Etiologi HIV
Etiologi infeksi HIV adalah Human Immunodeficiency Virus. Faktor yang meningkatkan risiko transmisi HIV adalah penggunaan jarum suntik secara bersama-sama pada pengguna narkoba suntik, hubungan seksual tanpa pengaman, serta perilaku seksual berisiko.[1,4]
Human Immunodeficiency Virus
HIV merupakan virus yang termasuk dalam famili Retroviridae dan genus Lentivirus. Partikel virus HIV terdiri atas membran lipid yang membungkus kapsid protein berbentuk kerucut yang khas. Di dalam kapsid terdapat kompleks nukleoprotein yang mengandung dua salinan RNA identik serta enzim penting seperti integrase dan reverse transcriptase.[1,4]
Secara umum terdapat dua tipe utama HIV, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Secara molekuler, HIV-1 dan HIV-2 hanya memiliki kesamaan sekitar 60% pada tingkat asam amino dan sekitar 48% pada tingkat nukleotida. Keduanya berasal dari dua peristiwa penularan zoonotik yang berbeda dari virus simian immunodeficiency virus (SIV), sehingga memiliki perbedaan dalam tingkat keparahan penyakit, kemampuan penularan, serta prognosis.
Virus ini terutama menginfeksi sel limfosit T helper CD4+, yang berperan penting dalam sistem imun. Infeksi HIV menyebabkan penurunan jumlah sel CD4 bertahap sehingga terjadi penekanan sistem kekebalan tubuh yang berat. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi menjadi semakin lemah dan menimbulkan berbagai manifestasi klinis.
Jika tidak mendapatkan terapi, infeksi HIV dapat berkembang menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Pada tahap ini, sistem imun sudah sangat terganggu sehingga tubuh tidak mampu lagi melindungi diri dari berbagai infeksi, terutama infeksi oportunistik (IO), seperti tuberkulosis dan kandidiasis oral, yang dapat berujung pada kematian.[4]
Faktor Risiko
Risiko penularan HIV dari sumber yang terinfeksi berbeda-beda tergantung jenis paparan. Pada paparan parenteral, seperti penggunaan jarum suntik bersama pada pengguna narkoba suntik, risiko penularan diperkirakan sekitar 63 per 10.000 paparan, sedangkan pada cedera tusukan jarum sekitar 23 per 10.000 paparan.
Pada paparan seksual, risiko tertinggi terjadi pada hubungan anal reseptif dengan perkiraan 138 per 10.000 paparan, diikuti oleh hubungan anal insertif sekitar 11 per 10.000, hubungan vaginal reseptif sekitar 8 per 10.000, dan hubungan vaginal insertif sekitar 4 per 10.000 paparan. Penularan melalui seks oral sangat jarang dilaporkan dan risikonya dianggap rendah.
Sementara itu, beberapa jenis paparan lain seperti gigitan manusia, meludah, melempar cairan tubuh seperti saliva atau semen, serta penggunaan bersama sex toys dianggap memiliki risiko penularan yang sangat kecil atau dapat diabaikan. Meski demikian, risiko dapat meningkat apabila paparan melibatkan darah atau sumber dengan viral load HIV yang tinggi.[5]
Peningkatan Risiko
Risiko infeksi HIV setelah suatu paparan dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama viral load dari sumber infeksi dan jenis paparan yang terjadi. Risiko penularan meningkat pada kondisi infeksi HIV yang tidak diobati, kadar HIV RNA yang tinggi dalam darah, adanya ulkus genital atau anorektal, serta kontak langsung darah dengan darah.
Risiko penularan dapat meningkat signifikan jika terdapat lebih dari satu faktor risiko dalam waktu bersamaan, misalnya cedera tusukan jarum yang dalam menggunakan jarum berlubang (hollow-bore needle) dari sumber dengan viral load tinggi.[5]
Penurunan Risiko
Risiko penularan HIV dapat menurun secara signifikan apabila viral load pada sumber infeksi rendah atau tidak terdeteksi, individu menjalani terapi antiretroviral (ART/Antiretroviral Therapy) dengan supresi virus yang stabil, atau menggunakan profilaksis prapajanan. Penelitian menunjukkan bahwa pasien HIV yang menjalani ART dan memiliki viral load tidak terdeteksi (<200 kopi/mL) tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.
Pada konteks kehamilan dan menyusui, supresi virus yang baik juga dapat menurunkan risiko penularan kepada bayi hingga kurang dari 1%, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Risiko penularan HIV setelah paparan perkutaneus pada lingkup kerja, misalnya tertusuk jarum yang terkontaminasi darah pasien HIV, diperkirakan sekitar 0,3%, sedangkan paparan melalui membran mukosa sekitar 0,09%.
Penggunaan post-exposure prophylaxis (PEP) seperti zidovudine terbukti dapat menurunkan risiko infeksi hingga sekitar 81%, dan penggunaan regimen PEP modern dengan kombinasi tiga obat diperkirakan dapat menurunkan risiko lebih jauh.[5]
Populasi Berisiko
Laporan analisis situasi di Indonesia tahun 2023 menunjukkan kelompok usia 15–20 tahun meliputi LSL (Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki), pekerja seks, pengguna narkoba suntik (penasun), dan transgender, masih menghadapi risiko tinggi tertular HIV.[5,6]
Risiko Pada Populasi Anak
Jenis paparan yang mungkin terjadi pada anak antara lain kekerasan seksual, cedera tusukan jarum, atau gigitan dari individu yang terinfeksi HIV. Penularan melalui gigitan sangat jarang dan biasanya hanya dilaporkan pada kasus yang melibatkan saliva bercampur darah. Jika gigitan tidak menyebabkan luka yang merusak integritas kulit, maka tidak dianggap sebagai paparan berisiko.
Penularan HIV pada anak lebih mungkin terjadi pada kasus kekerasan seksual. Risiko ini dapat meningkat pada anak perempuan karena kondisi biologis seperti ektopi serviks pada remaja dan epitel vagina yang lebih tipis pada anak prapubertas, serta adanya trauma mukosa akibat kekerasan berulang.
Sementara itu, paparan dari jarum suntik yang dibuang di lingkungan umum memiliki risiko yang sangat rendah. Penelitian pada anak yang mengalami cedera akibat jarum bekas tidak menemukan kasus serokonversi HIV, bahkan pada sebagian anak yang tidak menerima profilaksis antiretroviral. Hal ini menunjukkan bahwa virus HIV tidak bertahan lama di lingkungan terbuka sehingga risiko penularan sangat kecil.[5]
Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya