Epidemiologi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome
Menurut data epidemiologi, polyendocrine metabolic ovarian syndrome atau PMOS, yang sebelumnya disebut polycystic ovary syndrome/PCOS atau sindrom ovarium polikistik, memengaruhi 10-13% wanita usia reproduktif. Penyakit ini bisa ditemukan di usia reproduktif berapapun, tetapi banyak ditemukan pada kelompok usia 20-30 tahun. PMOS menyebabkan 0,43 juta disability-adjusted life years (DALYs) pada wanita usia reproduktif.[8,9]
Global
PMOS diperkirakan memengaruhi 10-13% wanita usia reproduktif di seluruh dunia. Meski dapat terdiagnosis pada usia reproduktif berapapun, PMOS paling banyak ditemukan pada kelompok usia 20-30 tahun.[8,9]
Dalam sebuah tinjauan sistematik, variasi prevalensi PMOS dilaporkan bergantung pada kriteria diagnosis yang digunakan. Menurut tinjauan terhadap 35 studi dengan total lebih dari 12 juta subjek ini, prevalensi global PMOS dilaporkan sebesar 5,5% jika menggunakan kriteria diagnosis NIH, serta sebesar 11,5% jika menggunakan kriteria diagnosis Rotterdam.[10]
Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah adanya tren peningkatan insidensi PMOS dari tahun ke tahun. Dalam sebuah studi epidemiologi, insidensi PMOS dilaporkan meningkat dari 1,48 juta kasus di tahun 1990 menjadi 2,3 juta kasus di tahun 2021. Age-standardized incidence rate di tahun 2021 dilaporkan sebesar 63,26 per 100.000 populasi. Insidensi lebih tinggi ditemukan di area dengan indeks sosiodemografik tinggi dibandingkan indeks sosiodemografik rendah.[11]
Pada sebuah kohort di Thailand, PMOS dilaporkan pada 15,5% pasien. Di Australia, prevalensi PMOS dilaporkan sebesar 8,7%.[12,13]
Indonesia
Belum ada data yang jelas mengenai angka kejadian nasional PMOS di Indonesia. Dalam sebuah studi di RS Cipto Mangunkusumo, diidentifikasi 105 pasien dengan PMOS. Dari jumlah tersebut, 94,2% pasien mengeluhkan oligo atau amenore, dan 32,4% mengalami hirsutisme. Mayoritas pasien, yaitu sebanyak 45,7%, berada dalam rentang usia 26-30 tahun.[14]
Perubahan nama dari polycystic ovary syndrome/PCOS atau sindrom ovarium polikistik ke PMOS diharapkan akan meningkatkan kesadaran petugas kesehatan bahwa penyakit ini bersifat multisistem, sehingga diagnosis dan identifikasi kasus juga akan meningkat. Dengan perubahan nama menjadi PMOS ini, kemungkinan besar semakin banyak kasus terdeteksi dan angka kejadian pun akan ikut meningkat.[1]
Mortalitas
PMOS meningkatkan morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi metabolik, kardiovaskular, dan reproduksi. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia meningkatkan risiko terjadi obesitas sentral, dislipidemia, hipertensi, sindrom metabolik, intoleransi glukosa, hingga diabetes melitus tipe 2. Selain itu, hiperandrogenisme dan gangguan ovulasi dapat menyebabkan infertilitas, gangguan menstruasi kronis, serta meningkatkan risiko kanker endometrium.
Mortalitas juga bisa berkaitan dengan komplikasi kardiometabolik jangka panjang, terutama penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus. Pasien memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner dan stroke. Selain dampak fisik, PMOS juga berhubungan dengan gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.[1-4,7,8]
Penulisan pertama oleh: dr. Yelsi Khairani