Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Leukorrhea general_alomedika 2025-12-26T08:56:16+07:00 2025-12-26T08:56:16+07:00
Leukorrhea
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan
  • Panduan e-Prescription

Diagnosis Leukorrhea

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna
Share To Social Media:

Pendekatan diagnosis leukorrhea atau keputihan dilakukan dengan evaluasi karakter sekret vagina, yang dapat dilengkapi dengan pemeriksaan pH, mikroskopis, dan uji mikrobiologis bila diperlukan. Leukorrhea patologis dicurigai bila sekret disertai bau tidak sedap, perubahan warna atau konsistensi, serta gejala inflamasi seperti pruritus, nyeri, perdarahan, atau tanda infeksi sistemik.[1-4]

Anamnesis

Anamnesis dilakukan dengan menanyakan karakteristik dari cairan yang keluar dari vagina, seperti warna, bau, dan kekentalan, serta gejala penyerta yang timbul. Gejala penyerta antara lain gatal dan nyeri pada daerah vagina, serta ada tidaknya nyeri saat berhubungan.

Warna putih–kekuningan yang tidak berbau dapat menunjukkan kemungkinan dari bakterial vaginosis. Warna putih–kekuningan yang bergumpal seperti keju atau dapat juga berair yang disertai dengan gatal dan nyeri saat berhubungan dan atau kencing dapat menunjukkan kemungkinan adanya infeksi Candida. Secara teori, warna duh vagina pada trikomoniasis bervariasi dan berbusa, namun bentuk berbusa hanya ditemukan pada 10% pasien.[4,14,22]

Nyeri pada saat berhubungan dapat ditemukan pada infeksi yang menyebabkan peradangan seperti kandidiasis, klamidiasis, dan trikomoniasis. Nyeri ini juga dapat timbul pada saat berkemih (disuria). Gejala penyerta lain seperti demam juga perlu ditanyakan untuk mengindikasikan apakah kondisi leukorrhea telah menyebabkan komplikasi sistemik atau tidak, dan menjadi red flag untuk penyakit radang panggul.[1,2]

Riwayat tingkah laku dan kebiasaan, riwayat penyakit dahulu dan pengobatan juga perlu ditanyakan untuk menggali faktor risiko dan menentukan tata laksana dan edukasi berikutnya. Riwayat tersebut antara lain:

  • Riwayat hubungan seksual: jumlah pasangan, kemungkinan pasangannya berhubungan dengan orang lain (untuk menemukan kemungkinan infeksi menular seksual), penggunaan kontrasepsi baik fisik, seperti kondom, maupun oral.
  • Riwayat penggunaan KB hormonal
  • Riwayat diabetes mellitus dan penyakit yang menyebabkan penurunan imunitas
  • Riwayat penggunaan antibiotik
  • Riwayat penggunaan douche vagina.[1,2]

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, khususnya pemeriksaan ginekologi, inspeksi dilakukan pada daerah genital dan dapat dilakukan inspekulo pada wanita yang sudah menikah. Warna dan bentuk duh dapat terlihat pada inspekulo.

Gambaran dari pemeriksaan fisik dengan inspekulo yang khas dapat ditemukan pada kandidiasis dan trikomoniasis. Pada kandidiasis, tampak plak keputihan pada mukosa atau seperti keju yang bergumpal. Pada trikomoniasis, tanda yang khas yang dapat ditemukan pada inspekulo adalah colpitis macularis atau strawberry cervix.[1,14]

Diagnosis Banding

Leukorrhea merupakan suatu gejala. Diagnosis banding dilakukan untuk membedakan penyebab yang satu dari penyebab lain.

Bakterial Vaginosis

Bakterial vaginosis ditandai sekret homogen putih keabu-abuan dengan bau amis khas, terutama setelah hubungan seksual, umumnya tanpa tanda inflamasi yang menonjol. Pemeriksaan pH vagina >4,5, sel klu (clue cells) pada mikroskop, serta kriteria Amsel membantu menegakkan diagnosis.[4,13]

Kandidiasis Vulvovaginal

Kandidiasis vulvovaginal biasanya memberikan sekret kental putih seperti susu kental atau keju, disertai pruritus dan eritema vulva yang jelas, dengan pH vagina normal (≤4,5) dan temuan hifa atau blastospora pada pemeriksaan mikroskopis KOH.[17,22,26]

Trikomoniasis

Trikomoniasis ditandai sekret berwarna kuning-kehijauan, berbuih, berbau, sering disertai disuria dan nyeri saat berhubungan, dengan pH vagina meningkat. Diagnosis ditegakkan melalui identifikasi Trichomonas vaginalis pada sediaan basah atau tes amplifikasi asam nukleat.[11,14]

Klamidiasis

Klamidiasis sering asimtomatik atau hanya menimbulkan leukorrhea mukopurulen ringan dengan perdarahan pascakoitus atau disuria, sehingga memerlukan kecurigaan klinis tinggi dan konfirmasi melalui uji NAAT pada sekret serviks atau urin.[27]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan organisme penyebab leukorrhea adalah swab vagina dan pemeriksaan mikroskopis. Saat melakukan swab vagina, juga dapat sekaligus dilakukan uji pH dan tes Whiff.

Swab Vagina

Triple swab dapat diperiksa dengan pengambilan sampel pada vagina letak tinggi untuk identifikasi bakterial vaginosis, Candida dan Trichomonas. Lokasi apusan berikutnya adalah endoserviks untuk diagnosis gonorrhea dan endoserviks untuk amplifikasi DNA klamidia untuk Chlamydia trachomatis.[1]

Pengukuran kadar keasaman vagina dapat diperiksakan dengan kertas lakmus atau pH meter yang relatif murah dan mudah. Pengukuran ini dapat membedakan bakterial vaginosis (pH > 4.5) dan kandidiasis (pH < 4.5) yang merupakan penyebab paling banyak dari leukorrhea.[1]

  • Pengukuran pH > 5 untuk bakterial vaginosis memiliki sensitifitas 77% dan spesifisitas 35%
  • Pengukuran pH < 4.9 untuk kandidiasis memiliki sensitivitas 71% dan spesifisitas 90%
  • Pengukuran pH > 5.4 untuk trikomoniasis memiliki sensitivitas 92% dan spesifisitas 51%.[2]

Pemeriksaan yang spesifik lain terhadap bakterial vaginosis adalah tes Whiff dan apus vagina. Tes Whiff dapat dilakukan untuk membantu menegakkan bakterial vaginosis dengan cara pemberian kalium hidroksida (KOH) 10% pada sampel dan kemudian tercium bau amis (fishy amine odor). Pada pemeriksaan mikroskopis untuk bakterial vaginosis, dapat ditemukan sel klu (clue cells). Keduanya merupakan bagian dari kriteria Amsel.[2]

Kriteria Amsel untuk bakterial vaginosis (3 dari 4 untuk menegakkan diagnosis):

  • Secret yang tipis dan homogen
  • pH vagina > 4.5
  • Test whiff positif
  • Ditemukan setidaknya 20% sel klu (clue cells) pada pemeriksaan mikroskopik.[23,24]

Pemeriksaan Mikroskopis

Pemeriksaan mikroskopis dengan apus vagina dapat dilakukan untuk menentukan penyebab keputihan, beberapa temuan tersebut antara lain:

  • Adanya sel klu (clue cell) untuk bakterial vaginosis
  • Filamen dengan tunas (budding filaments) dengan KOH 10% untuk kandidiasis
  • Protozoa motil dengan flagella untuk trikomoniasis.[2]

Untuk klamidiasis, sampel pemeriksaan mikroskopis dapat diambil dari endoserviks, vagina, vulva, rektum maupun urin pertama. Sel inang yang berbentuk skuamo-kolumnar harus dapat tervisualisasi karena klamidia hidup secara intraselular. Teknik pewarnaan yang umum digunakan antara lain dengan Giemsa, imunofluoresens, dan iodin.[7]

Lainnya

Pemeriksaan isolasi dan kultur sel merupakan pemeriksaan definitif untuk infeksi klamidia, namun sulit dan mahal untuk dilakukan. Pemeriksaan imunologi seperti direct fluorescent test (DFA), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), dan Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan pemeriksaan penunjang alternatif yang dapat digunakan bila memungkinkan.[7]

Pemeriksaan baku standar untuk trikomoniasis adalah kultur. Pemeriksaan lain yang lebih mudah untuk dilakukan adalah pemeriksaan imunologi dengan teknik ELISA dan PCR. Pemeriksaan NAAT (nucleic acid amplification test) dapat dilakukan karena memiliki korelasi yang tinggi terhadap T. vaginalis.[1,14]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Spence D, Melville C. Vaginal discharge. BMJ, 2007;335(7630):1147-1151.
2. Geer K MD, MPH, Klega A MD. Vaginitis: Diagnosis and Treatment. Am Fam Physician. 2025 Nov;112(5):504-512.
3. Gomez-lobo V. Assessment of vaginal discharge. BMJ Best Practice. 2025. https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/510
4. Bagnall P, Rizzolo D. Bacterial vaginosis: a practical review. Journal of American Academy of Physician Assistants, 2017;30(12):15-21.
7. Malthora M, Sood S, Mukherjee A, et al. Genital chlamydia trachomatis: an update. Indian J Med Res, 2013;138(3):303-316
11. Kissinger P. Trichomonas vaginalis: a review of epidemiologic, clinical and treatment issues. BMC Infect Dis, 2015;15:307
13. Hay P. Bacterial vaginosis. F1000Res, 2017;6:1761
14. Schwebke JR, Burgess D. Trichomoniasis. Clin Microbiol Rev, 2004;17(4):794-803
17. Goncalves B, Ferreira C, Alves CT, et al. Vulvovaginal candidiasis: epidemiology, microbiology and risk factors. Crit Rev Microbiol, 2016;42(6):905-927
22. Lopez JEM. Candidiasis (vulvovaginal). Clinical evidence, 2015;03:815.
26. Pappas PG, Kauffman CA, Andes DR, et al. Clinical practice guideline for the management of candidiasis: 2016 update by the infectious diseases society of America. Clinical Infectious Diseases, 2016;62(4):e1-e50
27. CDC. Sexually transmitted infections treatment guideline, 2021. https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/STI-Guidelines-2021.pdf

Epidemiologi Leukorrhea
Penatalaksanaan Leukorrhea

Artikel Terkait

  • Pemberian Probiotik pada Bacterial Vaginosis
    Pemberian Probiotik pada Bacterial Vaginosis
  • Bahaya Penggunaan Douche Vagina
    Bahaya Penggunaan Douche Vagina
  • Perbandingan Efikasi Antifungal Peroral dan Intravaginal pada Kandidiasis Vulvovaginal Nonkomplikata
    Perbandingan Efikasi Antifungal Peroral dan Intravaginal pada Kandidiasis Vulvovaginal Nonkomplikata
  • Hindari Pemberian Antibiotik Berikut pada Pasien Hamil
    Hindari Pemberian Antibiotik Berikut pada Pasien Hamil
  • Doxycycline sebagai Profilaksis Pasca Pajanan Infeksi Menular Seksual
    Doxycycline sebagai Profilaksis Pasca Pajanan Infeksi Menular Seksual

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 05 Januari 2026, 11:51
Apakah ada terapi lain untuk candidiasis vulva?
Oleh: Anonymous
4 Balasan
ALO Dokter. selamat pagi dokter ijin berdiskusi pasien perempuan 30 tahun keluhan gatal pada kemaluan dekat area klitoris sejak agustus 2025 tidak tampak...
Anonymous
Dibalas 06 Juni 2025, 19:27
Candidosis Vulvovaginalis dari PERDOSKI
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Maaf saya izin buka diskusi saja, Saya Melihat dari PERDOSKI terbaru bahwa candidosis Vulvovaginalis masuk dalam kategori Infeksi menular seksual dan terapi...
Anonymous
Dibalas 07 Maret 2025, 11:11
Efektivitas tatalaksana candidiasis oral pasien HIV
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo Dokter mau tanya. Pasien hiv dgn candidiasis oral lebih efektif mana pake obat nistatin tab atau nistatin suspensi yaa ts ? Mohon pencerahannya

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.