Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS) general_alomedika 2026-08-25T17:05:44+07:00 2026-08-25T17:05:44+07:00
Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Oleh :
Rainey Ahmad Fajri Putranta
Share To Social Media:

Diagnosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS) terutama dicurigai pada pasien dengan riwayat perjalanan/tinggal di daerah endemis MERS dan ditegakkan melalui uji serologi atau Real Time Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR) yang positif. Periode inkubasi MERS-CoV adalah 5 hari.

Diagnosis MERS sulit ditentukan hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik sebab manifestasi klinis bervariasi dari asimtomatik, gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia, bahkan dapat terjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS), sepsis, dan mortalitas.[1,4-6]

Anamnesis

Pasien dengan MERS dapat memiliki gejala atau tanpa gejala. MERS CoV simptomatis dapat mengeluhkan:

  • Gejala tidak spesifik: demam, mual, muntah, nyeri otot dan nyeri perut
  • Gejala infeksi saluran pernapasan atas: rhinorrhea
  • Gejala infeksi saluran pernapasan bawah: sesak.

Keluhan lain yang dapat ditemukan pada anamnesis adalah diare. Gejala pernapasan yang berat seperti gagal napas juga dapat terjadi.

Selain gejala-gejala tersebut, biasanya pasien dengan MERS memiliki riwayat bepergian dari negara Timur Tengah dalam 14 hari sebelum onset, bekerja di pelayanan kesehatan, kontak dengan unta, atau kontak dengan orang yang bepergian ke Timur Tengah.[1,2,4-6]

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan pasien dengan MERS, dapat ditemukan hasil yang mirip dengan pasien pneumonia. Pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan, antara lain:

  • Peningkatan atau penurunan suhu tubuh (< 36°C atau ≥38°C)
  • Tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg bila pasien syok sepsis
  • Peningkatan laju nadi di atas 90 kali per menit
  • Peningkatan laju pernapasan per menit yaitu ≥ 20 kali/menit
  • Penurunan saturasi oksigen di bawah 90%.[1,4-6,13]

Diagnosis Banding

Diagnosis banding untuk MERS dilihat dari gejala sesak dapat dibagi menjadi sesak karena paru-paru, jantung, maupun metabolik. Sesak yang berasal dari paru-paru antara lain disebabkan oleh influenza, parainfluenza, pneumonia, dan tuberkulosis paru. Sesak yang berasal dari jantung dapat disebabkan adanya gagal jantung.

Influenza dan Parainfluenza

Infeksi influenza dan parainfluenza merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan yang paling sering terjadi. Biasanya pasien akan merasa demam, bersin, batuk, dan sakit kepala. Infeksi akibat influenza dapat dibedakan dengan MERS dari lamanya infeksi serta respons pada obat. Infeksi akibat influenza dapat sembuh pada hari ke-5 sampai 6 setelah infeksi, dan pasien merespons pada pemberian terapi penunjang.[14]

Pneumonia

Pada pneumonia terdapat gejala demam, sesak, serta batuk, yang sama dengan infeksi yang disebabkan MERS. Selain itu, dapat ditemukan pula gambaran infiltrat pada rontgen paru, pada auskultasi ditemukan ronkhi dan mengi.

Pneumonia dapat dibedakan dengan MERS dari hasil pemeriksaan aspirat sistem pernapasan. Pada pneumonia, ditemukan bakteri penyebab infeksi tersebut, sedangkan tidak ditemukan bakteri penyebab pada MERS.[15]

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru merupakan salah satu infeksi paru yang paling sering ditemukan di Indonesia. Dengan tanda dan gejala yang tidak khas, tuberkulosis dapat muncul dalam berbagai bentuk. Dibedakan dengan pemeriksaan dahak, lamanya waktu infeksi, serta penurunan berat badan, tuberkulosis dapat mengecoh dokter dalam mendiagnosis MERS.[16]

Gagal Jantung

Gagal jantung dapat dibedakan dari MERS dengan adanya edema pada tungkai, suara jantung abnormal, serta hasil x-ray toraks. Pada gagal jantung, tidak ditemukan demam dan gejala-gejala infeksi saluran napas.[17]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang utama untuk MERS adalah pemeriksaan RT-PCR, di mana bila hasil didapatkan positif, dokter dapat tegak mendiagnosis pasien dengan MERS.[5]

Pemeriksaan rRT-PCR

Pemeriksaan RT-PCR menggunakan sampel sputum dan swab tenggorok untuk menentukan skrining serta diagnosis MERS, diikuti dengan teknik sekuensing. Pengambilan sampel ini sebaiknya dilakukan sebelum pemberian antibiotik.

Pemeriksaan laboratorium diagnostik untuk MERS antara lain pemeriksaan gen protein E (gen upE), gen ORF1b, gen ORF1a. Untuk konfirmasi, dapat diperiksa gen protein RNA polymerase pada RdRp RNA dan nukleokapsid.[2,18]

Pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi virus MERS-CoV, spesimen dikirim ke Laboratorium Badan Litbangkes Republik Indonesia. Untuk menemukan viral shedding, dapat dilakukan pengambilan spesimen setiap 2-3 hari.

Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah untuk menilai viremia, swab konjungtiva bila ditemukan konjungtivitis, urine, tinja, dan cairan serebrospinal, apabila dicurigai adanya MERS pada urine, tinja, dan cairan serebrospinal.

Walaupun begitu, hasil yang didapatkan tidak selalu benar. Kualitas spesimen yang buruk, pengambilan yang terlalu dini atau terlalu lambat, spesimen dengan transpor dan penyimpanan yang tidak baik, serta adanya hambatan pada PCR atau mutasi virus dapat menyebabkan hasil negatif palsu.[2]

Pemeriksaan Darah Perifer

Pemeriksaan darah perifer tidak secara spesifik mendiagnosis MERS. Namun, untuk melihat keparahan dan komplikasi penyakit. Pemeriksaan laboratorium lainnya, seperti darah rutin dan analisis gas darah, dapat menunjukkan adanya sepsis dan ARDS pada pasien dengan MERS.[4]

Radiologi

Pada rontgen toraks dapat ditemukan adanya infiltrat, konsolidasi, serta gambaran Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

Studi oleh Cha et al melakukan penilaian foto toraks dengan sistem skoring. Beberapa komponen yang dinilai adalah adanya opasitas dan konsolidasi berdasarkan lokasi (atas, tengah, bawah paru kanan atau kiri). Pasien dengan skor ≥10 pada hari ke-10 infeksi virus MERS harus terus di follow-up dan diberikan terapi yang sesuai.

Studi tersebut menunjukkan bahwa foto toraks sebagai prediktor kegagalan napas pada pasien MERS CoV memiliki sensitivitas sebesar 57,1% dan spesifisitas sebesar 94,4% pada hari ke-10 infeksi dengan skor ≥ 10. Namun, terdapat keterbatasan pada studi ini, walaupun skor ≥ 10 memiliki angka kekuatan prediktif, tetapi secara statistik, hal tersebut tidak signifikan.[19]

Definisi Kasus MERS di Indonesia

Berdasarkan Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi MERS-CoV oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, definisi kasus MERS dibagi menjadi kasus dalam penyelidikan, kasus probabel, dan kasus konfirmasi.[2]

Kasus dalam Penyelidikan

Seseorang termasuk kasus dalam penyelidikan apabila ditemui infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang ditandai dengan demam (≥38oC), batuk, dan pneumonia berdasarkan gejala klinis maupun radiologis. Selain itu, pasien imunokompromais perlu diwaspadai karena gejala dan tanda mungkin tidak jelas.

Selain itu, terdapat salah satu dari kriteria di bawah, yaitu:

  • Memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah dalam 14 hari sebelum sakit, tetapi belum ditemukan penyebab
  • Adanya petugas yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien ISPA yang berat (severe acute respiratory infection/SARI), terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif, tetapi belum ditemukan penyebab
  • Adanya klaster pneumonia dalam periode 14 hari, tapi belum ditemukan penyebab
  • Adanya perburukan gejala klinis mendadak walaupun pengobatan tepat

Seseorang juga langsung dikategorikan sebagai kasus dalam penyelidikan apabila ia mengalami ISPA ringan atau berat, disertai kontak erat selama 14 hari dengan pasien dengan kasus konfirmasi maupun kasus probabel MERS.[2]

Kasus Probabel

Kasus probabel MERS dapat ditentukan apabila seseorang secara klinis, radiologis, atau histopatologi terbukti mengalami pneumonia atau ARDS dan memiliki hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS atau mempunyai riwayat tinggal/bepergian dari negara endemis 14 hari terakhir; tanpa melihat hasil/adanya pemeriksaan untuk MERS.[2]

Kasus Konfirmasi

Kasus MERS yang terkonfirmasi merupakan kasus infeksi MERS dengan hasil laboratorium yang positif.[2]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. World Health Organization (WHO). Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV), Fact Sheet. Geneva: WHO. 2025. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov)
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2017. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/Buku_Kesiagaan_MERS.pdf
4. Ramadan N, Shaib H. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV): A review. Germs. 2019 Mar 1;9(1):35-42. doi: 10.18683/germs.2019.1155.
5. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection when Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection is suspected. 2019. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/7ff560f7-a084-4f21-a722-ee060cacd05a/content
6. CDC. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). 2024. https://www.cdc.gov/mers/hcp/clinical-overview/index.html
13. Azhar EI, Hui DSC, Memish ZA, Drosten C, Zumla A. The Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Infect Dis Clin North Am. 2019 Dec;33(4):891-905. doi: 10.1016/j.idc.2019.08.001
14. Nguyen HH. Influenza. 2026. Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/219557-overview
15. Lim WS. Pneumonia—Overview. Reference Module in Biomedical Sciences. 2020:B978-0-12-801238-3.11636-8. doi: 10.1016/B978-0-12-801238-3.11636-8.
16. Alzayer Z, Al Nasser Y. Primary Lung Tuberculosis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567737/
17. Dumitru I. Heart Failure. Medscape. 2025. https://emedicine.medscape.com/article/163062-overview
18. Rabaan AA, Al-Ahmed SH, Sah R, et al. MERS-CoV: epidemiology, molecular dynamics, therapeutics, and future challenges. Ann Clin Microbiol Antimicrob. 2021 Jan 18;20(1):8
19. Cha MJ, Chung MJ, Kim K, Lee KS, Kim TJ, Kim TS. Clinical implication of radiographic scores in acute Middle East respiratory syndrome coronavirus pneumonia: Report from a single tertiary-referral center of South Korea. European journal of radiology. 2018 Oct 1;107:196-202

Epidemiologi Middle East Respira...
Penatalaksanaan Middle East Resp...

Artikel Terkait

  • Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
    Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
  • Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
    Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
  • Apakah Terapi Plasma Konvalesens untuk COVID-19 Masih Diperlukan?
    Apakah Terapi Plasma Konvalesens untuk COVID-19 Masih Diperlukan?
  • Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
    Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
  • Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
    Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 8 jam yang lalu
Cikunguyah
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Sore dok izin diskusiSaya kedatangan pasien permepuan usia 36 thn mengeluhkan 3 minggu yang lalu sempat demam ± 3hari ( sekarang sdh tdk demam) di sertai...
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 16 jam yang lalu
Ikuti e-Course ber SKP Kemenkes - Infeksi Soil-Transmitted Helminth dan Protozoa
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter! Link daftar: https://www.alomedika.com/ecourse/infeksi-soil-transmitted-helminth-dan-protozoa-usus  Link LMS:...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 24 Agustus 2026, 13:10
Acne bukan sekadar masalah kulit! Ikuti e-Course Update Terkini Acne Vulgaris: Dari Skincare hingga Terapi Sistemik
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter!Acne bukan sekadar masalah kulit— terapi terbaru dapat mengubah cara Anda memilih kombinasi terapi untuk setiap pasien.Segera daftar dan ikuti...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.