Formulasi Zidovudin
Formulasi zidovudin atau zidovudine di Indonesia adalah sediaan oral berupa tablet, kapsul, dan kaplet. Sediaan kaplet biasanya juga berisi lamivudin. Di beberapa negara lain, zidovudin tersedia dalam bentuk sirup dan solusio injeksi.[1,9]
Bentuk Sediaan
Sediaan zidovudin yang ada di Indonesia saat ini hanyalah sediaan oral, yakni berupa tablet salut selaput 300 mg atau kapsul 100 mg. Di beberapa negara lain, obat ini juga tersedia dalam bentuk sirup 50 mg/ml dan solusio injeksi 10 mg/ml.[1,9]
Cara Penggunaan
Sediaan oral dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Sediaan injeksi belum ada di Indonesia, tetapi biasanya diberikan secara intravena setelah diencerkan terlebih dahulu dengan larutan dekstrosa 5% untuk mencapai konsentrasi 2–4 mg/ml. Obat ini tidak dianjurkan untuk diencerkan dengan produk darah dan solusio protein.[1,2]
Cara Penyimpanan
Zidovudin oral sebaiknya disimpan dalam suhu ruangan antara 15–25°C. Sementara itu, bentuk larutan intravena yang telah diencerkan harus disimpan dalam suhu 25°C (stabil selama 8 jam) atau suhu 2–8°C (stabil selama 24 jam). Obat ini harus dijauhkan dari lingkungan lembab, panas berlebih, sinar matahari, dan jangkauan anak-anak.[1,2]
Buang zidovudin dengan benar ketika sudah kedaluwarsa atau tidak lagi diperlukan. Konsultasi dengan apoteker atau perusahaan pembuangan limbah setempat mengenai cara pembuangan yang aman.[1,2]
Kombinasi dengan Obat Lain
Zidovudin merupakan antiretroviral golongan nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) untuk terapi infeksi HIV. Terdapat beberapa regimen terapi HIV yang mengombinasikan obat golongan NRTI, golongan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), protease inhibitor, dan integrase strand transfer inhibitor (INSTI).
Zidovudin dapat dikombinasikan dengan antiretroviral golongan lainnya sesuai pertimbangan klinisi. Contoh regimen kombinasi yang menggunakan zidovudin adalah kombinasi zidovudin, lamivudin, dan efavirenz. Meski demikian, kombinasi ini bukanlah pilihan pertama dalam penatalaksanaan HIV.[8]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha