkalsemia sebagai faktor perancu.[1,7-9]
Tes genetik untuk MEN-1/ZES harus dilakukan pada subkelompok pasien tertentu, yaitu:
- Pada pasien dengan dua atau lebih tumor endokrin primer terkait MEN-1 (misalnya, adenoma paratiroid, tumor entero-pankreatik, dan adenoma hipofisis) atau hiperkalsemia yang terkait dengan tumor endokrin
- Pada pasien yang menunjukkan fitur terkait MEN-1 dan merupakan kerabat derajat pertama dari pasien dengan diagnosis klinis MEN-1.[1,6,7]
