Prognosis Plasenta Previa
Prognosis plasenta previa dipengaruhi derajat penutupan ostium uteri internum oleh plasenta, usia kehamilan saat diagnosis, jumlah episode perdarahan, serta adanya penyulit seperti plasenta akreta. Komplikasi plasenta previa yang perlu diwaspadai adalah perdarahan, persalinan preterm, kebutuhan transfusi darah dan histerektomi, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal.[1,2,6,15,22]
Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi pada ibu dan bayi. Selama kehamilan ibu dapat mengalami perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, infeksi, dan histerektomi emergensi.
Risiko intrauterine growth retardation dilaporkan meningkat pada bayi dengan plasenta previa. Selain itu, plasenta previa juga meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur, asfiksia, dan intrauterine fetal death (IUFD). Komplikasi pada ibu maupun janin paling sering ditemukan akibat plasenta previa yang baru terdiagnosis saat persalinan.
Plasenta previa yang disertai dengan plasenta akreta memiliki morbiditas yang lebih tinggi, serta masa rawat yang lebih panjang, perdarahan yang lebih banyak, dan kebutuhan transfusi yang lebih tinggi.[1,5,6,15,19,22]
Prognosis
Secara umum, prognosis plasenta previa kurang baik, sebab sering terjadi persalinan preterm. Namun, 90% kasus plasenta letak rendah dapat mengalami migrasi plasenta sehingga terjadi resolusi pada trimester ke-3
Sebanyak 16,9% wanita dengan plasenta previa melahirkan sebelum usia kehamilan 34 minggu, dan 27,5% wanita melahirkan pada usia kehamilan 34–37 minggu. Selain itu, bayi juga berisiko memiliki berat badan lahir rendah, skor APGAR rendah, dan risiko terjadinya respiratory distress syndrome meningkat.
Mortalitas ibu akibat plasenta previa dilaporkan sebesar 2-3%. Sementara itu, mortalitas neonatal dilaporkan sebesar 1,2%.[1,5,6,12,15,19,22]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha