Indikasi dan Dosis Methylprednisolone
Indikasi methylprednisolone adalah sebagai antiinflamasi atau imunosupresan dalam berbagai kondisi medis, seperti sindrom Stevens-Johnson, multiple sclerosis, reaksi penolakan pada transplantasi organ, dan kondisi alergi. Dosis memerlukan tapering dan penggunaan jangka lama atau dosis tinggi tidak boleh dihentikan secara mendadak.[2,3,18]
Indikasi
Methylprednisolone memiliki efek antiinflamasi dan imunosupresan yang bermanfaat dalam berbagai kondisi medis berikut:
- Gangguan endokrin: insufisiensi adrenokortikal primer atau sekunder, hiperplasia adrenal kongenital, tiroiditis nonsupuratif, hiperkalsemia terkait kanker
- Penyakit rematik: terapi adjuvan jangka pendek pada rheumatoid arthritis, ankylosing spondilitis, bursitis, sinovitis, osteoarthritis, psoriatik arthritis, epikondilitis, gout akut
- Gangguan kolagen: lupus eritematosus sistemik, polimiositis, karditis reumatik akut
- Penyakit kulit: dermatitis bulosa herpetiformis, sindrom Stevens-Johnson, dermatitis seboroik berat, dermatitis eksfoliatif, pemfigus, psoriasis berat
- Gangguan mata: kondisi alergi kronis atau berat, seperti uveitis dan koroiditis posterior difus, oftalmia simpatis, keratitis, neuritis optik, konjungtivitis alergi, korioretinitis, iritis, dan iridosiklitis
- Gangguan pernapasan: rhinitis alergi, sarkoidosis simtomatik, beriliosis, sindrom Loeffler yang tidak dapat diatasi dengan cara lain, tuberkulosis paru fulminan atau diseminata bila digunakan bersamaan dengan antituberkulosis, pneumonitis aspirasi.
- Gangguan hematologi: idiopathic thrombocytopenic purpura pasien dewasa, anemia hemolitik autoimun, erythroblastopenia, anemia hipoplastik kongenital
- Gangguan saraf: eksaserbasi akut multiple sclerosis
- Lainnya: meningitis tuberkulosis, trikinosis yang melibatkan sistem saraf atau jantung, reaksi penolakan transplantasi organ.[2,3,18,23,27,37]
Rentang Dosis Umum Sebagai Antiinflamasi Atau Imunosupresan
Dosis methylprednisolone bergantung pada kondisi klinis yang diterapi, derajat keparahan, serta respon masing-masing pasien. Dosis juga akan berbeda tergantung cara pemberian.[2,3,37]
Pada kasus Antineutrophil Cytoplasmic Antibody (ANCA) associated vasculitis methylprednisolone telah diketahui efektif. Lebih lanjut, ada studi yang menunjukkan bahwa dosis rendah methylprednisolone efektif dan aman untuk ANCA-associated vasculitis dan tidak ada perbedaan luaran jika dibandingkan dengan dosis yang lebih tinggi.[23]
Sediaan Oral
Pada dewasa dapat diberikan dalam dosis awal 2-60 mg/hari dalam 1-4 dosis terbagi, tergantung pada penyakit yang sedang diobati.
Pada anak dapat dimulai dengan dosis 0,5-1,7 mg/kg/hari atau 5-25 mg/m2/hari dalam dosis terbagi setiap 6-12 jam. Dapat pula digunakan secara pulse therapy dalam dosis 15-30 mg/kg/dosis diberikan sekali sehari selama 3 hari.
Sediaan Intravena
Pada dewasa dapat diberikan dalam dosis 10-500 mg/hari. Dosis 250 mg diberikan secara injeksi selama minimal 5 menit, sedangkan dosis di atas 250 mg diberikan perlahan selama minimal 30 menit.
Pada anak diberikan dalam dosis 0,5-1,7 mg/kg/hari atau 5-25 mg/m2/hari dalam dosis terbagi setiap 6-12 jam. Dapat pula digunakan secara pulse therapy dalam dosis 15-30 mg/kg/dosis selama 30 menit, diberikan sekali sehari selama 3 hari.
Injeksi Intramuskuler
Pada dewasa dapat diberikan 10-80 mg sekali sehari untuk injeksi intramuskuler.
Pada anak, dosis 0,5-1,7 mg/kg/hari atau 5-25 mg/m2/hari dalam dosis terbagi setiap 6-12 jam. Dapat pula digunakan secara pulse therapy 15-30 mg/kg/dosis, diberikan sekali sehari selama 3 hari.
Injeksi Intralesi
Diberikan dalam bentuk methylprednisolone asetat 20-60 mg setiap 1-5 minggu tergantung respons pasien.
Injeksi Intraartikular
Diberikan dalam sediaan methylprednisolone asetat 4-10 mg untuk sendi kecil. Untuk sendi ukuran sedang, dosis 10-40 mg. Untuk sendi ukuran besar 20-80 mg. Dosis dapat diulang setiap 1-5 minggu tergantung respon pasien.[2]
Eksaserbasi Akut Multiple Sclerosis
Untuk eksaserbasi akut multiple sclerosis methylprednisolone diberikan dalam dosis tinggi untuk menekan proses inflamasi yang mendasari relaps. Regimen yang paling umum adalah pemberian intravena sebesar 1 gram/hari selama 3–5 hari pada relaps sedang hingga berat.
Setelah fase akut ini, terapi biasanya dilanjutkan dengan prednisone oral dosis 60 mg/hari, yang kemudian diturunkan secara bertahap (tapering) selama sekitar 12 hari untuk mencegah efek rebound dan insufisiensi adrenal.
Sebagai alternatif, dapat digunakan pendekatan dosis berbasis berat badan, yaitu 1 gram atau 15 mg/kgBB methylprednisolone IV, yang kemudian diturunkan secara bertahap selama 15 hari hingga mencapai 1 mg/kgBB. Setelah itu, pasien dialihkan ke terapi oral dengan prednisone atau prednisolone dalam dosis yang diturunkan secara perlahan selama beberapa minggu hingga bulan, tergantung respons klinis dan risiko kekambuhan.
Selain rute intravena, terdapat juga rejimen oral dosis tinggi, yaitu 160 mg per hari selama 1 minggu, diikuti dengan 64 mg setiap dua hari selama 1 bulan. Meskipun demikian, dalam praktik klinis, rute IV lebih sering digunakan pada relaps berat karena memberikan efek yang lebih cepat dan bioavailabilitas yang lebih dapat diprediksi.[18]
Status Asmatikus
Methylprednisolone, seperti halnya kortikosteroid lainnya, dapat diberikan secara oral atau intravena untuk terapi asthma yang tidak teratasi dengan terapi lini pertama berupa inhaled corticosteroid (ICS) dan formoterol.
Dewasa
Methylprednisolone diberikan secara intravena dalam dosis 40 mg, diulang berdasarkan respon pasien.[2,3]
Anak
Methylprednisolone dapat digunakan sebagai penanganan status asmatikus pada anak, dengan dosis rendah, yakni dosis loading 2 mg/kg/kali diikuti dengan 0,5-1 mg/kg/kali setiap 6 jam sampai hari ke-5.[13]
Terapi Adjuvan COVID-19 Gejala Berat (Off Label)
Beberapa studi menunjukkan manfaat methylprednisolone dalam penanganan COVID-19, utamanya untuk mencegah sindrom distress pernapasan akut (ARDS).[4]
Dewasa
Methylprednisolone, bersama obat-obat lain dari golongan glukokortikoid, telah diuji coba pada penderita COVID-19 gejala berat, termasuk penderita COVID-19 yang harus dirawat di unit perawatan intensif. Obat ini bermanfaat membantu pemulihan dari pneumonia COVID-19 dengan mengendalikan fase hiperinflamasi pada tahap lanjut perjalanan penyakit COVID-19. Penelitian di berbagai pusat kesehatan telah mencoba penggunaan dengan dosis 1-2 mg/kg, selama maksimal 7 hari.
Penelitian menunjukkan penggunaan methylprednisolone dosis rendah dalam jangka waktu pendek mengurangi perburukan kondisi, kebutuhan unit perawatan intensif, kebutuhan bantuan ventilasi mekanik, dan mortalitas. Methylprednisolone sebagai imunomodulator dapat digunakan sebagai pendamping remdesivir yang berperan mengendalikan replikasi virus, sehingga fase infeksi dan fase hiperinflamasi dapat ditekan secara bersamaan.[1,16,17]
Reaksi Akut Penolakan pada Transplantasi Organ (Off Label)
Pada pasien transplantasi hati yang mengalami reaksi penolakan seluler, methylprednisolone diberikan sebagai terapi lini pertama dengan dosis 500 mg/hari selama 3 hari.
Pada pasien acute graft-versus-host disease pasca transplantasi sel punca hematopoietik, methylprednisolone diberikan secara intravena sebanyak 2 mg/kg/hari selama 4 hari sambil dilakukan observasi respon klinis. Terapi dapat diteruskan hingga pasien stabil, biasanya tidak melebihi 48-72 jam.[11,19,20]
Anak
Untuk pasien anak, dosis yang diberikan adalah 10-20 mg/kg/hari selama hingga 3 hari. Dosis maksimum 1000 mg per hari.[2,3]
Cedera Spinal Akut (Off Label)
Pada cedera spinal akut, methylprednisolone diberikan dalam regimen dosis tinggi (high-dose corticosteroid therapy) dengan tujuan utama menekan proses inflamasi sekunder dan cedera oksidatif yang dapat memperburuk kerusakan neurologis awal.
Pada pasien dewasa, regimen yang direkomendasikan dimulai dengan bolus awal 30 mg/kgBB IV yang diberikan cepat selama 15 menit. Setelah jeda sekitar 45 menit, terapi dilanjutkan dengan infus kontinu 5,4 mg/kgBB per jam selama 23 jam, sehingga total durasi terapi mencapai 24 jam. Pendekatan ini dikenal sebagai protokol dosis tinggi dan bertujuan memberikan efek neuroprotektif pada fase akut cedera.
Pada pasien pediatrik, regimen yang digunakan pada dasarnya sama dengan dewasa, yaitu 30 mg/kgBB IV selama 15 menit, diikuti setelah 45 menit dengan infus kontinu 5,4 mg/kgBB per jam selama 23 jam.[18]
Lupus Nefritis (Off Label)
Pada anak dengan lupus nefritis, methylprednisolone digunakan sebagai terapi imunosupresif intensif, terutama pada fase aktif atau flare berat, dengan tujuan menekan inflamasi glomerulus secara cepat dan mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut.
Pada pasien pediatrik, regimen yang digunakan adalah 30 mg/kgBB IV, diberikan setiap dua hari sekali sebanyak total 6 dosis. Skema ini mencerminkan pendekatan pulse therapy intermiten, yang memungkinkan pemberian dosis tinggi dengan interval untuk mengurangi akumulasi efek samping, sekaligus mempertahankan efek antiinflamasi yang kuat.
Sementara itu, pada pasien dewasa, digunakan pendekatan pulse therapy yang lebih singkat, yaitu 1 gram IV selama ±1 jam setiap hari selama 3 hari berturut-turut. Setelah fase akut ini, terapi dilanjutkan dengan kortikosteroid oral seperti prednisone atau prednisolone dalam dosis 0,5–1 mg/kgBB per hari, yang kemudian diturunkan secara bertahap sesuai respons klinis dan parameter laboratorium.[18]
Infark Vaskulitis Pasca Meningitis (Off Label)
Untuk indikasi komplikasi infark vaskulitis pasca meningitis streptokokal, telah dilaporkan penggunaan methylprednisolone sebagai adjuvan untuk antibiotik, dengan dosis 30 mg/kgB/hari selama 3 hari pada kasus penderita berusia 1 tahun 2 bulan. Luaran klinis pasien dilaporkan membaik meski ada sekuele berupa epilepsi.[21]
Immune-Checkpoint Inhibitor Myocarditis (Off Label)
Pada pasien dewasa, American Heart Association merekomendasikan penggunaan methylprednisolone intravena 1000 mg/hari selama 3 hari sebagai terapi untuk immune-checkpoint inhibitor myocarditis yang dapat terjadi selama terapi kanker dengan immune-checkpoint inhibitor.[22]
Croup (Off Label)
Methylprednisolone dapat digunakan sebagai bagian dari penanganan croup anak dengan dosis rendah, yakni 1-2 mg/kg kemudian diikuti 0,5 mg/kg setiap 6-8 jam. Dosis maksimal 10 mg/hari.[13]
Penulisan pertama: dr. Tanessa Audrey Wihardji
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha