Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Epidemiologi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome irfan 2026-05-19T13:34:53+07:00 2026-05-19T13:34:53+07:00
Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Epidemiologi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome

Oleh :
dr.Bedry Qintha
Share To Social Media:

Menurut data epidemiologi, polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS, yang sebelumnya disebut polycystic ovary syndrome/PCOS atau sindrom ovarium polikistik, memengaruhi 10-13% wanita usia reproduktif. Penyakit ini bisa ditemukan di usia reproduktif berapapun, tetapi banyak ditemukan pada kelompok usia 20-30 tahun. PMOS menyebabkan 0,43 juta disability-adjusted life years (DALYs) pada wanita usia reproduktif.[8,9]

Global

PMOS diperkirakan memengaruhi 10-13% wanita usia reproduktif di seluruh dunia. Meski dapat terdiagnosis pada usia reproduktif berapapun, PMOS paling banyak ditemukan pada kelompok usia 20-30 tahun.[8,9]

Dalam sebuah tinjauan sistematik, variasi prevalensi PMOS dilaporkan bergantung pada kriteria diagnosis yang digunakan. Menurut tinjauan terhadap 35 studi dengan total lebih dari 12 juta subjek ini, prevalensi global PMOS dilaporkan sebesar 5,5% jika menggunakan kriteria diagnosis NIH, serta sebesar 11,5% jika menggunakan kriteria diagnosis Rotterdam.[10]

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah adanya tren peningkatan insidensi PMOS dari tahun ke tahun. Dalam sebuah studi epidemiologi, insidensi PMOS dilaporkan meningkat dari 1,48 juta kasus di tahun 1990 menjadi 2,3 juta kasus di tahun 2021. Age-standardized incidence rate di tahun 2021 dilaporkan sebesar 63,26 per 100.000 populasi. Insidensi lebih tinggi ditemukan di area dengan indeks sosiodemografik tinggi dibandingkan indeks sosiodemografik rendah.[11]

Pada sebuah kohort di Thailand, PMOS dilaporkan pada 15,5% pasien. Di Australia, prevalensi PMOS dilaporkan sebesar 8,7%.[12,13]

Indonesia

Belum ada data yang jelas mengenai angka kejadian nasional PMOS di Indonesia. Dalam sebuah studi di RS Cipto Mangunkusumo, diidentifikasi 105 pasien dengan PMOS. Dari jumlah tersebut, 94,2% pasien mengeluhkan oligo atau amenore, dan 32,4% mengalami hirsutisme. Mayoritas pasien, yaitu sebanyak 45,7%, berada dalam rentang usia 26-30 tahun.[14]

Perubahan nama dari polycystic ovary syndrome/PCOS atau sindrom ovarium polikistik ke PMOS diharapkan akan meningkatkan kesadaran petugas kesehatan bahwa penyakit ini bersifat multisistem, sehingga diagnosis dan identifikasi kasus juga akan meningkat. Dengan perubahan nama menjadi PMOS ini, kemungkinan besar semakin banyak kasus terdeteksi dan angka kejadian pun akan ikut meningkat.[1]

Mortalitas

PMOS meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi metabolik, kardiovaskular, dan reproduksi. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia meningkatkan risiko terjadi obesitas sentral, dislipidemia, hipertensi, sindrom metabolik, intoleransi glukosa, hingga diabetes melitus tipe 2. Selain itu, hiperandrogenisme dan gangguan ovulasi dapat menyebabkan infertilitas, gangguan menstruasi kronis, serta meningkatkan risiko kanker endometrium.

Mortalitas juga bisa berkaitan dengan komplikasi kardiometabolik jangka panjang, terutama penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus. Pasien memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner dan stroke. Selain dampak fisik, PMOS juga berhubungan dengan gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.[1-4,7,8]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Yelsi Khairani

Referensi

1. Teede HJ, Khomami MB, Morman R, et al; Global Name Change Consortium. Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process. Lancet. 2026 May 12:S0140-6736(26)00717-8. doi: 10.1016/S0140-6736(26)00717-8.
2. Teede HJ, Tay CT, Laven J, et al. International evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome 2023. Melbourne: Monash University; 2023. https://www.monash.edu/__data/assets/pdf_file/0003/3371133/PCOS-Guideline-Summary-2023.pdf
3. Geraci G, Riccio C, Oliva F, et al. Women with PCOS have a heightened risk of cardiometabolic and cardiovascular diseases: statement from the Experts Group on Inositol in Basic and Clinical Research and PCOS (EGOI-PCOS) and Italian Association of Hospital Cardiologists (ANMCO). Front Cardiovasc Med. 2025 Sep 2;12:1520490. doi: 10.3389/fcvm.2025.1520490.
4. Prosperi S, Chiarelli F. Insulin resistance, metabolic syndrome and polycystic ovaries: an intriguing conundrum. Front Endocrinol (Lausanne). 2025 Oct 1;16:1669716. doi: 10.3389/fendo.2025.1669716.
7. Siddiqui S, Mateen S, Ahmad R, Moin S. A brief insight into the etiology, genetics, and immunology of polycystic ovarian syndrome (PCOS). J Assist Reprod Genet. 2022 Nov;39(11):2439-2473. doi: 10.1007/s10815-022-02625-7.
8. Singh S, Pal N, Shubham S, Sarma DK, Verma V, Marotta F, Kumar M. Polycystic Ovary Syndrome: Etiology, Current Management, and Future Therapeutics. J Clin Med. 2023 Feb 11;12(4):1454. doi: 10.3390/jcm12041454.
9. Joham AE, Rees DA, Shinkai K, Forslund M, Tay CT, Teede HJ. POLYCYSTIC OVARY SYNDROME: ORIGINS AND IMPLICATIONS: Epidemiological aspects of polycystic ovary syndrome. Reproduction. 2025 Jul 22;170(2):e250121. doi: 10.1530/REP-25-0121.
10. Salari N, Nankali A, Ghanbari A, Jafarpour S, Ghasemi H, Dokaneheifard S, Mohammadi M. Global prevalence of polycystic ovary syndrome in women worldwide: a comprehensive systematic review and meta-analysis. Arch Gynecol Obstet. 2024 Sep;310(3):1303-1314. doi: 10.1007/s00404-024-07607-x.
11. Lin L, Li W, Xu B, Li Y, Li J, Kong X, Du X. Global trends in polycystic ovarian syndrome over 30 years: an age-period-cohort study of 204 countries and territories (1990-2021). J Health Popul Nutr. 2025 Jul 8;44(1):242. doi: 10.1186/s41043-025-01002-1.
12. Deswal R, Narwal V, Dang A, Pundir CS. The Prevalence of Polycystic Ovary Syndrome: A Brief Systematic Review. J Hum Reprod Sci. 2020;13(4):261-271. doi:10.4103/jhrs.JHRS_95_18
13. Piltonen TT, Arffman RK, Joham AE. Natural history of polycystic ovary syndrome and new advances in the epidemiology. Seminars in Reproductive Medicine 2021 Jul (Vol. 39, No. 03/04, pp. 094-101).
14. Sumapraja K, Pangastuti N. Profile of Policystic Ovarian Syndrome Patients in Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital Jakarta March 2009 - March 2010. Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology, 2011;35(1)

Etiologi Polyendocrine Metabolic...
Diagnosis Polyendocrine Metaboli...

Artikel Terkait

  • Rasionalisasi Pemberian Metformin pada Sindrom Ovarium Polikistik
    Rasionalisasi Pemberian Metformin pada Sindrom Ovarium Polikistik
  • Terapi Sindrom Ovarium Polikistik - Metformin vs Pil Kontrasepsi Oral
    Terapi Sindrom Ovarium Polikistik - Metformin vs Pil Kontrasepsi Oral
  • Manfaat Metformin dalam Program IVF pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik
    Manfaat Metformin dalam Program IVF pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik
  • Inositol sebagai Terapi Sindrom Ovarium Polikistik
    Inositol sebagai Terapi Sindrom Ovarium Polikistik
  • Pedoman Manajemen Sindrom Ovarium Polikistik – Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Manajemen Sindrom Ovarium Polikistik – Ulasan Guideline Terkini

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 19 Mei 2026, 13:22
Perubahan dari PCOS ke PMOS, Bukan Sekadar Ganti Nama!
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
2 Balasan
ALO Dokter.Telah resmi pada 12 Mei 2026, Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) berganti nama menjadi Sindrom Ovarium Metabolik Poliendokrin (PMOS). Perubahan ini...
Anonymous
Dibalas 27 Februari 2025, 09:51
Pemberian Supplement Myo-inositol untuk PCOS
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, ada pasien saya bertanya mengenai penggunaan suplemen inositol pada PCOS, apakah boleh ? Dan apabila sedang hamil apakah Suplemen inositolnya...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 11 Oktober 2024, 12:46
Penggunaan Pil Kontrasepsi Oral Kombinasi untuk Terapi PCOS!
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
5 Balasan
ALO Dokter,Terapi PCOS harus menangani ketidakseimbangan hormon yang merupakan mekanisme utama terjadinya PCOS. Pemberian pil Kontrasepsi Oral Kombinasi...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.