Penatalaksanaan Kontraktur Dupuytren
Penatalaksanaan yang bisa menyembuhkan kontraktur Dupuytren atau Dupuytren contracture belum ada, sehingga penatalaksanaan masih berfokus pada kontrol dan koreksi deformitas, serta pencegahan cedera neurovaskular. Penatalaksanaan bisa bersifat non-bedah, seperti fisioterapi, atau bersifat bedah, seperti fasciotomy dan fasciectomy.[6-8]
Penatalaksanaan Non-Bedah
Penatalaksanaan non-bedah bisa berupa observasi, fisioterapi, farmakoterapi, radioterapi, dan kolagenase.[6,8]
Observasi
Observasi dapat dipertimbangkan jika kondisi pasien tidak parah dan pasien tidak merasa terlalu terganggu. Namun, intervensi harus mulai dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi terlalu parah, yakni jika sendi metakarpofalangeal (MCP) kontraktur >30° atau sendi proksimal interfalangeal (PIP) kontraktur >15°. Jika intervensi terlambat saat penyakit sudah parah, maka kontraktur jari tidak bisa membaik meskipun operasi.[6]
Fisioterapi
Fisioterapi dapat mencakup splint ekstensi, latihan peregangan, dan pijatan friksi. Fisioterapi dapat dilakukan baik sebagai terapi tunggal pada tahap awal, maupun dikombinasi dengan bedah. Rehabilitasi umum dilakukan setelah bedah, meskipun regimen yang terbaik masih diperdebatkan. Aplikasi panas dan ultrasound juga mungkin dapat bermanfaat.[1,6]
Farmakoterapi
Beberapa farmakoterapi seperti kortikosteroid dan vitamin E dapat dipertimbangkan, tetapi bukti yang mendukung efektivitasnya untuk mencapai koreksi yang sustainable sebenarnya masih lemah.[6,8]
Radioterapi
Radioterapi diperkirakan dapat menghambat proliferasi fibroblas dan mencegah perburukan proses patofisiologi kontraktur Dupuytren. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa radioterapi mampu menghasilkan perbaikan subjektif dan objektif dalam jangka waktu pendek (1 tahun). Hal ini mengisyaratkan bahwa radioterapi mungkin bermanfaat di tahap awal penyakit, tetapi mungkin kurang bermanfaat untuk tahap lebih lanjut.[6,8]
Pemberian Kolagenase
Clostridium histolyticum merupakan bakteri gram positif yang menghasilkan bermacam toksin, salah satunya kolagenase. Kolagenase ini menghasilkan lisis kolagen tipe III yang patologis di cords kontraktur Dupuytren. Meski terbukti efektif, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa injeksi kolagenase tidak sebaik fasiektomi terbatas untuk kontraktur Dupuytren.[6,10]
Studi terhadap 254 pasien di Eropa menunjukkan bahwa setelah pemberian kolagenase, terjadi perbaikan kontraktur sekitar 34° pada hari pertama dan 42° pada hari ketujuh. Perbaikan ini berhasil bertahan hingga 6 bulan, dengan rata-rata 1.2 injeksi per pasien. Efek samping utama kolagenase adalah atrofi kulit.[6]
Penatalaksanaan Bedah
Penatalaksanaan bedah mencakup fasciotomy jarum, fasiektomi terbatas, dan dermofasciectomy.[6,8]
Fasciotomy Jarum
Fasciotomy jarum melibatkan pemisahan pita fascia secara perkutan dengan menggunakan jarum hipodermik. Keuntungan prosedur ini adalah bisa dilakukan dengan anestesi lokal tanpa rawat inap, sehingga efisien biaya. Kekurangannya adalah tidak bisa menghilangkan jaringan patologis dan kurang efektif untuk penyakit yang parah. Selain itu, ada angka rekurensi yang tinggi, yaitu 9–75% dalam 5 tahun.
Prosedur ini umumnya cocok untuk kontraktur sendi MCP, tetapi kurang cocok untuk cords yang menyebabkan kontraktur PIP. Prosedur ini, bila dibandingkan dengan fasiektomi terbuka, dilaporkan lebih unggul dalam jangka pendek dan untuk koreksi kontraktur yang ringan.[1,6,8]
Fasiektomi Terbatas
Fasiektomi merupakan prosedur bedah terbuka yang dilakukan dengan anestesi umum atau anestesi regional. Tujuannya adalah mengangkat semua cords yang menyebabkan deformitas. Namun, tetap ada risiko rekurensi hingga 20% dan risiko kekakuan pada jari-jari tangan. Diperlukan rehabilitasi intensif setelah tindakan.[1,6,8]
Variasi dari fasiektomi adalah fasiektomi terbatas (segmental) yang dilakukan dengan membuat insisi-insisi kecil pada cord, sehingga jari bisa ekstensi. Keuntungan teknik ini adalah prosedurnya lebih cepat, kurang invasif, dan hanya perlu periode rehabilitasi singkat setelahnya. Namun, angka rekurensi meningkat hingga menjadi 38% dalam jangka panjang. Tindakan ini lebih efektif untuk kontraktur sendi MCP daripada kontraktur sendi PIP.[6.8]
Meskipun fasciotomy jarum dilaporkan lebih unggul daripada fasiektomi dalam jangka pendek dan dalam kasus deformitas ringan, fasiektomi dilaporkan lebih unggul untuk mengurangi angka rekurensi dalam 5 tahun (20.9% vs 84.9%) dan lebih unggul untuk koreksi deformitas yang parah.[1,6]
Dermofasciectomy
Dermofasciectomy merupakan prosedur untuk eksisi semua cords yang patologis, sekaligus dengan eksisi jaringan lemak subkutan dan kulit pada permukaan volar tangan yang berada di bawah cords. Tendon dan jaringan neurovaskular yang tersisa di jari kemudian ditutup menggunakan cangkok kulit ketebalan penuh dari lengan bawah atau lengan atas.[1,6,8]
Keuntungan tindakan ini adalah secara teori, semua jaringan patologis sudah diangkat, sehingga risiko rekurensi lebih rendah. Namun, kekurangannya adalah morbiditas pada situs donor dan resipien cangkok kulit, rehabilitasi lebih lama, dan chronic regional pain syndrome (CRPS).[6]