Pengawasan Klinis Rivastigmine
Pada pasien yang mendapat rivastigmine, pengawasan klinis terutama dilakukan terhadap respons terapi dan tolerabilitas obat. Kondisi kognitif, fungsi sehari-hari, serta perubahan gejala demensia perlu dievaluasi secara berkala untuk menilai manfaat terapi.
Selain itu, pasien perlu dipantau terhadap efek gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, anoreksia, dan penurunan berat badan, terutama selama awal terapi dan setiap kali dosis dinaikkan.
Kepatuhan terhadap jadwal titrasi juga penting, khususnya ketika terapi dimulai kembali setelah terhenti selama beberapa hari. Perlu diketahui bahwa telah terdapat laporan terjadinya muntah berat hingga ruptur esofagus pada pasien yang kembali menggunakan rivastigmine setelah penghentian selama 8 minggu
Pengawasan klinis juga perlu mencakup denyut jantung dan kondisi kardiovaskular, terutama pada pasien dengan gangguan konduksi jantung. Penggunaan rivastigmine bisa menyebabkan efek samping seperti pemanjangan interval QT dan bradikardia.
Pada penggunaan patch transdermal, kondisi kulit di lokasi pemasangan juga perlu diperiksa secara berkala. Ada beberapa kasus di mana terjadi reaksi kemerahan, iritasi, atau reaksi kulit lain. Untuk meminimalkan iritasi kulit, lokasi pemasangan diganti setiap kali penggunaan, dengan jeda sedikitnya 14 hari sebelum lokasi yang sama digunakan kembali.[1,6,9]