Prognosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
Prognosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS) memburuk seiring bertambah usia dan tingkat keparahan penyakit penyerta pada pasien. Tidak hanya itu, dengan adanya komplikasi, pemberian terapi yang tidak adekuat, serta komorbid yang banyak prognosis MERS juga semakin buruk.[3,4,11,12,18]
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering adalah pneumonia berat yang dapat berkembang menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS), suatu kondisi gagal napas akut akibat kerusakan luas pada paru-paru sehingga pasien memerlukan terapi oksigen intensif atau ventilasi mekanik.
Selain gangguan pernapasan, MERS juga dapat menyebabkan syok septik. Risiko komplikasi berat lebih tinggi pada lansia serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi, dan penyakit ginjal kronis.
Selain komplikasi paru, MERS dapat menimbulkan disfungsi multiorgan, terutama gagal ginjal akut. Komplikasi lain yang dapat terjadi meliputi gangguan neurologis yang jarang tetapi serius, termasuk ensefalitis, kejang, stroke, gangguan kesadaran, dan neuropati
Lebih lanjut, MERS memiliki case fatality rate yang tinggi, yaitu secara global mencapai sekitar 37%. Hal ini mencerminkan besarnya risiko komplikasi berat dan kegagalan multiorgan yang dapat terjadi pada infeksi ini.[1-4,12,20,23]
Prognosis
Sampai saat ini, prognosis MERS masih buruk, dengan tingkat fatalitas global sebesar 37%. Prognosis lebih buruk diasosiasikan dengan usia >60 tahun, merokok, riwayat pneumonia, fungsi ginjal abnormal, dan komorbiditas.
Selain itu, adanya perubahan status mental, hipoalbuminemia, dan pneumonia berat pada saat masuk rawat inap juga merupakan faktor-faktor yang berisiko menyebabkan mortalitas pada pasien MERS.[3,12]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha