Diagnosis Torsio Testis
Diagnosis torsio testis dicurigai pada pasien yang datang dengan nyeri skrotum akut yang timbul mendadak, sering kali disertai mual, muntah, pembengkakan skrotum, dan posisi testis yang lebih tinggi (high-riding testis) atau berorientasi horizontal. Berbagai sistem penilaian klinis, seperti testicular workup for ischemia and suspected torsion (twist) score, dapat digunakan untuk membantu stratifikasi risiko dan mempercepat pengambilan keputusan.[1-3,15]
Anamnesis
Pada anamnesis, pasien dengan torsio testis umumnya mengeluhkan nyeri skrotum akut yang muncul secara tiba-tiba dan mencapai intensitas maksimal dalam waktu singkat. Nyeri biasanya bersifat unilateral, sangat hebat, dan dapat menjalar ke daerah inguinal, perut bagian bawah, atau pinggang sehingga kadang menyerupai nyeri abdomen akut.
Keluhan sering muncul saat istirahat, saat tidur, atau setelah aktivitas fisik ringan hingga berat, meskipun tidak selalu terdapat faktor pencetus yang jelas. Sebagian pasien juga melaporkan episode nyeri skrotum serupa yang hilang timbul sebelumnya, yang dapat mencerminkan torsio intermiten dengan puntiran yang mengalami detorsi spontan.
Selain nyeri, gejala penyerta yang sering ditemukan adalah mual dan muntah, yang bahkan dapat lebih menonjol dibandingkan keluhan lokal pada beberapa pasien. Pasien juga dapat mengeluhkan pembengkakan skrotum, rasa berat pada testis, atau perubahan posisi testis yang dirasakan lebih tinggi dari biasanya.
Penting untuk menanyakan waktu pasti onset gejala karena durasi iskemia merupakan faktor prognostik utama dalam keberhasilan penyelamatan testis. Peluang viabilitas testis paling tinggi apabila penanganan dilakukan dalam 6 jam pertama sejak timbulnya gejala dan menurun secara signifikan setelahnya.
Riwayat trauma, infeksi saluran kemih, demam, disuria, atau keluarnya sekret uretra juga perlu digali untuk membantu membedakan torsio testis dari penyebab lain nyeri skrotum akut, seperti epididimitis atau orkitis.[1,2,15,16]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang secara khusus dapat dilakukan pada pasien-pasien torsio testis meliputi pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan genitalia umum. Beberapa pemeriksaan spesial, seperti tanda Phren atau refleks kremaster juga dapat dilakukan.[1,2,4,8]
Pemeriksaan Abdomen
Pada pemeriksaan abdomen, nyeri abdomen umumnya ditemukan pada pasien dengan torsio intravaginal. Nyeri tekan abdomen dapat ditemukan positif pada regio abdomen yang mendapatkan inervasi dari saraf T11, T12, dan L1. Adanya massa juga dapat ditemukan, khususnya pada pasien dengan testis undesensus.[2,17]
Pemeriksaan Genitalia
Pada inspeksi umum dalam pemeriksaan genitalia, dapat ditemukan letak testis asimetris, testis yang mengalami torsio umumnya terletak lebih tinggi (high-riding testis) dan terletak transversal. Nyeri hebat dapat ditemukan pada palpasi testis yang mengalami torsio. Edema skrotum, eritema skrotum, dan hidrokel reaktif juga dapat ditemukan bila onset >12 jam.[2,4,8]
Tanda Prehn
Tanda Prehn diperiksa dengan cara melakukan elevasi skrotum. Hasil positif akan menunjukkan adanya penurunan rasa nyeri. Hasil negatif menunjukkan peningkatan rasa nyeri ataupun tidak ada perubahan, pada umumnya hasil tanda Phren negatif ditemukan pada pasien-pasien dengan torsio testis.[2,4,5,8]
Refleks Kremaster
Refleks kremaster diperiksa dengan cara menggoreskan jari atau mencubit kulit paha bagian dalam dan observasi testis. Hasil positif atau normal umumnya menunjukkan elevasi testis ipsilateral. Refleks kremaster pada umumnya ditemukan negatif pada pasien-pasien dengan torsio testis. Meskipun demikian, refleks kremaster negatif merupakan hal yang normal pada bayi laki-laki di bawah 6 bulan.[2,4,5,8,11]
Tidak semua pasien dengan torsio testis menunjukkan hasil tanda Phren dan refleks kremaster negatif. Meski demikian, hal ini tidak dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosis torsio testis.[2,4,5,8]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding torsio testis antara lain adalah epididimitis atau epididimo-orkitis, torsio apendiks testis, hidrokel, varikokel, dan hernia inguinal.
Epididimitis atau Epididimoorkitis
Kondisi ini ditandai dengan nyeri akut pada bagian posterior-inferior testis. Onset pada umumnya gradual dalam waktu beberapa hari. Dapat ditemukan massa yang teraba pada bagian posterior dari testis. Edema dan indurasi testis dapat ditemukan.
Tanda dan gejala infeksi saluran kemih berupa lower urinary tract symptoms (LUTS), serta hasil urinalisis abnormal juga dapat ditemukan. Tanda Phren positif dan refleks kremaster intak.
Pada pemeriksaan doppler dapat ditemukan pembesaran dan hiperemia epididimis. Tanda-tanda infeksi dan inflamasi seperti demam, nyeri, dan eritema skrotum, serta tanda infeksi menular seksual juga dapat ditemukan.[2,4,5,8]
Torsio Apendiks Testis
Pada kondisi ini, nyeri umumnya ditemukan pada testis superior atau anterior dengan intensitas sedang hingga berat. Onset secara gradual, dapat disertai mual muntah ataupun tidak. Tanda blue-dot dapat ditemukan pada skrotum. Tanda kremaster dan hasil urinalisis umumnya ditemukan normal. Pada pemeriksaan doppler, aliran darah ditemukan meningkat dan lesi hipoekoik.[2,4,5,8]
Hidrokel
Pada hidrokel, dapat ditemukan pembesaran skrotum, umumnya tidak nyeri dan dapat meningkat dengan aktivitas. Pemeriksaan transiluminasi positif.[2,4,8]
Varikokel
Pada varikokel, terdapat massa skrotum dengan nyeri minimal ataupun tanpa nyeri. Edema skrotum umumnya fluktuatif seiring aktivitas. Dapat teraba pembesaran vena dengan manuver Valsalva.[2,4,8]
Trauma Skrotum
Pada trauma skrotum, dapat ditemukan ekimosis dengan riwayat trauma yang jelas. Umumnya skrotum dan testis terletak normal. Refleks kremaster intak.[2,4,8]
Hernia Inguinal atau Skrotalis
Pada hernia, ditemukan massa pada kanalis inguinalis serta pembesaran skrotum yang menyebabkan tidak terabanya funikulus spermatikus pada bagian superior. Umumnya terdapat riwayat angkat beban berat ataupun operasi hernia sebelumnya. Skrotum dan testis terletak normal dan refleks kremaster intak.[2,4,8]
Gangren Fournier
Pada gangren Fournier, keadaan umum pasien umumnya ditemukan sedang atau berat dan dapat disertai tanda-tanda sepsis. Dapat ditemukan krepitus serta nekrosis skrotum yang terlihat jelas.[2,4,8]
Tumor atau Keganasan
Pada kasus tumor dan keganasan, umumnya ditemukan massa testis yang tidak disertai nyeri dengan onset gradual. Dapat disertai tanda-tanda epididimoorkitis. Pada pasien dengan leukemia ataupun limfoma juga dapat ditemukan testis yang mengeras secara difus disertai dengan hasil pemeriksaan hematologi abnormal.[2,4,8]
Skor TWIST
Skor TWIST memiliki nilai prediksi negatif dan positif hampir 100% terhadap torsio testis apabila total skor TWIST < 2 atau > 5, sehingga dapat digunakan untuk membantu menegakkan ataupun menyingkirkan diagnosis torsio testis serta meminimalisir pemeriksaan penunjang. Cara menghitung skor TWIST dapat dilihat pada Tabel 1.[2,3,18]
Tabel 1. Skor TWIST
| Indikator | Skor |
| Edema testis / testicular swelling | 2 |
| Testis teraba keras / hard testis | 2 |
| Refleks kremaster negatif | 1 |
| Mual/muntah | 1 |
| Testis letak tinggi / high-riding testis | 1 |
| Interpretasi: | |
| Risiko Rendah | 0 |
| Risiko Sedang | 1-5 |
| Risiko Tinggi | 6-7 |
Diagnosis dengan pemeriksaan Color doppler ataupun pemeriksaan penunjang lainnya dapat dilakukan apabila ada atau tidaknya torsio testis masih meragukan.[2-4]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pilihan pada torsio testis adalah ultrasonografi dengan Color Doppler Ultrasound (CDUS). Pemeriksaan penunjang sebaiknya hanya dilakukan apabila dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik adekuat etiologi nyeri skrotum akut masih meragukan. Apabila terdapat kecurigaan kuat terhadap torsio testis, maka tindakan pembedahan perlu segera dilakukan.[1,2,15,16,19]
Ultrasonografi
Terdapat beberapa jenis pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang dapat dilakukan. Ultrasonografi dengan doppler warna merupakan pemeriksaan lini pertama pada pasien-pasien dengan torsio testis.
Color Doppler Ultrasound (CDUS) memiliki sensitivitas 88.9% dan spesifisitas 98.8% untuk diagnosis torsio testis. Pemeriksaan CDUS umumnya menunjukkan penurunan atau tidak adanya aliran darah pada testis ipsilateral, penurunan kecepatan aliran darah pada arteri intratestis, dan peningkatan resistensi (resistive indices) pada arteri intratestis.
Ultrasonografi hitam putih juga dapat digunakan untuk membantu diagnosis torsio testis. Pada umumnya akan ditemukan tanda whirlpool pada funikulus spermatikus, dapat ditemukan pada torsio testis parsial ataupun total. Meskipun demikian, pemeriksaan dengan CDUS tetap dibutuhkan untuk konfirmasi diagnosis.
Ultrasonografi dengan kontras dapat dilakukan untuk membantu visualisasi, khususnya pada neonatus. Pemeriksaan USG memiliki beberapa kelemahan karena sangat bergantung dengan operator yang melakukan pemeriksaan, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan tata laksana.[2,9,10,15]
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dengan kontras dapat dilakukan dan merupakan pemeriksaan torsio testis lini kedua. Pemeriksaan ini umumnya akurat, terutama bila ditemukan adanya tanda whirlpool. Meski demikian, pemeriksaan ini membutuhkan waktu yang lama dan dapat menunda tata laksana.[2,9,10,15]
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dapat membantu eliminasi diagnosis. Pemeriksaan darah lengkap pada umumnya ditemukan normal. Leukositosis dan CRP (C-reactive protein) dapat ditemukan meningkat pada pasien-pasien dengan nyeri skrotum akut akibat inflamasi dan infeksi.
Urinalisis ataupun tes urin dipstik juga dapat dilakukan dan ditemukan abnormal pada infeksi ataupun inflamasi. Pada pasien dengan torsio testis, urinalisis dan pemeriksaan darah lengkap umumnya normal, tetapi leukositosis dapat terjadi pada 30% pasien.[2,5,15]
Spektroskopi Infrared
Spektroskopi dengan infrared/near-infrared spectroscopy (NIRS) transskrotal merupakan salah satu modalitas diagnosis torsio testis. Pemeriksaan ini merupakan rapid test yang dapat menentukan saturasi oksigen pada jaringan dalam dan aliran darah testis.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menghitung selisih saturasi oksigen (Δ%StO2) pada testis kontralateral dan ipsilateral. NIRS dapat mendeteksi lokasi torsio dengan baik dan efektif diagnosis torsio testis pada pasien anak.[9,10,20]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha