Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi HIV yogi 2026-06-04T11:37:54+07:00 2026-06-04T11:37:54+07:00
HIV
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi HIV

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Etiologi infeksi HIV adalah Human Immunodeficiency Virus. Faktor yang meningkatkan risiko transmisi HIV adalah penggunaan jarum suntik secara bersama-sama pada pengguna narkoba suntik, hubungan seksual tanpa pengaman, serta perilaku seksual berisiko.[1,4]

Human Immunodeficiency Virus

HIV merupakan virus yang termasuk dalam famili Retroviridae dan genus Lentivirus. Partikel virus HIV terdiri atas membran lipid yang membungkus kapsid protein berbentuk kerucut yang khas. Di dalam kapsid terdapat kompleks nukleoprotein yang mengandung dua salinan RNA identik serta enzim penting seperti integrase dan reverse transcriptase.[1,4]

Secara umum terdapat dua tipe utama HIV, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Secara molekuler, HIV-1 dan HIV-2 hanya memiliki kesamaan sekitar 60% pada tingkat asam amino dan sekitar 48% pada tingkat nukleotida. Keduanya berasal dari dua peristiwa penularan zoonotik yang berbeda dari virus simian immunodeficiency virus (SIV), sehingga memiliki perbedaan dalam tingkat keparahan penyakit, kemampuan penularan, serta prognosis.

Virus ini terutama menginfeksi sel limfosit T helper CD4+, yang berperan penting dalam sistem imun. Infeksi HIV menyebabkan penurunan jumlah sel CD4 bertahap sehingga terjadi penekanan sistem kekebalan tubuh yang berat. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi menjadi semakin lemah dan menimbulkan berbagai manifestasi klinis.

Jika tidak mendapatkan terapi, infeksi HIV dapat berkembang menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Pada tahap ini, sistem imun sudah sangat terganggu sehingga tubuh tidak mampu lagi melindungi diri dari berbagai infeksi, terutama infeksi oportunistik (IO), seperti tuberkulosis dan kandidiasis oral, yang dapat berujung pada kematian.[4]

Faktor Risiko

Risiko penularan HIV dari sumber yang terinfeksi berbeda-beda tergantung jenis paparan. Pada paparan parenteral, seperti penggunaan jarum suntik bersama pada pengguna narkoba suntik, risiko penularan diperkirakan sekitar 63 per 10.000 paparan, sedangkan pada cedera tusukan jarum sekitar 23 per 10.000 paparan.

Pada paparan seksual, risiko tertinggi terjadi pada hubungan anal reseptif dengan perkiraan 138 per 10.000 paparan, diikuti oleh hubungan anal insertif sekitar 11 per 10.000, hubungan vaginal reseptif sekitar 8 per 10.000, dan hubungan vaginal insertif sekitar 4 per 10.000 paparan. Penularan melalui seks oral sangat jarang dilaporkan dan risikonya dianggap rendah.

Sementara itu, beberapa jenis paparan lain seperti gigitan manusia, meludah, melempar cairan tubuh seperti saliva atau semen, serta penggunaan bersama sex toys dianggap memiliki risiko penularan yang sangat kecil atau dapat diabaikan. Meski demikian, risiko dapat meningkat apabila paparan melibatkan darah atau sumber dengan viral load HIV yang tinggi.[5]

Peningkatan Risiko

Risiko infeksi HIV setelah suatu paparan dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama viral load dari sumber infeksi dan jenis paparan yang terjadi. Risiko penularan meningkat pada kondisi infeksi HIV yang tidak diobati, kadar HIV RNA yang tinggi dalam darah, adanya ulkus genital atau anorektal, serta kontak langsung darah dengan darah.

Risiko penularan dapat meningkat signifikan jika terdapat lebih dari satu faktor risiko dalam waktu bersamaan, misalnya cedera tusukan jarum yang dalam menggunakan jarum berlubang (hollow-bore needle) dari sumber dengan viral load tinggi.[5]

Penurunan Risiko

Risiko penularan HIV dapat menurun secara signifikan apabila viral load pada sumber infeksi rendah atau tidak terdeteksi, individu menjalani terapi antiretroviral (ART/Antiretroviral Therapy) dengan supresi virus yang stabil, atau menggunakan profilaksis prapajanan. Penelitian menunjukkan bahwa pasien HIV yang menjalani ART dan memiliki viral load tidak terdeteksi (<200 kopi/mL) tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual.

Pada konteks kehamilan dan menyusui, supresi virus yang baik juga dapat menurunkan risiko penularan kepada bayi hingga kurang dari 1%, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Risiko penularan HIV setelah paparan perkutaneus pada lingkup kerja, misalnya tertusuk jarum yang terkontaminasi darah pasien HIV, diperkirakan sekitar 0,3%, sedangkan paparan melalui membran mukosa sekitar 0,09%.

Penggunaan post-exposure prophylaxis (PEP) seperti zidovudine terbukti dapat menurunkan risiko infeksi hingga sekitar 81%, dan penggunaan regimen PEP modern dengan kombinasi tiga obat diperkirakan dapat menurunkan risiko lebih jauh.[5]

Populasi Berisiko

Laporan analisis situasi di Indonesia tahun 2023 menunjukkan kelompok usia 15–20 tahun meliputi LSL (Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki), pekerja seks, pengguna narkoba suntik (penasun), dan transgender, masih menghadapi risiko tinggi tertular HIV.[5,6]

Risiko Pada Populasi Anak

Jenis paparan yang mungkin terjadi pada anak antara lain kekerasan seksual, cedera tusukan jarum, atau gigitan dari individu yang terinfeksi HIV. Penularan melalui gigitan sangat jarang dan biasanya hanya dilaporkan pada kasus yang melibatkan saliva bercampur darah. Jika gigitan tidak menyebabkan luka yang merusak integritas kulit, maka tidak dianggap sebagai paparan berisiko.

Penularan HIV pada anak lebih mungkin terjadi pada kasus kekerasan seksual. Risiko ini dapat meningkat pada anak perempuan karena kondisi biologis seperti ektopi serviks pada remaja dan epitel vagina yang lebih tipis pada anak prapubertas, serta adanya trauma mukosa akibat kekerasan berulang.

Sementara itu, paparan dari jarum suntik yang dibuang di lingkungan umum memiliki risiko yang sangat rendah. Penelitian pada anak yang mengalami cedera akibat jarum bekas tidak menemukan kasus serokonversi HIV, bahkan pada sebagian anak yang tidak menerima profilaksis antiretroviral. Hal ini menunjukkan bahwa virus HIV tidak bertahan lama di lingkungan terbuka sehingga risiko penularan sangat kecil.[5]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Abi Noya

Referensi

1. van Heuvel Y., Schatz S., Rosengarten JF., Stitz J. Infectious RNA: Human Immunodeficiency Virus (HIV) Biology, Therapeutic Intervention, and the Quest for a Vaccine. Toxins. MDPI; 2022. DOI:10.3390/toxins14020138
4. Swinkels HM., Nguyen AD., Samandari T., Peter ;, Gulick G. HIV and AIDS. StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534860/
5. Cowan E., Christine Kerr CA., Daniel J., group Rona Vail WM., Shah SS., Fine SM., et al. Post-Exposure Prophylaxis (PEP) to Prevent HIV Infection MEDICAL CARE CRITERIA COMMITTEE Post-Exposure Prophylaxis (PEP) to Prevent HIV Infection. 2025. www.hivguidelines.org
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Memahami Risiko dan Perilaku terkait HIV di Kalangan Populasi Kunci Muda Tinjauan Data STBP 2023. 2025.

Patofisiologi HIV
Epidemiologi HIV

Artikel Terkait

  • Penanganan TB-HIV
    Penanganan TB-HIV
  • Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
    Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
  • Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
    Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
  • Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
    Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
  • Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS
    Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 15 Desember 2025, 07:42
Akurasi tes rapid HIV
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO dokter, selamat sore. izin tanya, pasien saya datang untuk cek rapid anti hiv karena melakukan tindakan beresiko 2 thn yll, setelahnya dia sudah tobat...
Anonymous
Dibalas 28 Mei 2025, 20:49
HIV AIDS IO TB PARU, apa terapi yang tepat yang dapat diberikan?
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter, saya memiliki pasien B20+TB Paru, dengan sesak napas, batuk 1 bulan, keluhan lain sakit kepala, teriak2 dan tidak bisa diajak berkomunikasi....
Anonymous
Dibalas 27 Mei 2025, 12:30
Tes HIV Non Reaktif , 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, Izin bertanya dok, pasien melakukan Tes HIV dengan hasil Non Reaktif , di 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ? Dan apakah perlu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.