Diagnosis Karsinoma Sel Renal
Diagnosis karsinoma sel renal atau renal cell carcinoma (RCC) perlu dicurigai pada pasien yang mengeluhkan nyeri pinggang atau panggul disertai massa abdomen dan gross hematuria. Pada banyak kasus, karsinoma sel renal didiagnosis secara incidental melalui pencitraan. Lebih lanjut, diagnosis dipastikan melalui evaluasi histopatologi.[1–3]
Anamnesis
Sebagian besar pasien karsinoma sel renal tidak menunjukkan gejala pada stadium awal. Jika bergejala, keluhan klasik meliputi hematuria, nyeri pinggang (flank pain), dan massa abdominal, meskipun trias ini jarang ditemukan secara bersamaan. Gejala sistemik seperti penurunan berat badan, demam, dan kelelahan juga dapat ditemukan.[2,3]
Selain itu, karsinoma sel renal dapat menimbulkan sindrom paraneoplastik, seperti hipertensi, polisitemia akibat peningkatan eritropoietin, dan hiperkalsemia. Anamnesis juga harus mencakup faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, obesitas, hipertensi, paparan zat karsinogenik, serta riwayat keluarga dengan karsinoma sel renal atau sindrom genetik terkait.[1,2]
Skrining dapat dipertimbangkan pada kelompok risiko tinggi, seperti pasien dengan sindrom genetik (misalnya von Hippel–Lindau), riwayat keluarga karsinoma sel renal, atau penyakit ginjal kronik tertentu, Namun, skrining karsinoma sel renal pada populasi umum tidak direkomendasikan karena insidensi relatif rendah dan tidak cost-effective.[1,2]
Pemeriksaan Fisik
Pada stadium dini, pemeriksaan fisik umumnya tidak menunjukkan kelainan yang spesifik. Pada penyakit lanjut, dapat ditemukan massa pada abdomen atau regio flank, nyeri tekan lumbal, serta tanda-tanda metastasis seperti limfadenopati atau hepatomegali. Pemeriksaan fisik juga mencakup palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya massa atau pembesaran organ, serta evaluasi edema ekstremitas bawah yang dapat berkaitan dengan obstruksi vena oleh tumor.[2,3,9]
Manifestasi lain yang dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah tanda sindrom paraneoplastik, seperti hipertensi atau edema, meskipun temuan ini tidak spesifik. Selain itu, dapat pula dijumpai temuan klinis lain seperti varikokel, terutama pada sisi kiri, yang tidak menghilang saat posisi berbaring akibat kompresi atau invasi vena renalis oleh tumor.[1–3,9]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding karsinoma sel renal di antaranya karsinoma urotelial pelvis renalis, onkositoma ginjal, angiomiolipoma, kista ginjal kompleks, dan pielonefritis atau abses ginjal.[1-3,5,16]
Karsinoma Urotelial Pelvis Renalis
Karsinoma urotelial pelvis renalis merupakan keganasan yang berasal dari epitel transisional pada sistem pelvikokalises. Secara klinis, kondisi ini lebih sering bermanifestasi sebagai hematuria tanpa disertai massa ginjal yang jelas, berbeda dengan karsinoma sel renal yang sering membentuk massa solid pada parenkim ginjal.[2,5,16]
Pada pemeriksaan pencitraan, lesi cenderung mengikuti kontur sistem kolektivus dan dapat menyebabkan obstruksi atau dilatasi sistem pelvikokalises. Hal ini berbeda dengan karsinoma sel renal yang biasanya tampak sebagai massa parenkim.[2,5,16]
Onkositoma Ginjal
Onkositoma merupakan tumor jinak ginjal yang sering kali sulit dibedakan dari karsinoma sel renal secara klinis maupun radiologis. Lesi ini umumnya bersifat asimtomatik dan sering ditemukan secara insidental, serupa dengan karsinoma sel renal pada stadium awal.[3,5,16]
Secara radiologis, onkositoma dapat menunjukkan gambaran khas berupa central stellate scar pada CT scan atau MRI, meskipun temuan ini tidak selalu spesifik. Oleh karena itu, diagnosis definitif tetap memerlukan pemeriksaan histopatologi untuk membedakan dari karsinoma sel renal.[3,5,16]
Angiomiolipoma
Angiomiolipoma adalah tumor jinak ginjal yang terdiri dari komponen jaringan lemak, otot polos, dan pembuluh darah. Secara klinis, sebagian besar kasus bersifat asimtomatik, namun pada ukuran besar dapat menimbulkan nyeri atau perdarahan spontan terutama berupa perdarahan retroperitoneal (Wunderlich syndrome) akibat ruptur pembuluh darah abnormal dalam tumor.[2,5,16]
Pada pemeriksaan CT scan, angiomiolipoma menunjukkan densitas lemak yang khas (nilai Hounsfield unit rendah), yang menjadi pembeda utama dengan karsinoma sel renal yang umumnya tidak mengandung lemak. Selain itu, angiomiolipoma tidak menunjukkan sifat invasif maupun metastasis seperti karsinoma sel renal.[2,5,16]
Kista Ginjal Kompleks
Kista ginjal kompleks merupakan lesi kistik yang memiliki septasi, kalsifikasi, atau komponen solid, sehingga dapat menyerupai karsinoma sel renal. Secara klinis, kondisi ini umumnya asimtomatik dan ditemukan secara insidental pada pemeriksaan pencitraan.[1,5,16]
Evaluasi kista ginjal kompleks dilakukan menggunakan klasifikasi Bosniak berbasis CT scan. Lesi Bosniak III–IV memiliki risiko keganasan yang tinggi, namun tetap dibedakan dari karsinoma sel renal berdasarkan dominasi komponen kistik dibandingkan massa solid serta pola enhancement pada pencitraan yang berbeda.[1,5,16]
Pielonefritis atau Abses Ginjal
Pielonefritis dan abses ginjal merupakan kondisi infeksi yang dapat menyerupai karsinoma sel renal, terutama bila terdapat massa atau pembesaran ginjal. Secara klinis, pasien biasanya menunjukkan gejala infeksi sistemik seperti demam tinggi, nyeri pinggang, dan leukositosis.[2,5]
Pada pemeriksaan pencitraan, ditemukan tanda inflamasi seperti edema parenkim atau pengumpulan cairan yang terlokalisir, berbeda dengan karsinoma sel renal yang tampak sebagai massa solid dengan enhancement setelah pemberian kontras. Respons terhadap terapi antibiotik juga membantu membedakan kondisi ini dari karsinoma sel renal.[2,5]
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang histopatologi merupakan pemeriksaan yang bisa menegakkan diagnosis secara definitif.[1,2,5,17]
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium bersifat non-spesifik, namun dapat memberikan petunjuk awal. Urinalisis dapat menunjukkan hematuria, baik mikroskopik maupun makroskopik.
Pemeriksaan darah lengkap dapat menemukan anemia atau polisitemia, sedangkan kelainan metabolik seperti hiperkalsemia juga dapat dijumpai sebagai bagian dari sindrom paraneoplastik. Selain itu, pemeriksaan fungsi ginjal melalui ureum dan kreatinin serum penting untuk menilai kondisi dasar pasien sebelum terapi.[1,2,5]
Pencitraan
Modalitas utama dalam evaluasi karsinoma sel renal adalah CT scan abdomen dengan kontras, yang merupakan standar untuk mendeteksi dan mengarakterisasi massa ginjal, termasuk ukuran, lokasi, serta pola enhancement tumor. CT scan juga berperan dalam penentuan stadium lokal dan evaluasi penyebaran ke organ intraabdomen.[1,2,17,19]
MRI digunakan sebagai alternatif pada pasien dengan kontraindikasi kontras atau untuk menilai lebih lanjut keterlibatan vaskular, terutama invasi ke vena renalis dan vena kava inferior.
Ultrasonografi (USG) sering digunakan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi massa ginjal, meskipun memiliki keterbatasan dalam karakterisasi lesi. Untuk evaluasi metastasis jauh, terutama ke paru, dilakukan CT scan toraks sebagai bagian dari staging.[1,2,17]
Biopsi Ginjal
Biopsi ginjal tidak direkomendasikan secara rutin, namun dapat dipertimbangkan pada lesi yang tidak dapat dikarakterisasi secara pasti melalui pencitraan atau sebelum terapi sistemik, terutama jika hasilnya akan memengaruhi keputusan tata laksana.[1,2]
Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi merupakan baku emas (gold standard) dalam menegakkan diagnosis karsinoma sel renal. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan melalui spesimen hasil nefrektomi atau biopsi jaringan, yang kemudian dianalisis untuk menilai karakteristik morfologi sel tumor.
Evaluasi histopatologi memungkinkan identifikasi subtipe karsinoma sel renal berdasarkan klasifikasi WHO, seperti clear cell renal cell carcinoma, papillary renal cell carcinoma, dan chromophobe renal cell carcinoma, yang masing-masing memiliki karakteristik histologis dan implikasi klinis yang berbeda.[3,4,16]
Selain itu, pemeriksaan histopatologi juga berperan dalam menentukan derajat keganasan tumor melalui sistem World Health Organization/International Society of Urological Pathology (WHO/ISUP) grading, yang didasarkan pada karakteristik inti sel, seperti ukuran, bentuk, dan nukleolus. Penilaian grading ini penting karena berkorelasi dengan agresivitas tumor dan prognosis pasien.
Di samping itu, evaluasi histopatologi juga dapat menilai adanya invasi vaskular, nekrosis tumor, serta margin reseksi, yang berkontribusi dalam penentuan stadium dan perencanaan tata laksana selanjutnya.[4,16]
Klasifikasi Karsinoma Sel Renal
Klasifikasi karsinoma sel renal mencakup pembagian berdasarkan histopatologi, stadium, dan derajat keganasan sebagai bagian dari penegakan diagnosis. Sistem ini mengintegrasikan klasifikasi subtipe tumor menurut WHO, penentuan stadium menggunakan sistem Tumor, Node, Metastasis (TNM) oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC) dan Union for International Cancer Control (UICC), serta penilaian derajat keganasan melalui sistem WHO/ISUP grading.[1,2,4,16]
Klasifikasi Histopatologi
Berdasarkan klasifikasi WHO, karsinoma sel renal terdiri dari beberapa subtipe utama, yaitu clear cell renal cell carcinoma (ccRCC), papillary renal cell carcinoma (pRCC), dan chromophobe renal cell carcinoma (chRCC), serta subtipe lain yang lebih jarang seperti collecting duct carcinoma dan tumor dengan translokasi genetik tertentu.
Secara histologis, ccRCC ditandai oleh sel-sel dengan sitoplasma jernih (clear) akibat akumulasi lipid dan glikogen, dengan susunan arsitektur alveolar atau solid yang dipisahkan oleh jaringan vaskular yang kaya.
Tipe pRCC menunjukkan pola pertumbuhan papiler atau tubulopapiler dengan inti sel yang tersusun di sepanjang sumbu fibrovascular core, dan dapat disertai makrofag berbusa.
Tipe chRCC ditandai oleh sel besar dengan sitoplasma eosinofilik pucat, batas sel yang tegas, serta adanya perinuclear halo yang khas. Subtipe lain seperti collecting duct carcinoma memperlihatkan pola tubulointerstisial infiltratif dengan stroma desmoplastik.[4,16]
Klasifikasi Stadium
Penentuan stadium karsinoma sel renal menggunakan sistem TNM dari AJCC dan UICC, yang menilai ukuran dan invasi tumor primer (T), keterlibatan kelenjar getah bening regional (N), serta adanya metastasis jauh (M) [1,17].
Tabel 1. Penentuan Kategori T, N, dan M
| Klasifikasi | Definisi |
| T (Tumor Primer) | |
| TX | tidak dapat dinilai |
| T0 | tidak ada bukti tumor |
| T1: ≤ 7 cm, terbatas pada ginjal | |
| T1a | ≤ 4 cm |
| T1b | > 4 hingga 7 cm |
| T2: > 7 cm, terbatas pada ginjal | |
| T2a | 7–10 cm |
| T2b | > 10 cm |
| T3: meluas ke vena utama atau jaringan perinefritik tanpa melewati fascia Gerota | |
| T3a | melibatkan vena renalis, pelvikelisikal, atau lemak perirenal/renal sinus |
| T3b | ke vena kava di bawah diafragma |
| T3c | ke vena kava di atas diafragma atau dinding vena kava |
| T4 | meluas melewati fascia Gerota, termasuk kelenjar adrenal ipsilateral |
| N (Kelenjar Getah Bening Regional) | |
| NX | Tidak dapat dinilai |
| N0 | Tidak ada |
| N1 | Metastasis positif |
| M (Metastasis Jauh | |
| M0 | Tidak ada |
| M1 | Ada |
Sumber: dr. Naila Fariq, Alomedika, 2026.[1,17]
Berdasarkan kombinasi T, N, dan M, stadium patologis (pTNM) dikelompokkan:
- Stadium I: T1 N0 M0
- Stadium II: T2 N0 M0
- Stadium III: T3 N0 M0 atau T1–T3 N1 M0
- Stadium IV: T4 dengan N apa pun M0 atau T apa pun, N apa pun, M1.[1,17]
Grading
Derajat keganasan karsinoma sel renal dinilai menggunakan sistem WHO/ISUP grading, yang didasarkan terutama pada karakteristik inti sel (nuclear features), khususnya ukuran dan prominensi nukleolus serta tingkat pleomorfisme. Sistem ini membagi tumor menjadi empat derajat (grade 1–4).[4,16]
Grade 1 ditandai oleh nukleolus yang tidak tampak atau sangat kecil pada pembesaran tinggi
Grade 2 menunjukkan nukleolus yang mulai tampak jelas.
Grade 3 nukleolus tampak menonjol dan mudah dikenali bahkan pada pembesaran rendah.
Grade 4 ditandai oleh pleomorfisme inti yang berat, adanya sel raksasa, atau pola diferensiasi sarkomatoid atau rabdoid.[4,16]
Penilaian grading dilakukan pada area tumor dengan derajat tertinggi (highest grade area), karena mencerminkan komponen paling agresif secara histologis. Selain nukleolus, temuan tambahan seperti nekrosis tumor dan diferensiasi sarkomatoid juga sering dilaporkan.
Sistem WHO/ISUP grading terutama diterapkan pada clear cell RCC dan papillary RCC. Sementara itu pada beberapa subtipe lain seperti chromophobe RCC, penggunaannya memiliki keterbatasan sehingga interpretasi lebih menekankan pada gambaran morfologi keseluruhan.[4,16]
Penulisan pertama oleh: dr. Putri Kumala Sari