Epidemiologi Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
Data epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) terus menurun. Sebagian besar kasus baru dalam periode tahun 2022 hingga 2026 ditemukan di Saudi Arabia.[12]
Global
Hingga 5 Januari 2026, WHO telah menerima laporan 2.635 kasus MERS terkonfirmasi laboratorium dari 27 negara di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Sebagian besar kasus berasal dari Saudi Arabia, yaitu sebanyak 2.224 kasus (84% dari seluruh kasus global).
Sejak awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020 terjadi penurunan tajam jumlah kasus MERS yang dilaporkan. Pada periode 2016–2019 tercatat 879 kasus (rerata 220 kasus per tahun), sedangkan sejak 2020 hingga Januari 2026 hanya dilaporkan 124 kasus (rerata 21 kasus per tahun). Meski demikian, WHO menilai risiko penularan MERS-CoV masih berada pada tingkat moderat karena virus tetap bersirkulasi secara terbatas, terutama di kawasan Timur Tengah.
Dalam periode sejak pembaruan WHO terakhir pada November 2022 hingga 5 Januari 2026, dilaporkan 36 kasus baru MERS dari 4 negara, yaitu:
- 32 kasus dari Saudi Arabia
- 2 kasus dari Perancis
- 1 kasus dari Uni Emirat Arab
- 1 kasus dari Oman
Dari kasus-kasus tersebut, 14 pasien meninggal dunia (39%), seluruhnya berasal dari Arab Saudi. Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (83%), dengan median usia 60 tahun, dan sekitar 75% memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau gagal ginjal kronis.
Penularan zoonotik dari unta dromedaris tetap menjadi sumber utama infeksi manusia, sementara transmisi antar manusia masih terbatas dan terutama terjadi di fasilitas kesehatan. Hal ini tercermin dari ditemukannya 3 klaster terkait pelayanan kesehatan di Arab Saudi pada tahun 2024–2025 yang melibatkan total 12 kasus.
Selain itu, terdapat tiga kasus terkait perjalanan internasional dengan paparan di Timur Tengah, termasuk dua kasus yang terdiagnosis di Prancis pada tahun 2025, namun pelacakan kontak tidak menemukan adanya kasus sekunder sehingga menunjukkan bahwa penularan berkelanjutan di komunitas masih jarang terjadi.[12]
Indonesia
Belum ada data mengenai angka kejadian MERS-CoV di Indonesia. Namun, masyarakat Indonesia memiliki risiko terkena MERS saat bepergian ke Arab Saudi bertujuan untuk menunaikan ibadah haji, ibadah umrah, ataupun menjadi tenaga kerja di Arab Saudi. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan lebih lanjut.[2]
Mortalitas
Sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 2012, MERS telah menyebabkan 964 kematian. WHO melaporkan bahwa case fatality ratio (CFR) dari MERS adalah sebesar 37%. Ini berarti bahwa meskipun penyakit ini semakin menurun angka kejadiannya, tingkat keparahan penyakit ini masih tinggi.[12]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha