Penatalaksanaan Retensi Urin
Prinsip penatalaksanaan pertama pada retensi urin, terutama yang terjadi dalam kondisi akut, adalah melakukan dekompresi vesika urinaria sesegera mungkin. Langkah ini dapat dilakukan melalui pemasangan kateter Foley ukuran 16-F transuretra. Bila akses transuretra tidak memungkinkan, baru dipikirkan untuk akses transabdominal melalui kateterisasi suprapubik.
Pasien yang baru saja menjalani tindakan pembedahan urologi, seperti prostatektomi radikal atau rekonstruksi uretra, tidak disarankan menjalani kateterisasi transuretra untuk dekompresi vesika urinaria. Untuk pasien dengan retensi urin yang kronik, pasien juga dapat diberikan pilihan terapi berupa kateterisasi berkala (clean intermittent catheterization).[1,2,23]
Berobat Jalan
Sebagian besar kasus retensi urin akut yang datang ke IGD Rumah Sakit dapat ditangani dengan aman sebagai pasien rawat jalan dengan rujukan untuk evaluasi urologi lanjutan. Pasien perlu mendapatkan instruksi yang lengkap mengenai perawatan kateter Foley, seperti cara mengosongkan urine bag, kebutuhan untuk penggantian rutin, serta pemantauan keluaran urin.
Beberapa indikasi bahwa retensi urin dapat dilakukan pengobatan rawat jalan adalah:
- Gejala retensi urin ringan-sedang: pasien dengan post-void residual urine volume kurang dari 300 ml dan tidak ada bukti mengalami hidronefrosis atau gagal ginjal akut
- Tidak memiliki penyebab neurogenik seperti cedera medula spinalis atau stroke
- Memiliki fungsi ginjal yang masih baik
- Dapat melakukan kateterisasi mandiri secara berkala (clean intermittent self-catheterization) sebagai alternatif yang layak dibandingkan penggunaan kateter Foley.[13,24,25]
Persiapan Rujukan
Beberapa indikasi yang mengharuskan pasien retensi urin harus dirujuk adalah:
Post-void residual urine volume yang tinggi, lebih dari 300 ml.
Post-void residual urine volume yang tidak tinggi tetapi pasien dan keluarga memiliki ketidakmampuan untuk mengelola retensi
- Retensi urin disertai dengan gejala tambahan berupa hematuria, infeksi saluran kemih, atau gejala neurologis.[13,26]
Dekompresi Kandung Kemih
Dekompresi kandung kemih bisa dilakukan dengan pemasangan kateter transuretra atau suprapubik.[4]
Kateterisasi
Kateterisasi transuretra merupakan metode utama dalam menangani retensi urin akut di unit gawat darurat. Kateter Foley 16-French biasanya merupakan pilihan, tetapi ukuran atau jenis lain dapat dipertimbangkan sesuai kondisi klinis pasien.
Prosedur harus dilakukan secara steril untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih terkait kateter (CAUTI). Jika kateterisasi sulit akibat striktur uretra atau benign prostate hyperplasia (BPH), penggunaan kateter lebih kecil dapat dicoba. Pada pasien dengan hematuria masif atau bekuan darah yang menyumbat aliran urin, kateter tiga lumen memungkinkan irigasi kandung kemih.
Dalam melakukan kateterisasi pada pasien dengan retensi urin, perlu dicatat bahwa kateterisasi blind dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat trauma uretra atau operasi urologi baru-baru ini, dan konsultasi urologi diperlukan jika kateterisasi berulang kali gagal.[4]
Kateterisasi Suprapubik
Kateterisasi suprapubik digunakan sebagai alternatif jika kateterisasi uretra dikontraindikasikan atau gagal meskipun telah dilakukan upaya yang sesuai, dan prosedurnya sebaiknya dilakukan oleh dokter yang terlatih dengan konsultasi urologi. Identifikasi kandung kemih sebelum tindakan dilakukan melalui palpasi dan idealnya dikonfirmasi dengan ultrasonografi real-time untuk mengurangi risiko komplikasi.
Teknik yang umum digunakan adalah metode Seldinger, yang melibatkan pemasangan kawat pemandu, dilatasi traktus, dan pemasangan kateter di atas kawat. Metode lain adalah metode trocar, di mana trocar dimasukkan terlebih dahulu sebelum kateter dipasang. Meskipun efektif, prosedur ini memiliki risiko berupa cedera usus dengan insidensi yang dilaporkan sekitar 2,4% hingga 2,7%.[4]
Medikamentosa
Meskipun terdapat variasi pada masing-masing populasi dan metode penelitian, konsensus dalam literatur terkini menunjukkan bahwa sekitar 65–70% kasus retensi urin akut pada pria berkaitan dengan BPH. Pendekatan utama adalah penggunaan golongan penyekat alfa, seperti alfuzosin (10 mg) dan tamsulosin (0,4–0,8 mg/hari), yang bekerja dengan merelaksasi otot polos di leher kandung kemih dan prostat.[7,23,25,28]
Selain itu, obat agonis kolinergik seperti bethanechol dapat digunakan untuk merangsang kontraksi otot detrusor, sehingga berguna dalam menangani retensi urin non-obstruktif, misalnya pada kondisi pascaoperasi atau postpartum, dengan dosis awal biasanya 10 mg secara oral, tiga kali sehari, dan titrasi hingga 50 mg/hari sesuai respon klinis.
Untuk kasus retensi urin terkait penggunaan opioid, pemberian methylnaltrexone 0,15 mg/kg subkutan dapat membantu mengurangi efek samping opioid terhadap kandung kemih. Pada kasus retensi urin terkait konstipasi, dapat diberikan stool softener dan katartik untuk mencegah dan mengatasi konstipasi.[30,31]
Tabel 1. Ringkasan Terapi Medikamentosa untuk Retensi Urin
Nama Obat / Terapi | Dosis | Keterangan |
Alfuzosin | 10 mg, sekali sehari | Penyekat alfa untuk merelaksasi otot leher kandung kemih, terutama pada pasien dengan BPH. |
Silodosin | 4–8 mg, sekali sehari | Penyekat alfa untuk mengurangi obstruksi saluran urin pada pasien BPH. |
Tamsulosin | 0,4–0,8 mg/hari | Penyekat alfa untuk meningkatkan aliran urin pada BPH |
Bethanechol | Mulai pada 10 mg, 3 kali sehari, titrasi hingga 50 mg/hari | Agonis kolinergik yang menstimulasi kontraksi otot detrusor; digunakan untuk retensi urin non-obstruktif, seperti pascaoperasi atau postpartum. |
Methylnaltrexone | 0,15 mg/kg, subkutan, sekali sehari | Digunakan pada retensi urin yang terkait dengan penggunaan opioid. |
Sumber: dr. Qorry Amanda, Alomedika, 2025.
Perlu diperhatikan bahwa dokter juga perlu melakukan tinjauan terhadap seluruh obat yang dikonsumsi pasien, baik yang diresepkan maupun obat bebas. Hal ini untuk mengevaluasi apabila ada obat yang bisa menyebabkan atau memperburuk retensi urin. Jika ada obat yang bisa berkaitan atau memperburuk retensi urin, pertimbangkan untuk menghentikan, mengganti, atau menyesuaikan terapi.
Pembedahan
Indikasi terapi pembedahan pada retensi urin ditentukan berdasarkan penyebab dan jenis retensi urin yang dialami pasien. Pada pria dengan retensi urin akibat obstruksi saluran kemih dari BPH, di mana pembesaran prostat menghambat aliran urin, prosedur seperti transurethral resection of the prostate (TURP) sering dipilih untuk mengurangi gejala dan memfasilitasi pengosongan kandung kemih. Sementara itu, pada kasus dengan striktur uretra pembedahan diperlukan untuk mengoreksi penyempitan.
Selain itu, pada pasien wanita yang mengalami retensi urin akibat kondisi anatomis seperti obstruksi leher kandung kemih atau prolaps organ panggul, intervensi seperti sistoskopi dengan dilatasi atau prosedur bedah perbaikan prolaps dapat dipertimbangkan untuk mengembalikan fungsi kandung kemih.
Apabila retensi urin kronis tidak responsif terhadap terapi medis konservatif, misalnya pengobatan dengan agen penyekat alfa atau kolinergik, atau jika retensi urin telah menimbulkan komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih berulang dan kerusakan ginjal, intervensi bedah menjadi pilihan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Demikian pula, dalam situasi retensi urin akut di mana kateterisasi sebagai tindakan sementara tidak memberikan perbaikan, pembedahan dapat diperlukan untuk mengatasi penyebab struktural yang mendasari [13,25,32]