Penatalaksanaan Plasenta Previa
Prinsip penatalaksanaan plasenta previa atau placenta previa adalah mengantisipasi perdarahan masif dan persalinan preterm serta menentukan waktu terminasi kehamilan yang optimal. Pada pasien yang stabil tanpa perdarahan aktif dan usia kehamilan kurang dari 36 minggu, dapat dilakukan tata laksana ekspektatif dengan observasi maternal dan janin. Sebaliknya, perdarahan yang berat atau berlanjut merupakan indikasi untuk terminasi kehamilan.
Pada kasus tanpa komplikasi, sectio caesarea elektif umumnya direncanakan pada usia kehamilan 36–37 minggu. Selama perawatan, stabilisasi hemodinamik menjadi prioritas. Selain itu, diperlukan pemantauan kondisi janin dan persiapan transfusi darah bila diperlukan.
Setelah kelahiran janin dan pelepasan plasenta, perdarahan sering terjadi akibat rendahnya kemampuan kontraksi segmen bawah uterus sehingga diperlukan upaya hemostasis secara bertahap. Penatalaksanaan dapat dimulai dengan uterotonika seperti oxytocin, disertai tindakan mekanik dan bedah seperti ligasi arteri atau embolisasi arteri jika perlu.
Pada perdarahan yang tidak dapat dikendalikan atau bila terdapat spektrum plasenta akreta, histerektomi bisa menjadi tindakan yang dapat menyelamatkan nyawa. Dalam kondisi perdarahan masif, lakukan protokol transfusi masif guna mempertahankan stabilitas hemodinamik ibu.[1,2,22]
Penanganan Pada Pasien Plasenta Previa dengan Perdarahan Per Vaginam
Pada pasien plasenta previa yang mengalami perdarahan, segera nilai stabilitas hemodinamik ibu dan kesejahteraan janin. Lakukan pemantauan tanda vital maternal dan denyut jantung janin, disertai pemasangan akses intravena untuk memungkinkan resusitasi cairan dan pemberian produk darah bila diperlukan.
Secara simultan, lakukan pemeriksaan laboratorium yang meliputi hitung darah lengkap, golongan darah dan skrining antibodi, serta persiapan crossmatch darah apabila perdarahan signifikan terjadi. Pada kasus perdarahan berat, kebutuhan transfusi darah dapat meningkat dengan cepat sehingga aktivasi protokol transfusi masif perlu dipertimbangkan untuk menjamin ketersediaan produk darah secara cepat dan adekuat.
Setelah kondisi ibu dan janin stabil, penyebab perdarahan dievaluasi lebih lanjut. Lakukan penentuan lokasi plasenta menggunakan ultrasonografi transabdominal atau transperineal, kemudian dapat lanjutkan dengan pemeriksaan spekulum steril untuk menilai sumber dan jumlah perdarahan.
Pemeriksaan bimanual digital dikontraindikasikan pada pasien dengan dugaan atau diagnosis plasenta previa karena dapat menyebabkan robekan plasenta dan memicu perdarahan masif yang mengancam jiwa. Bila terdapat kecurigaan koagulopati atau disseminated intravascular coagulation (DIC), pemeriksaan koagulasi seperti waktu protrombin (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), dan kadar fibrinogen perlu dilakukan.[1,2,22]
Penatalaksanaan Ekspektatif
Pada pasien dengan usia kehamilan kurang dari 36 minggu, penatalaksanaan ekspektatif dengan observasi ketat bisa dipilih apabila perdarahan telah berhenti atau berkurang secara bermakna, serta kondisi janin baik. Kortikosteroid antenatal, seperti betametason, diberikan pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu untuk mempercepat maturasi paru janin.
Tokolitik dapat dipertimbangkan pada kasus perdarahan minimal dan prematuritas berat untuk memberikan kesempatan pemberian kortikosteroid, namun penggunaannya umumnya dibatasi hingga 48 jam karena tidak terbukti memperbaiki luaran perinatal bila diberikan lebih lama.
Pasien dengan episode perdarahan pertama perlu dirawat dan dipantau setidaknya selama 48 jam, sedangkan pasien dengan perdarahan berulang sering kali memerlukan rawat inap hingga persalinan karena meningkatnya risiko komplikasi maternal dan fetal.[1,2,22]
Terminasi Kehamilan
Apabila perdarahan menetap, semakin berat, atau disertai kondisi janin yang memburuk, maka persalinan segera melalui sectio caesaria (SC) menjadi pilihan tanpa memandang usia kehamilan.
Pada kondisi yang lebih stabil, penentuan metode persalinan bergantung pada jarak tepi plasenta terhadap ostium uteri internum.
- Sectio caesarea elektif direkomendasikan apabila tepi plasenta berjarak kurang dari 2 cm dari ostium uteri internum
Persalinan per vaginam dapat dipertimbangkan pada kondisi khusus, bila jarak tepi plasenta lebih dari 2 cm dan tersedia fasilitas yang mampu melakukan tindakan obstetri emergensi, anestesi 24 jam, serta transfusi darah segera apabila terjadi perdarahan masif.[1,2]
Pada pasien yang menjalani sectio caesarea, insisi uterus transversal rendah umumnya digunakan. Namun, insisi vertikal dapat dipertimbangkan apabila plasenta terletak di dinding anterior dan berisiko mengalami cedera selama tindakan operasi. Perencanaan persalinan harus mempertimbangkan lokasi plasenta, kondisi ibu dan janin, serta kemungkinan adanya komplikasi yang menyertai.[1,2,22]
Perhatian Khusus dalam Penanganan Plasenta Previa
Pada pasien dengan risiko tinggi spektrum plasenta akreta, yang mencakup plasenta akreta, inkreta, dan perkreta, persiapan praoperatif yang matang sangat penting karena kondisi ini berkaitan dengan tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat perdarahan masif, kebutuhan transfusi darah, infeksi, serta cedera organ di sekitarnya.
Faktor risiko utama meliputi plasenta previa totalis yang disertai riwayat sectio caesarea atau tindakan pembedahan uterus sebelumnya. Oleh karena itu, pasien perlu mendapatkan konseling mengenai kemungkinan dilakukannya histerektomi apabila perdarahan tidak dapat dikendalikan.
Upaya pengendalian kehilangan darah harus dipersiapkan sejak sebelum persalinan, termasuk penyediaan darah. Pada kasus tertentu, bisa diperlukan pemasangan kateter balon untuk embolisasi pembuluh darah pelvis atau oklusi balon aorta guna mengurangi perdarahan intraoperatif.
Bila terjadi perdarahan hebat, berbagai tindakan hemostasis dapat dilakukan, seperti jahitan kompresi B-Lynch, ligasi arteri uterina (jahitan O'Leary), ligasi arteri hipogastrika, hingga histerektomi sebagai terapi definitif. Pada kasus plasenta akreta yang kecil dan terlokalisasi, reseksi area implantasi plasenta disertai perbaikan primer uterus dapat dipertimbangkan untuk mempertahankan fertilitas pasien.[1]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha